Pagi hari, pukul 06.30, sosok renta itu terbangun, keluar kamar tidur, lalu turun ke dapur. Setelah menjerang sedikit air, dia menyeduh kopi kesayangan. Ini semacam ritual khidmat sebelum dirinya tenggelam dalam timbunan bacaan dalam koran di teras depan.

ROSIHAN ANWAR. Begitulah kebiasaan sehari-hari salah satu tokoh besar sejarah dunia pers Indonesia. Sepanjang hidupnya, Rosihan Anwar seringkali melakukan aktivitas tersebut untuk mencicipi hidangan sepotong sejarah, yang pada akhirnya menjadi karya bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

Peneliti Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam, dalam buku Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia volume 4 karya Rosihan Anwar, mengatakan, Rosihan Anwar sejatinya bukanlah wartawan, melainkan penulis yang berjasa memopulerkan sejarah di tengah masyarakat.

Penilaian tersebut bukan tanpa alasan. Sejarah mencatat, semasa hidupnya, pria kelahiran 10 Mei 1922 itu memiliki misi mencerahkan pemikiran atau menunjukkan jalan, bukan malah untuk mengeruhkan, menyesatkan atau bahkan menjerumuskan.

Rosihan Anwar menulis sebagai panggilan hidup, bukan cara untuk bertahan hidup. Jika melihat pengalaman, kita takkan bisa menyangkal Rosihan Anwar laik dicap sebagai pahlawan Indonesia. Oleh karena itulah, ia juga dijuluki “Wartawan Enam Zaman”, mengacu pengalamannya dalam dunia pers Indonesia.

Rosihan Anwar memulai karier menjadi wartawan sejak zaman Jepang hingga Reformasi. Ia pernah menjadi Pemimpin Redaksi Surat Kabar Pedoman selama dua periode (1948-1961 dan 1968-1974). Pedoman sempat terbit pada Orde Baru, sebelum pada akhirnya kembali diberedel pada 18 Januari 1974.

Berbagai masalah tersebut tidak membuat Rosihan Anwar patah arang. Ia kemudian menjadi penulis lepas di berbagai media Indonesia dan luar negeri hingga akhir hayat menjemputnya pada Kamis, 14 April 2011. Meski tidak menulis di surat kabar miliknya sendiri, karya-karya Rosihan Anwar tetap diakui memiliki pengaruh sangat besar dalam sejarah Indonesia.

“Saya berguru kepada beliau. Beliau suka membaca, ingatannya tajam, dan independen. Beliau penulis yang lancar sekali, bahkan punya kecenderungan sebagai sastrawan dengan bahasa bergaya indah dan kaya ungkapan,” ujar Jakob Oetama, pemilik Grup Kompas Gramedia.

ROSIHAN
Rosihan Anwar (kanan) bersama Jakob Oetama (kiri). (Dok. Cabiklunik.Blogspot).

Digital

Enam tahun sudah Rosihan Anwar telah meninggalkan kita. Puluhan tahun pula karya-karyanya tersimpan kekal dalam perjalanan bangsa Indonesia. Karya yang kiranya, untuk saat ini, menjadi barang langka.

Ya, bicara soal kebebasan pers, Indonesia memang sedang mengalami masalah sangat kompleks di tengah era digitalisasi. Sudah banyak hasil riset mengenai arah perubahan karakteristik pembaca era milenial hingga konvergensi media. Bahkan, ada pula yang memprediksi media-media cetak sedang memasuki era “senjakala”, dan media online adalah calon raja.

Bagi media online, bisa dibilang pageview adalah segalanya. Pageview pulalah yang membuat mayoritas berita portal berorientasi mendatangkan pengunjung sebanyak-banyaknya. Hal itu membuat karakteristik pemberitaan dengan judul-judul bombastis dan provokatif, atau sederhananya click bait, merupakan salah satu jenis berita yang paling “dimakan” masyarakat.

CBI
Ilustrasi clikbait dalam dunia digital. (dok. http://nativeadvertising.com).

Kita tidak bisa menahan derasnya arus era digital seperti saat ini. Toh, andai melihat sisi positifnya, masyarakat tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu mendapatkan informasi. Seiring perkembangan teknologi, masyarakat pun hanya butuh menggunakan ponsel pintarnya melakukan hal itu.

Akan tetapi, justru di sinilah persoalan utama dunia pers Indonesia. Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh. Pada periode Pemilihan Presiden (Pilpres) Indonesia 2014, misalnya.

Ketua Dewan Pers Indonesia, Yosep Adi Prasetyo pun mengakui, asal muasal merebaknya pemberitaan hoax terjadi menjelang Pileg dan Pilpres. “Di luar itu, ada media buzzer. Mereka buat situs berita dan di-follow up di medsos. Lalu ada media abal-abalan. Apakah itu akan dibiarkan,” kata Yosep.

Pernyataan Yosep itu semakin menegaskan perlunya pagar dari Dewan Pers terhadap derasnya aliran media-media online. Bahkan kalau perlu mengkaji ulang peraturan-peraturan pemerintah mengenai Undang-Undang Pers di Indonesia. Toh, Amerika Serikat, yang juga memiliki sejarah panjang mengenai kebebasan pers, mulai “gerah” terhadap maraknya berita-berita hoax. Lihat saja saat negeri Paman Sam menggelar Pilpres 2016.

Edukasi

Sejatinya, media pers memiliki fungsi utama sebagai check and balances untuk pemerintah. Namun, kini hal tersebut seakan memudar. Untuk mengatasinya, kesadaran dari pemerintah untuk segera mengedukasi masyarakat agar mengerti peran kebebasan pers yang sejak beberapa tahun lalu didengungkan perlu ditingkatkan.

The Knight Commision dalam laporannya Informing Communities Sustaining Democracy in the Digital Age, 2009, menuliskan, demokrasi masyarakat yang sehat pada era digital dicirikan, publik yang memahami secara mendalam fungsi dan hak pers yang bebas, publik yang bisa menilai dan melacak perubahan-perubahan informasi yang sehat dalam komunitas mereka.

AKSI KAMPANYE ANTI-HOAX
Aksi kampanye anti-hoax. (Tirto.id).

Faktanya sekarang? Rasanya sulit apabila kita mengatakan demokrasi kebebasan pers di Indonesia sudah sehat. Bahkan, bisa menjadi semakin mengerikan, karena media sosial, yang memiliki fungsi utama untuk berkomunikasi dan berdialog secara bebas, justru bertansformasi menjadi ladang subur pertumbuhan parasit-parasit dalam kehidupan berbangsa.

Data Dewan Pers 2015, seperti dikutip Harian Kompas edisi 2 Februari 2017, mencatat, saat ini terdapat 1.265 perusahaan pers radio, televisi, dan online yang berbadan hukum, dengan rincian 674 radio, 523 televisi, dan 68 online. Namun, Dewan Pers memperkirakan perusahaan online, baik yang berbadan hukum atau tidak, jumlahnya lebih banyak dari yang didata. Hal ini pun memunculkan pertanyaan, untuk apa itu semua?

Pada akhirnya, kita juga kiranya bisa kembali berandai-andai:  Bagaimana reaksi Rosihan Anwar jika setiap pagi, sembari menyeruput kopi, melihat kebebasan pers Indonesia yang sudah semakin kebablasan seperti saat ini?

Hiduplah dalam damai, Pak Rosihan Anwar…

Advertisements