Prostitusi di Balik Gempita Piala Eropa

JARUM jam di tangan menunjukkan pukul 11 malam, saat kereta api bawah tanah yang saya tumpangi berhenti di Stasiun Etienne Marcel, Paris, Prancis. Sebagian penumpang berhamburan keluar, sementara hanya segelintir yang masuk untuk menuju tempat tujuan.

Hanya butuh waktu 10 menit untuk keluar lorong stasiun dan tiba di Rue Saint-Denis, salah satu jalan tertua dalam perjalanan sejarah Prancis. Rue Saint-Denis lebih kurang mirip dengan Legian, di Bali. Ruas jalan tidak terlalu lebar, hanya satu arah bagi kendaraan yang melintas.

Hawa dingin pun langsung menusuk tulang begitu berada di ruang terbuka jalan tersebut. Maklum, meski sudah memasuki musim panas, beberapa wilayah di Prancis sejak beberapa pekan terakhir sering diguyur hujan. Jadi, suhu udara pada malam hari berkisar 15-18 derajat celsius.

Warna-warni dari neon nama-nama toko menyala terang. Lampu-lampu jalan berbalut nuansa bangunan Eropa klasik memberikan rona temaram. Kursi kedai-kedai kopi ibarat godaan bagi pengunjung yang lelah berjalan atau sekadar ingin duduk-duduk santai menikmati malam.

072882200_1467987843-13
Suasana malam di Jalan Rue St Dennis, Paris, Prancis, Kamis (7/7/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna).

Baru berjalan kaki 15 menit, seorang wanita memakai pakaian minim datang menghampiri. Dari fisik dan gaya bahasa, wanita itu tampaknya beretnis Eropa Timur. Dengan memakai jaket parka hitam dan sepatu hak tinggi, senyumnya merekah dan tangannya pun langsung menjulur.

“Halo, selamat malam. Anda dari mana?” sapa wanita berkulit putih dengan rambut panjang lurus terurai itu dengan bahasa Inggris. Ternyata sapaan tersebut adalah awal promosi dia mengenai lakon tertua dalam sejarah peradaban manusia bernama: prostitusi.

Hampir setiap berjalan 50 meter, selalu saja ada wanita yang menyapa. Wisatawan mancanegara menjadi salah satu target utama mereka. Namun, tak semua layanan dipromosikan sang wanita sendiri. Ada juga makelar yang tak kalah ahli menawarkan urusan birahi.

Bahkan, sang makelar juga biasanya merupakan wanita-wanita yang berparas cantik. Jika bersedia, pengunjung lalu akan dibawa ke dalam ruangan yang terdapat foto wanita-wanita seksi tanpa busana. Di bawah foto tersebut ada harga yang harus dikeluarkan calon pelanggan.

Di luar urusan “komersial” itu dan ramainya pengunjung, Rue Saint-Denis ternyata juga menyisakan tempat bagi sejumlah tunawisma. Beberapa di antaranya tampak duduk-duduk di bangku semen sambil menenteng tas kumal besar. Mereka rata-rata sudah berusia lanjut.

Di depan salah satu pertokoan, seorang tukang semir merangkap tunawisma sibuk mengelap sepatu salah satu pengunjung dengan air dari botol mineral. Lalu-lalang orang-orang di sekitar tak dihiraukan pria dengan baju lusuh itu, termasuk ketika mobil patroli polisi melintas.

Les Miserables
Menurut catatan sejarah, Rue Saint-Denis memiliki kisah tersendiri di Prancis. Andrew Hussey dalam Paris: The Secret History (2006), menuliskan, pada abad ke-17, jalan tersebut merupakan salah satu pusat peristiwa bersejarah, Revolusi Juni (June Rebellion), pada 1832.

Pada abad ke-17, siapa pun yang berjalan dari barat ke timur kota Paris, melintasi Rue Saint-Denis atau sering disebut juga Rue Saint-Martin, pasti merasa was-was. Sebab, berbagai tindakan kekerasan, pertikaian, hingga kemarahan antarkelas sosial sering terjadi di daerah tersebut.

055701800_1467985723-les

Kala itu, kalangan rakyat jelata sedang berada titik nadir ketika mengalami kekurangan pangan, serta kematian akibat wabah kolera yang memakan puluhan ribu korban jiwa. Pemerintah pimpinan Raja Louis-Philippe pun dituduh sengaja meracuni sumber air agar mereka makin menderita.

Para pemuda yang menamakan barisan revolusioner lalu merancang aksi revolusi. Juni dipilih sebagai waktu pelaksanaan karena bertepatan pemakaman tokoh politik, Jean Maximilien Lamarque. Sayang, nasib mereka berakhir tragis dan revolusi berlangsung singkat (5-7 Juni).

Perjuangan mereka kemudian digambarkan dengan jelas dalam novel Les Miserables, karya Victor Hugo. Secara garis besar, novel itu menceritakan kerumitan kisah penuh nuansa humanisme di tengah masa revolusi yang sedang berlangsung dalam masyarakat Prancis.

Ratusan tahun berlalu, berbagai peristiwa besar kemudian muncul hingga era modern saat ini. Berbagai bangunan bersejarah hingga museum yang menyimpan benda-benda fenomenal, membuat Prancis bertransformasi menjadi salah satu destinasi wisata favorit paling terkenal.

Di sisi lain, hanya wanita malam, “makelar”, dan tunawisma yang tersisa di Rue Saint-Denis. Meski malam kian larut, Rue Saint-Denis pun tetap berdenyut, laiknya detak jantung para suporter sepak bola di fan zone Menara Eiffel yang hanya berjarak tujuh kilometer dari jalan tersebut.

Tumbuh Subur

JASHIMA (28), terlihat gelisah. Rokok di tangannya sesekali dihisap, lalu diletakan di asbak alumunium. Dia berdiri di samping hotel berbintang di sudut kota Paris. Kegelisahan Jashima, entah nama sebenarnya atau nama samaran, disebabkan salah satu “rekannya” berjanji akan bertemu.

Sudah hampir satu jam wanita asal Maroko itu berdiri. Selama penantian, beberapa batang rokok seharga 7 euro pun habis dihisap. Rok pendek, baju dengan model sebagian bahu terbuka, serta bibir bergincu merah, membuat daya pikat Jashima cukup menggoda bagi mata para pria.

Kedatangan Jashima ke hotel itu juga tidak gratis. Agar dapat masuk, dia harus menyisipkan uang 10 euro (sekitar Rp 144 ribu) kepada petugas. Maklum, dari penampilan saja, aura “wanita malam” Jashima sudah terasa. Biasanya, Jashima memiliki hotel-hotel langganan agar aman dari razia.

“Kalau tidak mau dan hanya ingin mengobrol, Anda harus tetap membayar 100 euro. Jika mau, Anda juga harus membayar 260 euro untuk biaya petugas hotel, di luar sewa kamar,” ujar dia.

Subur
Meski secara resmi tidak diakui pemerintah Prancis, pelacuran tumbuh subur, seiring dengan perkembangan negara berpenduduk 66 juta jiwa tersebut sebagai daerah pariwisata. Belum lagi dengan status “negara imigran” yang membuat pertumbuhan manusia tak terkendali.

069459600_1467989806-pros
Aktivitas para pekerja seks komersial saat di Rue Saint-Denis Paris, Prancis. (Bola.com/Ary Wibowo).

Pariwisata memang sektor penting bagi Prancis. Pada 2015, menurut laporan Cabot Wealth Management, kontribusi sektor itu mencapai 7,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) sebesar 398,54 juta euro. Salah satu daya tarik, selain tempat wisata, Prancis juga terkenal dengan sejarahnya.

Demi pariwisata itu, pemerintah Prancis pun terkesan seperti “menutup mata” terhadap praktik prostitusi. The Guardian edisi 24 September 2012 mencatat, terdapat lebih dari 20.000 pekerja seks komersial di Prancis, dengan 5.000 hingga 8.000 di antaranya berada di Paris.

Pada 2013, parlemen Prancis sempat mengaji ulang legalisasi prostitusi. Namun, hal tersebut menuai pro dan kontra karena berpotensi memunculkan prostitusi terselubung. Contoh nyata, bisa dilihat dari berbagai aktivitas di Rue Saint-Denis, yang bagi masyarakat setempat berstatus “Red Distric”.

Pada 7 April lalu, parlemen Prancis menyetujui UU baru yang membuat berbagai praktik prostitusi terselubung menjadi kegiatan ilegal. Dalam UU tersebut disebutkan, setiap pelanggan yang tertangkap menggunakan jasa PSK akan dikenai denda sebesar 1.500 euro.

Namun, nyatanya, praktik prostitusi punya banyak cara. Meski sudah menjadi kegiatan ilegal, model-model wanita seperti Jashima mudah ditemui di jalan umum dan hotel dari bintang. Sasaran mereka pun beragam, mulai dari wisatawan, pebisnis, dan para pesepak bola.

Egalite dan Fraternite

SUAMI saya menganggur, jadi saya yang harus memenuhi kebutuhan keluarga,” Jashima kembali melanjutkan perbincangan. Bahkan, ia mengaku, sang suami pun mengetahui pekerjaannya sebagai pelaku bisnis prostitusi di Paris. “Saya datang ke sini diantar dia,” katanya.

Pengangguran memang persoalan ruwet lain di Prancis. Teranyar, lihat aksi unjuk rasa warga setempat menentang reformasi perburuhan, di Paris, 31 Maret lalu. Pangka masalah terletak dalam salah satu pasal yang mempermudah pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan oleh perusahaan.

Pada akhir 2015, tingkat pengangguran di Prancis juga tercatat mencapai level 10,4 persen. Jika diamati sepintas, persoalan pengganguran pun sangat terasa, khususnya di beberapa wilayah Paris. Di sudut cafe Rue Saint-Denis, misalnya, yang dipenuhi para tunawisma.

Aksi pencopetan juga secara terang-terangan dilakukan. Saya pun sempat menyaksikan aksi para copet ketika sedang mengunjungi salah satu objek wisata di Paris. Penduduk setempat sudah tidak heran. Mereka hanya meminta korban pencopetan untuk lebih berhati-hati.

Berbagai contoh kesulitan ekonomi itulah yang kiranya menjadi faktor utama Jashima bekerja. Jashima hanya satu di antara puluhan ribu wanita penjaja jasa seksual yang tersebar di Prancis. Toh, merunut sejarah, pelacuran sudah terjadi sejak ratusan tahun silam di negara tersebut.

Imigran
Imigran dan persoalan prostitusi memang menjadi salah satu masalah utama di Prancis. Di tengah arus imigrasi yang kian tak terkendali, jutaan para pendatang, terutama dari Afrika Utara dan Timur Tengah, tentunya akan berjuang mencari cara bertahan hidup setiap hari.

Belum lagi jika para imigran membawa keluarga. Berbagai cara dijadikan opsi, karena pekerjaan utama biasanya menjadi porsi warga asli. Maklum saja, tidak semua anak-anak para pendatang dapat menjadi seperti Zinedine Zidane: bisa bermain bola, kaya, dan keluar dari ghetto.

042752400_1468088257-france
Semboyan negara Prancis, Liberte, Egalite, Fraternite. (Flickr).

Jashima adalah salah satu contoh imigran yang kesulitan merasakan janji Egalite (Keadilan) dan Fraternite (Persaudaraan). Berbagai masalah inilah yang pada akhirnya membuat Prancis hingga saat ini belum dapat keluar dari krisis pasca kolonial, salah satunya masalah prostitusi.

Masalah yang juga telah menjadi “aktivitas” rutin dalam sejarah peradaban manusia. Mulai dari persembahan para raja yang berkuasa, cara menyambung hidup, bahkan hingga menjadi tuntutan di saat penyelenggaraan event besar, termasuk dalam dunia olahraga, khususnya sepak bola.

Kata terakhir pun sempat telontar dari mulut Jashima di pengujung pembicaraan. Saat disinggung soal pesepak bola, dengan lugas ia mengatakan, “Ya, mereka juga…”

Sepak bola

PROSTITUSI dalam kalangan bintang sepak bola dunia memang sudah tidak asing lagi. Meminjam bahasa, Michel Foucault, filsuf Prancis (1926-1984), seksualitas adalah bagian dari perilaku manusia. Oleh sebab itu, wajarlah jika prostitusi bisa juga menjerat pemain sepak bola.

Apalagi, cukup mudah mencari contoh pelaku sepak bola yang memiliki masalah perilaku seks. Masalah teranyar adalah aktivitas seksual antara pesepak bola dengan para pelacur berusia di bawah 17 tahun. Persoalan ini pun sudah menjadi perhatian FIFA ataupun UEFA.

Maklum, seperti di sejumlah hajatan besar sepak bola sebelumnya, tuan rumah biasanya akan kebanjiran pekerja seks. Para mafia-mafia perdagangan manusia pun seakan tak ingin melewatkan peluang meraup duit dari berbagai penjuru dunia lewat pesta akbar sepak bola.

Pada gelaran Piala Dunia 2014 Brasil, misalnya, ketika tiga sosok terkenal, Gary Lineker, David Luiz, dan Frank Lampard, secara khusus mengelar kampanye untuk menghindari berbagai praktik prostitusi, khususnya yang melibatkan para penjaja jasa seksual di bawah umur.

Dua tahun berselang, salah satu organisasi anti-human trafficking di Prancis, Zeromacho, pun membuat kampanye yang sama. Kampanye melalui video berdurasi 30 detik tersebut secara khusus ditayangkan di setiap Fan Zone sebelum pertandingan Piala Eropa 2016 dimulai.

Pemain
Prostitusi juga sempat menjadi masalah besar ketika tim nasional Prancis sedang bersiap mengikuti pagelaran Piala Dunia 2010. Salah satu pelakunya adalah Franck Ribery, yang sempat tersangkut kasus hubungan seks dengan pelacur di bawah umur, pada April 2010.

033531600_1468089115-benzema

Kasus itu pun sempat menyeret Karim Benzema. Namun, kedua pemain itu akhirnya bebas dari hukuman penjara karena hakim pengadilan memutuskan tidak ada bukti cukup, mereka mengetahui wanita bernama Zahia Dehar masih di bawah umur saat bertemu.

Akan tetapi, pemain sepak bola tetaplah manusia biasa. Contoh nyata lihatlah kembali Benzema. Meski tidak berurusan langsung, striker Real Madrid itu harus gigit jari setelah tersandung kasus dugaan pemerasan video porno milik rekannya di timnas, Mathieu Valbuena.

Kini, kedua pemain itu hanya bisa menyaksikan timnas Prancis bertanding hari ini di final dari bangku penonton stadion atau layar kaca. Gara-gara urusan seks, mereka pun menjadi “manusia” biasa, sama seperti Jashima,  yang mencoba mengais untung di tengah pesta bernama Piala Eropa.

*Tulisan dibuat dalam rangkaian kegiatan penulis saat meliput Piala Eropa 2016 Prancis. Berita dapat dilihat juga dalam versi bersambung melalui Bola.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: