MENDUNG dan rintik hujan berupaya menghalangi ayunan langkah kaki menikmati Paris, Prancis. Namun, ternyata daya pikat kota berpenduduk 2,2 juta jiwa itu memang terlalu kuat. Apalagi, jika sudah menikmati keindahan serta sejarah kota yang begitu memesona.

Di antara cafe-cafe modern di jalan Rue de L’Ancienne Comedie, Le Procope kian menarik mata. Penyebabnya lantaran ada keterangan “since 1686” di bagian atas pintu masuk restoran.

Le Procope adalah salah satu tempat kuliner tertua dalam sejarah Prancis. Restoran yang dibangun orang Italia, Francesco Procopio Dei Coltelli itu sempat menjadi tempat berkumpul beberapa tokoh intelektual besar Prancis, mulai dari Voltaire, JJ Rousseau, hingga Victor Hugo.

Bahkan, menurut The Grand Literary Cafés of Europe, karya Noel Riley Fitch dan Andrew Midgley, Le Procope adalah tempat favorit bagi Voltaire untuk menuangkan berbagai pemikirannya. Pada salah satu ruangan pun masih terdapat kursi yang sering diduduki sang filsuf.

Meski dihiasi material vintage atau kuno, ruangan Le Procope juga tidak terkesan usang. Atmosfer itu terbangun oleh bermacam material, mulai dari pintu kayu klasik, lukisan, dan lampu meja kuno. Sementara ornamen- ornamen logam tampak dibiarkan berkarat demi menghadirkan estetika.

Napoleon
Bounjor (selamat siang),” begitu sapaan pramusaji yang murah senyum begitu kaki melangkah masuk. Romantisme sejarah memang kental terasa di Le Procope. Selain berbagai lukisan para tokoh bersejarah Prancis, restoran tersebut juga menampilkan barang-barang antik.

049661000_1467375338-topi
Topi milik Napoleon Bonaparte terpajang di Restoran La Procope yang terletak di Jalan I’Ancienne Comedie, Paris, Kamis (30/6/2016). (Bola.com/Ary Wibowo)

Salah satunya adalah topi Napoleon Bonaparte, yang dipajang di samping pintu masuk restoran. Topi itu terlihat sangat terawat dengan bingkai kaca serta plakat bergambar mukanya. Pada bagian bawah pajangan pun ada buku kuno yang menceritakan perjalanan hidup sang kaisar.

Mengapa topi itu bisa ada di Le Procope? Nah, di sinilah kisah menariknya. Menurut keterangan salah satu pemandu wisata di Paris, Napoleon sering berkunjung ke Le Procope. Namun, dalam sebuah kesempatan, ia harus rela meninggalkan topinya sebagai bentuk jaminan.

“Saat itu, Napoleon berkata akan membayar semua makanan para prajuritnya. Akan tetapi, karena tidak uang yang dibawa kurang, dia meninggalkan topi sebagai bentuk jaminan kepada pemilik restoran. Setelah itu, dia tidak pernah kembali,” kata pemandu wisata tersebut.

Mendengar keterangan itu, beberapa tamu di dalam restoran sempat tertawa. Kebenaran cerita tersebut memang bisa diperdebatkan. Akan tetapi, ketika Bola.com mencoba bertanya kepada salah satu pegawai, jawaban mereka pun sama dengan sang pemandu wisata.

Ah, sudahlah. Lupakan dulu soal asal muasal topi Napoleon. Di sela perbincangan soal beberapa koleksi dan benda antik, kurang lengkap rasanya jika tidak mencicipi menu di restoran. Pilihan pun jatuh kepada kopi bernama Capuccino Grand seharga 5,6 euro (sekitar Rp 81 ribu).

051862200_1467375068-13
Secangkir kopi yang disajikan di Restoran La Procope yang terletak di Jalan I’Ancienne Comedie, Paris, Kamis (30/6/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna).

Aroma dan rasa kopi cukup nikmat. Apalagi dipadukan gigitan kue semacam bolu yang disajikan. Selain makanan utama, kopi, bir, hingga wine kelas satu, ada pula berapa pilihan paket menu lengkap dengan kudapan serta minuman dengan harga berkisar 30-an euro (Rp 400 ribuan-an).

Meski sebagian besar tamu datang untuk bersantap, Le Procope juga bisa dijadikan tempat bekerja atau mengobrol bersama rekan. Nuansa klasik dipastikan akan membuat suasana kian nyaman. Maklum, kapan lagi bisa menyantap makanan dan minuman bareng “Napoleon”.

*Tulisan dibuat dalam rangkaian kegiatan penulis saat meliput Piala Eropa 2016 Prancis. Berita dapat dilihat juga dalam versi bersambung melalui Bola.com.

Advertisements