MATAHARI bulan Juli berkelebat menerobos jendela kereta api, dan bayang-bayangnya berkejaran di lintasan rel. Di balik kaca jendela terhampar pemandangan nan istimewa. Pemandangan yang menjadi awal cerita lawatan saya ke kota kelahiran sang legenda, Zinedine Zidane.

Perjalanan dari Paris ke Marseille dengan kereta api cepat TGV (Train Grande Vitesse) diperkirakan memakan waktu kurang lebih tiga setengah jam. Panorama indah membuat hati yang memandangnya kian merekah. Belum lagi, dalam setengah perjalanan, posisi kereta bersisian dengan Laut Mediterania.

Hanya dalam waktu satu jam, Kota Paris hilang dari pandangan. Sejauh mata memandang, terhampar laut biru dengan pasir putih dan pedesaan yang terlihat kian damai. Meskipun sinar terlihat cukup terik, masih banyak orang lalu lalang yang berburu matahari.

Mendekati Kota Versailles, pemandangan berubah drastis. Rel kereta api berkelok-kelok mengikuti kontur gunung-gunung dan ladang yang membuat mata kian tergiur. Kecepatan kereta pun sesekali diperlahan ketika gerbong TGV melewati jembatan besi yang melintas sungai.

078057100_1467586784-2
Papan petunjuk Stasiun St Charles yang terletak di Marseille, Prancis, Minggu (3/7/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna).

Permukaan air yang tenang dan memantulkan warna keperakan mau tak mau membawa ilusi tentang alam desa yang damai. Tak berselang lama, jalan kereta melambat, menandakan ketibaan saya di stasiun Marseille Saint Charles, yang merupakan stasiun kereta api utama Marseille.

Imigran
Wajah Marseille memang begitu beragam. Penyebabnya, tak lain adalah imigran. Warga keturunan Arab, Italia, Afrika Utara, China, India, dan Turki mudah ditemui di kota berpenduduk 850 ribu jiwa tersebut. Bahkan di sudut-sudut kota, komunitas yang khas silih berganti.

Awalnya, saya sempat merasa berada di permukiman imigran Muslim yang ditandai dengan banyaknya mushala dan toko buku Islam. Namun, tak lama kemudian suasana seperti berubah laiknya berada di permukiman imigran Nasrani yang ditandai dengan gereja- gereja tua.

Keanekaragaman di Marseille pun seakan ingin membuktikan kota itu terbuka bagi pendatang dari mana pun sejak dahulu. Menurut catatan sejarah, komunitas Muslim yang pertama kali datang ke Marseille adalah para pedagang, atau saudagar Turki dan Arab sekitar 1906.

Namun, mereka tidak berniat untuk tinggal dalam waktu lama di Marseille. Menurut Black France: Colonialism, Immigration, and Transnationalism, karya David Thomas, gelombang imigran meningkat pesat setelah Perang Dunia I dan II, karena dibutuhkan Prancis sebagai tenaga kerja.

Para imigran lalu menetap hingga era sekarang. Karena itulah Marseille kini dianggap sebagai “kampung”-nya pendatang di Prancis. Kampung yang juga menjadi tempat anak-anak imigran tumbuh besar, termasuk bagi sang legenda sepak bola mereka, Zinedine Zidane.

Zidane dan Bisnis Besar La Castellane

SULIT membayangkan Kota Marseille pernah hancur dibombardir Nazi ketika Perang Dunia II. Jerman yang menduduki Marseille, menurut catatan sejarah, merusak hampir seluruh bangunan agar tidak bisa digunakan sebagai tempat persembunyian kelompok pemberontakan.

Namun, kini jejak kehancuran itu kini seakan menghilang. Di beberapa sudut kota, arsitektur Marseille dari sisa-sisa peninggalan Yunani dan Romawi masih bisa ditemukan. Di dekat Vieux Port, misalnya, yang dihiasi beberapa benteng pertahanan, potongan jalan, dan sebidang sisa dermaga tua.

Untuk mengetahui keberadaan sisa-sisa peninggalan sejarah lebih menyenangkan menelusuri kota dengan berjalan kaki. Kondisi jalan yang turun naik karena kondisi geografis yang berbukit-bukit menjanjikan pemandangan yang indah dengan pantulan sinar matahari di permukaan air.

Di dermaga, bukan lagi dipenuhi kapal-kapal pedagang, melainkan pesiar yang berjejer rapi. Di seberang bibir pelabuhan berjejer restoran dan kafe yang menawarkan berbagai macam makanan, baik khas Marseille yang serba seafood sampai aneka makanan junkfood.

086737200_1467587080-5

Situasi pinggir pelabuhan ini bakal jauh lebih indah pada malam hari. Namun, sayang di balik nikmat “surgawi” itu, terselip anomali. Sebab, Marseille saat ini juga dikenal sebagai kota dengan tingkat kriminalitas tinggi. Wajar jika kota tua ini sempat disebut Chicago-nya Prancis.

Jika di AS ada Al-Capone, di Marseille, para penjahat kelas teri hingga mafia narkoba kelas berat-lah yang tak jarang berurusan dengan polisi. Suasana berbeda pun terasa begitu saya menginjakkan kaki di wilayah La Castellane, yang berjarak 9,1 kilometer dari area Vieux-Port.

Sempit
Bus 25 jurusan St Antoine yang saya tumpangi dari stasiun Bougainville berhenti di halte Barnier Giroud. Menurut peta elektronik, La Castellane dapat ditempuh dengan berjalan kaki karena berjarak hanya 190 meter.

Setelah kurang lebih berjalan selama dua menit dari halte Barnier Giroud, tibalah saya di depan halte bus La Castellane. Suasana pun terasa sepi, hanya ada kendaraan lalu lalang di dua sisi jalan dan satu dua orang warga imigran sedang duduk-duduk di bangku taman.

Jalan di kompleks La Castellane pun terasa sempit dan berliku. Apartemen-apartemen berlantai empat di sisi jalan berjejer menjadi satu. Warga sekitar pun terkesan tak bersahabat dengan “orang baru”. Boro-boro memberi senyum, jika ditanya saja mereka biasanya hanya berlalu.

023664000_1467590327-1
Pengunjung memadati kawasan Pelabuhan Vieux Port yang terletak di Marseille, Prancis, Minggu (3/7/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna).

Pada saat melanjutkan perjalanan, saya juga menemukan beragam kekontrasan. Seperti berpapasan dengan wanita berbaju kurung tertutup dari kepala hingga ujung kaki, sementara tak jauh dari situ ada pula wanita-wanita berpakaian minim berkumpul sembari tertawa-tertiwi.

Narkoba
“Oh, rumah Zidane? Anda lurus saja, lalu belok kiri dan akan melihat bangunan tinggi,” ujar Asyad, salah satu warga La Castellane, yang berhasil dimintai informasinya olehBola.com. Awalnya, saya mencoba mencari tempat tujuan sendiri, namun terdengar suara bantuan dari Asyad.

“Ayo ikut saya,” ujar pria berdarah Senegal itu. Sembari menentang tas belanjaan, dia mencoba memandu saya menaiki beberapa anak tangga di salah satu apartemen La Castellane.

Sesampainya di bagian atas, suasana terasa berubah karena terlihat beberapa raut tak ramah dari warga. Asyad yang awalnya cukup “bersahabat” seketika berubah begitu melihat mereka. “Di sana,” kata dia sembari menunjuk salah satu bangunan apartemen. Setelah itu, dia pergi.

Di beberapa sudut apartemen terlihat sekelompok pria sedang mengobrol. Dari wajah tampaknya mereka adalah imigran dari Afrika Utara. Rasa penasaran pun akhirnya membuat kaki berani melangkah ke bangunan apartemen yang ingin dituju.

Pada September 2015, kepolisian Marseille sempat melakukan razia narkotika besar-besaran di La Castellane. Menurut The Guardian, lebih dari 1,3 juta euro sempat ditemukan di salah satu apartemen di wilayah tersebut ketika penggerebekan jaringan narkoba pada 2013.

053168700_1467589489-la

Voxeuro juga mencatat, pada 2010, ada 54 kasus pembunuhan di Marseille, termasuk 17 di antaranya terkait jaringan narkoba. Satu tahun kemudian, tercatat ada 38 kasus pembunuhan di La Castellane, dengan 20 di antaranya disebabkan masalah pertikaian geng narkoba.

Sejumlah praktik kejahatan itu akhirnya membuat pemerintah Marseille memberikan label La Castellane zona merah. Memang sungguh ironi. Sebab, di daerah itulah Zidane lahir dan tumbuh besar sehingga dapat menjadi seorang maestro sepak bola dengan berbagai raihan gelar.

Bertemu Geng Narkoba di Kampung Zidane

LA CASTELLANE kini bisa dibilang seperti tempat tanpa harapan. Kekerasan, pemerkosaan, pertikaian, hingga pembunuhan, membuat setiap insan yang hidup harus menjalani hidup yang keras. Demikian bagi Zidane yang harus melalui jalan penuh duri di wilayah gheto tersebut.

Zidane lahir di La Castellane dari pasangan Smail Zidane dan Malika, pada 1972. Semasa kecil, ia sering menghabiskan waktu dengan bermain sepak bola di jalanan. Tiang gawang dibuat sederhana dari batu-batu atau sandal, sementara piala dibentuk dari botol bekas yang berserakan.

Bangunan kediaman Zidane ternyata memang sudah tak tersisa lagi. Pada Maret 2015, bangunan 4D, yang menjadi rumah keluarga mantan pemain Juventus dan Real Madrid tersebut, sempat dibongkar sebagai bagian dari proyek pembangunan pemerintah kota Marseille.

091396700_1467669968-halter_copy
Halte La Cestellane, wilayah yang menjadi tempat kelahiran legenda sepak bola Prancis, Zinedine Zidane. (Bola.com/Ary Wibowo).

Jangan bayangkan apartemen La Castellane sama seperti di Prancis lainnya. Tempat tinggal di La Castellane memang jauh dari kesan mewah. Sampah-sampah berserakan dan motor dan mobil diparkir sembarangan. Pun halnya dengan warga yang tak ramah dengan “pendatang”.

Geng narkoba
“Zidane!” salah satu warga meneriakan kalimat itu begitu saya melintas di depan mereka. Namun, tiba-tiba terdengar teriakan dari salah satu rekannya. Tangan pria tersebut kemudian berkali-kali menunjuk ke salah satu rekannya yang lain di lantai dua apartemen 5D.

Ternyata, penyebabnya karena kamera yang ditenteng rekan peliput asal Indonesia. Dengan memakai bahasa Prancis, salah seorang warga seperti mengisyaratkan, daerah mereka tidak boleh dipotret. Suasana pun kian panas begitu rekannya yang lain juga ikut berlari.

“Berikan kamera Anda!” kata dia dengan suara lantang. Karena perbedaan bahasa, meski sudah dijelaskan maksud kedatangan, pria itu tetap berupaya mengambil kamera. Ia lalu meminta agar foto-foto di La Castellane yang sempat diabadikan saat bertemu Asyad segera dihapus.

Meski sudah menuruti permintaan tersebut, tangan pria itu kemudian tetap mengambil kamera peliput asal Indonesia dan meminta kami ikut ke “markas” mereka. Suasana pun semakin mencekam ketika beberapa pria, sembari menutup setengah muka dengan kaus mereka, ikut serta.

Dilarang Foto

SAAT tiba di lantai dua, terlihat tiga pria sudah berkumpul. Muka mereka terlihat gahar. Beberapa rekannya terlihat bolak-balik masuk ke salah satu ruangan di sudut jalan lantai dua apartemen. Di samping pintu, terdapat bangku plastik dan televisi layar kecil di atas meja kayu.

“Anda tidak boleh foto di sini,” tegas salah satu geng kelompok tersebut. Beruntung, setelah kurang lebih selama lima hingga 10 menit “bernegosiasi” dengan mereka, kamera yang sempat diambil pun dikembalikan, plus kartu memori dan baterai yang tak juga sempat juga disita.

“Benar tidak ada foto lagi? Anda yakin? Anda yakin?” tanya salah satu anggota geng yang lain. Kemudian, dari kejauhan, sesosok pria kembali menghampiri kami. “Coba jelaskan, Anda dari mana dan mau apa?” ujar pria tersebut, dengan memakai bahasa Inggris terbata-bata.

Begitu mendengar nama “Zidane”, pria berpostur tinggi kurus itu langsung menggeleng-gelengkan kepala. “Zidane sudah tidak ada di sini. Di sini adalah tempat bisnis besar. Anda tidak boleh bermain-main,” ujar dia.

Usai percakapan tersebut, pria itu mengambil sesuatu dari selipan pinggang celananya, kemudian seperti memeragakan sedang menembak sesuatu. Menurut dia, jika ada sesuatu yang tidak beres di area La Castellane, anggotanya tidak segan untuk bertindak lebih jauh.

Meski begitu, suasana mencekam sedikit mereda setelah kedatangan pria tersebut. Maklum, di antara kelompok geng lain, hanya dia yang cukup lancar berbahasa Inggris. Ia pun kembali menerangkan, “Dulu Zidane memang di sini, tetapi sekarang dia sudah di sana (Spanyol). Dia sudah kaya.”

Tembakau
Pria yang diketahui bernama Syaid tersebut mengungkapkan, warga La Castellane memang sangat waspada dengan orang asing yang datang, apalagi mengambil foto. Sebab, mereka tidak ingin razia narkotika di tempat itu kembali terjadi karena adanya intel kepolisian Marseille.

Terkait persoalan intel kepolisian memang cukup terasa ketika kami berhasil “bernegosiasi” soal kamera yang sempat disita. Ketika ingin memasukkan ke dalam tas, salah satu anggota geng sempat membersihkan kamera dengan kausnya seperti ingin menghilangkan sidik jari mereka.

“Teman saya sudah banyak yang tewas karena mereka,” Syaid melanjutkan perbincangan yang berlangsung di saat perjalanan menuju tangga keluar apartemen. “Zidane sekarang sudah kaya. Dia pergi (ke Spanyol) kemudian membawa keluarganya dan tidak pernah ke sini lagi.”

Begitu sampai anak tangga terakhir, Syaid menghentikan langkah. “Anda dari mana? Indonesia?” tanya dia lagi. Saat menegaskan jawaban tersebut, saya lalu sempat mengeluarkan sebungkus rokok kretek dari kantung celana dan kemudian menawarkan kepadanya.

Good, man. Ok, good afternoon. Bye,” kata dia singkat. Pada akhirnya, tembakau Indonesia itulah yang menjadi penutup pertemuan dengan salah satu geng narkoba terbesar di La Castellane, yang juga menjadi tempat Zidane, sang maestro sepak bola dunia menghabiskan masa kecilnya.

*Tulisan dibuat dalam rangkaian kegiatan penulis saat meliput Piala Eropa 2016 Prancis. Berita dapat dilihat juga dalam versi bersambung melalui Bola.com.

Advertisements