Menyapa Senyum Misterius Mona Lisa di Louvre

MUSIM panas, namun hawa dingin tetap menusuk kulit. Ada ratusan tamu siang itu. Mona Lisa tetap duduk dengan senyum di beranda Denon. Sebagai perempuan yang “lahir” pada abad pertengahan, ia pun terlihat sangat molek dan elegan.

Mona Lisa adalah daya tarik utama dari Museum Louvre, yang begitu tersohor di penjuru dunia. Museum yang terletak di Paris, Prancis, itu berbentuk seperti piramid kaca modern dengan Istana Louvre, yang menurut catatan sejarah, merupakan benteng perang pada awal abad ke-12.

Meski udara cukup dingin, antrean panjang terlihat di loket karcis masuk museum. Ada beberapa kelompok keluarga, lengkap dengan ayah, ibu, serta anak yang lucu, ada wanita yang tangannya tak pernah lepas dari genggaman sang pria, ada pula pasangan muda yang saling bercanda.

Kamera, mulai yang dari tipe profesional, saku, hingga go-pro, serta smartphone berbagai merk pun berada di tangan mereka. Maklum saja, siapa sih yang ingin melewatkan mengabadikan momen bersama berbagai koleksi Museum Louvre, termasuk Mona Lisa, yang begitu menggoda.

Berdasar keterangan brosur museum, luksan Mona Lisa adalah salah satu dari total 35.000 koleksi yang berasal dari masa prasejarah hingga abad ke-19. Puluhan ribu koleksi tersebut dikumpulkan semenjak Raja Louis XIV memutuskan untuk menetap di Istana Versailles.

Hangat
Saat kaki melangkah ke dalam museum, kehangatan langsung terasa menyebar ke tubuh. Ratusan pengunjung terlihat sudah memadati hall utama yang merupakan akses ke beberapa ruang koleksi. Di salah satu sudut ruangan, ada pula toko berbagai jenis souvenir.

Para pengunjung Louvre tidak perlu repot mencari pemandu. Di saat mengantre tiket, ada pilihan ingin mencari koleksi sendiri melalui secarik kertas peta biasa atau dengan peta virtual yang berisi berbagai informasi ribuan koleksi di Louvre dengan gambar dan keterangan.

Jika menekan “Mona Lisa”, misalnya, muncullah peta arah dari tempat posisi kita berdiri untuk menuju karya pelukis legendaris, Leonardo Da Vinci tersebut. Setelah itu, para pengunjung hanya tinggal mengikuti arahan dari peta tersebut untuk mencapai tempat tujuan.

Mona Lisa memang begitu istimewa di Louvre. Selain memiliki ruangan khusus di lantai dua beranda Denon, para pengunjung pun tidak bisa sembarangan mengabadikan momen. Lantaran dibatasi tali pengaman, kamera lensa hanya bisa menyapa dari jarak kurang lebih tiga meter.

Jika dirasa terlalu dekat, para petugas bakal sigap meminta para pengunjung untuk mundur. Andai mau selfie? Boleh saja, tetapi tetap harus melalui perjuangan berat. Sebab, setiap hari ada ratusan tamu dari berbagai negara yang ingin secara khusus ingin menyapa Mona Lisa.

Misterius
Da Vinci, sang pecipta Mona Lisa tidak pernah bercerita banyak mengenai lukisan berukuran 77 cm x 53 cm itu. Berbagai dugaan dan klaim mengenai lukisan tersebut sejak ratusan tahun lalu pun bermunculan.

Senyum Mona Lisa yang dianggap selalu berubah-ubah juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pakar seni di berbagai belahan dunia.Ada yang bilang terjadi karena kemahiran teknik percampuran warna Da Vinci, ada pula yang menghubungkan dengan berbagai hal irasional.

Alhasil, Mona Lisa hingga detik ini tentunya masih menjadi objek pembahasan menarik. Belum lagi bicara soal siapa perempuan yang dijadikan model Da Vinci? Berbagai misteri sosok dan senyuman dari Mona Lisa itulah ikhwal yang membuat banyak tamu di Louvre jatuh hati.

Aphrodite, Si Jelita Pesaing Mona Lisa

033602000_1467244092-louvre_02
Patung Aphrodite di Museum Louve, Paris, Rabu (29/6/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Petualangan belum selesai. Masih ada satu wanita jelita yang perlu disambangi di Louvre. Berdasar arahan peta, kaki pun melanjutkan langkah ke ruang koleksi sejarah Yunani. Tak berselang lama, terlihatlah patung Venus de Milo, karya pemahat legendaris Italia, Michelangelo.

Venus de Milo atau biasa disebut Aphrodite, menurut catatan sejarah, ditemukan pada 1829, di Pulau Melos, Yunani. Patung itu memang memikat hati, sama seperti cerita legenda yang menyebut karya klasik Yunani abad kelima itu sebagai sebagai dewi cinta dan simbol kecantikan.

Berbahan batu marmer putih, pahatan Aphrodite terlihat sangat halus. Anatomi tubuhnya pun menawan karena dipahat dengan keelokan sempurna. Meski bagian tangan tidak utuh, patung tersebut kiranya tetap membius ratusan pengunjung yang menghampirinya.

Salah satu pengunjung asal Vietnam, Tung, menuturkan, Venus de Milo memang menjadi salah satu objek koleksi yang sering dikunjungi tamu Louvre, selain Mona Lisa. Selain karena cantik, patung berusia ratusan tahun itu juga menyimpan misteri yang belum terjawab.

Teka-teki misteri tersebut terletak di bagian tangan Aphrodite yang hilang. Berbagai teori pun sempat muncul. Salah satunya adalah teori yang menyebut salah satu tangan sang dewi, sebelum hilang, sedang memegang cermin untuk mengagumi kecantikannya sendiri.

“Dia memang cantik sekali,” kata Tung.

Pelajar
Tidak hanya menjadi daya tarik pengunjung, berbagai koleksi di Museum Louvre juga menjadi tempat favorit bagi sekelompok mahasiswa-mahasiswi. Mereka terlihat asyik duduk di beberapa sudut ruangan sembari memegang kertas lukis dan mengamati objek patung.

Biasanya para pelajar yang datang ke Louvre berasal dari jurusan seni beberapa universitas besar di Paris. Catherine (24), misalnya, yang mengaku dalam satu pekan bisa dua atau tiga kali mengunjungi Louvre untuk menyelesaikan tugas kuliah.

“Koleksi seni di sini sangat banyak dan sering menjadi tugas di kuluah,” ungkap mahasiswi jurusan seni di Universitas Esmod Paris tersebut.

Bagi warga Prancis, membangun budaya berpikir untuk belajar memang tidak hanya di kampus, tetapi juga bisa dalam tiap denyut kehidupan masa lampau. Oleh sebab itu, selain bagi para turis, museum menjadi salah satu tempat yang paling sering dikunjungi para pelajar.

Menelusuri Jejak Islam

029705100_1467244250-louvre_03

Setelah berbincang dengan beberapa pelajar tentang koleksi di Louvre, perjalanan kemudian berlanjut ke hall utama. Cukup lelah memang. Bayangkan saja, pegalnya kaki apabila harus menyusuri satu per satu bilik-bilik istana yang luasnya tak kurang dari 60.600 meter.

Namun, saat turun dari tangga Denon, terdapat petanda dari tembok di salah satu bilik yang mengundang rasa penasaran. Dalam tembok berwarna hitam itu bertuliskan “Arts De I’Islam”. Alhasil, kaki pun melangkah ke ruangan yang berada beranda Richielieu dan Sully itu.

Letak Arts De I’Islam di Louvre memang sedikit terpencil. Jika tak teliti, pengunjung bisa saja melewati ruangan yang pertama kali dibuka untuk umum sejak 2012 tersebut. Setidaknya ada sekitar 3.000 koleksi tentang berbagai sejarah kebudayaan Islam yang dipamerkan.

Benar saja, begitu masuk ke dalam ruangan, keindahan koleksi membuat hati berdecak kagum. Dalam ruangan tersebut dipamerkan berbagai aksesori, seperti manik-manik, gelang, guci, nisan hingga stempel uang yang berperan dalam sejarah peradaban Islam di Eropa.

Suasana ruangan memang redup karena sumber penerangan hanya dari cahaya matahari yang menyelinap dari atap kubah permadani di langit-langit. Namun, kesan istimewa tetap terasa karena perpaduan cahaya dari lembaran logam serta tembok kaca di sekitar ruangan.

Empat periode
Koleksi di Arts De I’Islam terbagi dalam empat periode. Pertama pada abad ke-17 Masehi hingga abad ke-11, lalu abad ke-11 hingga pertengahan abad ke-13, dilanjutkan hingga abad ke-16, serta terakhir koleksi-koleksi yang berasal dari peninggalan jejak Islam abad ke-18.

Di saat mengitari ruangan, ada koleksi yang mencuri perhatian, yakni pedang serta perisai tentara Dinasti Mughal yang berasal dari India. Senjata dari logam itu pun terlihat lebih simpel jika dibandingkan milik para tentara kerajaan di Eropa.

Arts De I’Islam juga memamerkan akulturasi kebudayaan Islam dengan Cina di Iran. Hal itu diketahui dari sejumlah peralatan masak dari keramik, yang dalam keterangan peta, berasal dari abad ke-17.

Akulturasi dengan Cina terpampang jelas dari corak porselen keramik bergambar naga, khas kebudayaan Cina. Puluhan porselen keramik itu, menurut catatan sejarah, dikirim perusahaan European East Indian Company melalui pelabuhan Bandar Abbas, Iran, ke Eropa.

Arts De I’Islam pun menjadi kunjungan terakhir Louvre. Menurut salah satu penjaga museum, meski baru “seumur jagung”, ribuan koleksi peradaban serta kebudayaan Islam di dalam ruangan itu juga tidak pernah sepi pengunjung, sama seperti Mona Lisa dan Si jelita Venus de Milo.

*Tulisan dibuat dalam rangkaian kegiatan penulis saat meliput Piala Eropa 2016 Prancis. Berita dapat dilihat juga dalam versi bersambung di Bola.com.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: