Krakatau adalah legenda. 134 tahun lalu, mendadak pulau dengan isi hutan lebat berlatar belakang gunung raksasa dua puncak itu menggegerkan dunia. Bukan karena kemolekannya, melainkan bencana yang pada akhirnya menjadi salah satu warisan dalam sejarah peradaban manusia.

SENIN, 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus dahsyat. Menurut catatan geolog Universitas Oxford Inggris, Simon Winchester, dalam Krakatoa: The Day the World Explode, letusan tersebut menimbulkan awan panas setinggi 70 kilometer dan tsunami 40 meter. Setidaknya 36.417 juta jiwa tewas, dan 165 desa luluh lantak akibat bencana tersebut.

Dunia pun menjadi gelap. Abu Gunung Krakatau menyebar ke beberapa pelosok dunia negara. Bahkan, di Amerika Utara dan Eropa, cahaya matahari pasca-letusan Krakatau dikabarkan berwarna biru, sedangkan sinar bulan pada malam hari menjadi oranye.

Sebelum letusan 1883, wilayah Krakatau merupakan sebuah kelompok pulau-pulau yang terdiri dari Pulau Sertung, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Rakata sebagai pulau utama dengan tiga gunung api aktif, yaitu Gunung Rakata, Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan.

Sebenarnya, jauh sebelum Pulau Krakatau muncul, menurut catatan Escher (1919), lalu dilengkapi Adjat Sudrajat (1981), “nenek moyang” Gunung Krakatau pernah hidup dalam bentuk utuh, namun diperkirakan meletus dan hampir seluruh tubuhnya tenggelam pada abad ketiga. Peneliti Belanda Verbeek, dalam The Krakatoa Eruption melaporkan aktivitas terakhir sebelum 1883 adalah letusan-letusan kecil Gunung Perbuwatan pada 1680.

KRAK
Ilustrasi meletusnya Gunung Krakatau pada 1883 dalam Harpeys Weekly. (Dok. Mentalfloss.com).

Pada 1881, ketiga gunung tersebut kembali menunjukkan aktivitasnya. Pada Mei, seorang raja dari Banten yang kembali dari perjalanannya ke Pulau Krakatau, mengambarkan pulau itu tengah terbakar. Sejak bulan itu, terus terjadi periode letusan hingga 19 November yang membuat pemandangan asap menyebar hingga arak bermil-mil.

Neumann van Padang dalam laporannya berjudul History of volcanology in the East Indies, menuliskan, letusan Krakatau 1883, pertama kali ditandai keluarnya awan abu dan uap dari Gunung Perbuatan. Abu dan Uap itu menjulang hingga mencapai ketinggian 1100 km. Dentumannya terdengar jauh lebih dari 200 km. Pada Juni, Gunung Danan ikut beraksi. Letusan meningkat di tengah hari dan mencapai puncaknya pada Senin, 27 Agustus 1883.

Rawan Bencana

Sejarah besar letusan Gunung Krakatau menyadarkan kita sebagai setiap insan, bangsa memang tidak pernah memilih lokasi negara. Jepang, selama berabad-abad hidup di atas negeri yang setiap kali diguncang gempa, dan juga tsunami. Kata “Tsunami” pun menjelaskan dengan gamblang, bencana itu adalah khas Jepang.

Amerika tak ketinggalan. Negara adidaya itu tidak memilih untuk tinggal di atas negeri yang setiap kali dilanda badai Tornado, atau misalnya, di negara bagian California, yang seringkali mendapat gempa lantaran berada di Patahan San Andreas. Pun dengan Iran yang berkali-kali mengalami gempa, atau Bangladesh yang sering dilanda banjir dan topan tropis.

Indonesia juga sama. Kita hidup di bumi yang terpapar luas terhadap fenomena alam yang mudah menimbulkan bencana. Salah satu faktornya, negeri ini berada di atas kulit bumi yang merupakan titik pertemuan sejumlah lempeng patahan. Belum lagi jika berbicara, Indonesia berada di wilayah yang sering disebut Ring of Fire karena terdapat sekitar 130 gunung merapi yang setiap saat bisa meletus kapan saja.

ROF
Peta lokasi Ring of Fire. (Dok. redorbit.com).

Melihat fakta rawan bencana di atas, beberapa sikap memang perlu dikembangkan pemerintah, atau bahkan dari masyarakat Indonesia. Konsekuensinya adalah kita harus mau mengerjakan pekerjaan rumah yang dituntut oleh realitas geologis Indonesia, yang begitu kaya dengan sejarah-sejarah besar pada masa lalu.

Akan tetapi, janganlah kita lupa, setiap bencana telah tercatat membuat perubahan besar dalam sejarah peradaban manusia di Indonesia. Sejarawan Indonesia, Sartono Kartodirdjo, dalam buku Pemberontakan Petani di Banten 1888, menuliskan salah satu contoh. Menurut dia, bencana Krakatau menambah derita rakyat yang sejatinya sudah sengsara akibat ekonomi kolonial selama ratusan tahun silam.

“Letusan Gunung Krakatau menyebabkan luas tanah yang tidak dapat digarap menjadi lebih besar lagi, terutama di bagian barat Afdelling Caringin dan Anyer,” demikian tulis sejarawan terkemuka Indonesia tersebut. Kondisi itulah yang pada akhirnya menjadi benang merah gerakan sosial-keagamaan untuk melawan Belanda.

banten

Dua bulan setelah letusan Krakatau, kerusuhan pecah di Serang. Dalam buku Pemberontakan Petani di Banten 1888, disebutkan satu serdadu Belanda ditikam, dan pelakunya kabur di tengah keramaian. Kejadian ini terus berulang dan rentetan perlawanan terhadap Belanda menjadi pemincu kemunculan pemberontakan petani di Banten pada Juli 1888.

Peter Carey, dalam karyanya Kuasa Ramalan, juga menuliskan, letusan fenomena alam membangkitan harapan rakyat akan datangnya Ratu Adil menjelang pecahnya Perang Jawa. Sejarawan asal Inggris itu menggambarkan, Pangeran Diponegoro tersenyum lebar ketika menyaksikan Gunung Merapi 1822 meletus di Jawa karena menganggap peristiwa tersebut adalah indikasi amarah Yang Kuasa terhadap penindasan yang dilakukan Belanda. Pada akhirnya, Perang terhadap Belanda meletus.

Sejarah Alam

Kini, semuanya akan kembali ke kesadaran kita sebagai penghuni negara bernama Indonesia. Sudah lama, Soekarno melontarkan jargon “Jas Merah–Jangan sekali-sekali melupakan sejarah”. Salah satu dosen tempat saya menimba ilmu pernah berucap dalam sebuah perkuliahan, “Sejarah itu berulang, dan sejarah dibuat untuk memproyeksikan masa depan yang lebih baik.”

Ucapan itu pernah membuat saya tertegun sembari melontarkan ingatan berapa banyak bencana di negeri ini yang sudah terekam jelas dalam sejarah. Saya pernah menuangkannya dalam artikel berjudul “Kelud, Sejarah, dan Penyakit Lupa Bangsa Indonesia”, di Kompas.com, 24 Februari 2014.

Letusan Gunung Krakatau Purba, atau bencana-bencana lain yang terjadi belum lama ini, seperti Tsunami Aceh 2004, meletusnya Gunung Merapi 2010, atau letusan Gunung Kelud 2014, merupakan sedikit di antara bencana yang sudah terjadi. Apa ini merupakan tanda ada yang salah dalam diri kita sendiri atau mungkin dalam kehidupan berbangsa di Indonesia?

Immanuel Kant, dalam buku Worldview: The History of Concept karya David K Naugle, mengatakan, perluasan istilah persepsi wawaan dunia seseorang bukan hanya dari pemahaman pancaindra seseorang terhadap hukum alam semata, melainkan juga berhubungan dengan kategorisasi pengalaman moralnya.

KANT
Ilustrasi Immanuel Kant. (Dok. moralapologetics.com).

Pada akhirnya, sejarah akan menjadi interaksi antara alam dan hukumnya yang tidak terduga, dan merupakan “akibat” dari perbuatan manusia yang dilakukan secara sadar atau rasional. Jika melalaikan interaksi itu, menurut Kant, manusia bisa “dibarbarkan” oleh alam.

Terlepas berbicara soal bencana alam, saat ini Indonesia juga sedang dilanda “bencana” dari berbagai kasus korupsi. Bahkan, berbagai kasus korupsi di negeri ini sudah tidak lagi masuk ke ranah sosial politik atau ekonomi belaka, melainkan olahraga hingga agama!

Daripada mencari kambing hitam yang tak akan jelas arahnya, baiknya kita renungkan apakah kita sudah benar-benar baik menjadikan sejarah alam sebagai bahan pertimbangan. Toh, banyak ketidakseimbangan antara hukum alam dan perilaku manusia. Di tengah banyaknya ketidakseimbangan itulah, fakta beragam bencana dalam bentuk gempa, tsunami, banjir, pembunuhan, pertikaian, hingga korupsi, terus terjadi dalam negeri ini.

Bencana memang tetaplah sebagai bencana. Namun, terlepas dari masalah tersebut, bencana kiranya layak dipahami sebagai “wahyu”, ada relasi tak harmonis antara setiap insan dan alam. Banyak bukti, peringatan yang tercatat dalam sejarah, tetap kita lalaikan dan tidak kita hormati. Kita sejatinya tentu tidak akan bisa membantah “tuduhan” alam.

Jika ingin membantah, meminjam teori Immanuel Kant, alam justru hanya akan semakin memojokkan kita untuk menerima kemurkaan atas tindakan “barbar” yang telah terjadi hingga dewasa ini. Berbagai kasus pembunuhan, misalnya, atau kekerasan, hingga korupsi yang dari hari ke hari semakin menjadi-jadi.

Kita hanya perlu bertanya singkat: Jika ratusan lalu Indonesia pernah merasakan letusan Gunung Krakatau yang melegenda, apakah mungkin akan ada kejadian serupa? Toh, kita tidak akan pernah tahu seberapa besar kekuatan dan kapan Gunung Anak Krakatau meletus.

Sekarang yang bisa kita lakukan hanya berdoa, sembari berharap berbagai hikmah sejarah jangan sampai ditelan “penyakit lupa” yang sepertinya diidap bangsa ini, entah sampai kapan.

Merdeka!

Advertisements