PARIS dan Jakarta tidak jauh berbeda. Kepadatan dan macet ada di mana-mana. Namun, bagi masyarakat kota berpenduduk 2,2 juta jiwa tersebut ada alternatif penyelesaian lain. Apalagi kalau bukan sistem subway, yang dibangun di bawah tanah lebih dari 100 tahun lalu.

Menurut catatan sejarah, sistem subway di Paris pertama kali dibuka untuk umum pada 19 Juli 1990. Kala itu, sang kontraktor Fulgence Bienvenue bekerja sama dengan arsitek Hektor Guimard membuka jalur pertama dari Porte de Vinvennes menuju Porte Malliot.

Seiring perjalanannya, Bienvenue dan Guimard terus membangun ribuan lintasan dan pada 1945 pun secara khusus dibuat dibuat jalur ke luar kota. Proyek pembangunan lintasan pun berakhir pada 1999 setelah dianggap cukup mengakomodasi sistem transportasi di Paris.

002406100_1467160223-4
Suasana stasiun kereta yang biasa disebut Metro yang terletak di Paris, Prancis, Selasa (28/6/2016). (Bola.com/VitalisYogi Trisna).

Total sebanyak 15 jalur subway kini tersedia di Paris. Dengan lintasan sepanjang 199 kilometer, jalur tersebut memiliki 368 stasiun, dengan 87 di antaranya saling berhubungan satu sama lain untuk menuju ke sejumlah pusat kota atau perkantoran yang pada penduduk.

Soal ketepatan waktu? Jangan bandingkan dengan Jakarta. Selama Bola.com berada di Paris, rasanya hampir tidak ada keterlambatan jadwal. Jika seseorang telat atau ketinggalan kereta pun, biasanya dia hanya bakal menunggu beberapa menit hingga kereta berikutnya datang.

Mudah
Bagi orang yang baru pertama kali menaiki Metro (sebutan kereta bawah tanah Paris) juga terasa amat mudah. Tidak perlu banyak bertanya kepada orang karena peta perjalanan Metro, bahkan hingga bus kota di Paris terpampang jelas, lengkap dengan petunjuk arahnya.

Begitu masuk kereta, peta serta jalur yang dilewati kereta terpampang di bagian atas setiap pintu masuk dan keluar gerbong. Penumpang tinggal masuk, duduk dengan tenang sembari membaca buku atau memainkan telepon seluler, tanpa takut terlewat tujuan.

069965800_1467160323-3

Berbagai kemudahan inilah yang membuat Metro menjadi idola bagi warga Paris. Coba saja bertanya kepada masyarakat sekitar untuk mencari arah perjalanan. Tanpa ragu, yang mereka sarankan adalah naik Metro, bukan bus kota, taksi, ataupun Uber yang kian menjamur.

Belum lagi melihat pria berjas atau para wanita karier yang tak jarang terlihat di sejumlah gerbong kereta. Alasannya, menurut mereka, Metro adalah transportasi yang mudah dan cepat. Harganya pun cukup ramah ketimbang transportasi lain yang bisa berkali lipat.

“Paris sangat macet dan itu bisa membuat saya pusing jika harus menaiki bus atau mobil. Baru sebentar jalan sudah mengerem lagi,” ungkap salah satu warga Paris.

Jalur
Ada dua sistem subway di Paris. Metro adalah kereta khusus yang melayani perjalanan dalam kota, sementara Reseaux Express Reginale (RER) dibuat khusus bagi yang ingin ke pinggir kota. Namun, jalur keduanya saling berhubungan sehingga memudahkan penumpang untuk berganti kereta.

Jika ingin berpergian dari satu tempat ke tempat lain di jalur Metro atau RER, penumpang tinggal pindah ke loket penjual tiket yang jaraknya sangat dekat. Untuk menuju ke Museum Louvre dari stasiun Camp de Mars di dekat fan zone Piala Eropa 2016 Paris, misalnya, penumpang bisa naik Metro hingga stasion Invalides.

Setelah itu, perjalanan lalu dilanjutkan dengan pindah ke jalur lain hingga Concorde. Stasiun itu pun menjadi pemberhentian terakhir jika ingin ke Louvre. Kelihatannya memang rumit, namun semuanya akan terasa mudah karena ada petunjuk arah di setiap sudut jalan.

065803300_1467160385-2

Soal harga tiket? Jangan khawatir. Selain lebih murah, operator Metro dan RER memberi berbagai kemudahan. Jika ingin sesekali menaiki Metro, penumpang bisa membeli tiket satuan seharga 1,7 euro atau sekitar Rp 24.700. Bagi yang ingin menjelajahi kota Paris sebaiknya membeli paket 10 tiket, tentu dengan harga lebih murah, yakni sebesar 1,4 euro per tiket.

Harga Rp 24.000-an untuk sekali naik kereta memang terkesan mahal bagi warga Jakarta. Namun, bayangkan uang yang harus dikeluarkan jika naik taksi. Salah satu rekan asal Indonesia pun sempat kena imbasnya. Untuk jarak hanya sekitar 5 km, dia harus membayar 30 euro atau sekitar Rp 436 ribu.

Ngeri kalau naik kereta, katanya banyak copet,” ujar dia saat ditanya alasan lebih memilih menaiki taksi ketimbang kereta bawah tanah di Paris. Memang benar sih, di Paris banyak copet berkeliaran. Namun, copet-copet rasanya ada di mana-mana, apalagi di Jakarta!

*Tulisan dibuat dalam rangkaian kegiatan penulis saat meliput Piala Eropa 2016 Prancis. Berita dapat dilihat juga di Bola.com.

Advertisements