HARI masih pagi, pukul 08.15. Suhu udara 17 derajat Celsius, cukup dingin untuk musim panas. Hujan semalam menyisakan jalanan aspal yang basah, memantulkan bayang samar tembok-tembok Grande Mosquee de Paris atau Masjid Agung Paris.

Masjid megah yang berdiri 90 tahun lalu itu sepi. Turis yang saban hari menjejali Paris, Ibu Kota Prancis, belum bermunculan. Hanya ada tiga penjaga berpatroli di sekitar masjid, seorang petugas kebersihan menyapu halaman, dan dua tuna wisma di pinggir jalan. Selebihnya sunyi.

Suasana itu terasa satu hari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Memang tidak ada yang istimewa selama bulan Ramadhan di kota berpenduduk 2,2 juta jiwa itu. Apalagi jika menyaksikan aktivitas warga di beberapa titik pusat kota, rasanya pun jarang ada yang puasa.

Prancis saat ini tercatat sebagai negara dengan komunitas Muslim terbanyak di Eropa. Negara ini memiliki sejarah yang panjang dengan dunia Arab sehingga banyak terdapat pakar Muslim dan pakar dunia Islam.

Namun, sebagian besar dari 5 juta warga Muslim, khususnya yang tinggal di daerahgheto, ternyata tidak begitu memahami Islam. Hal tersebut terungkap dari pengakuan Najet, salah satu warga muslim yang sedang berada di Porte Saint-Denis, Paris, saat ditemui Bola.com.

“Saya tahu (Ramadhan), tetapi tidak tahu bagaimana menjalankannya,” kata dia.

Pengakuan Najet pun sejalan dengan sorotan kurangnya pendidikan dasar Islam di Prancis. Maklum, Pemerintah Prancis tidak dapat membantu warga muslim yang tidak punya sekolah karena adanya sistem pemisahan antara agama dan negara (sekuler).

064566500_1467676435-02

Masjid Agung Paris saat ini menjadi pusat bagi para warga muslim menimba ilmu, khususnya bagi calon Imam, mengenai pendidikan Islam. Akan tetapi, tetap saja, hingga saat ini, selama Ramadhan, aktivitas perkantoran lebih kental terasa ketimbang acara berbuka puasa.

Namun, hal ini dapat dimaklumi karena pemerintah Prancis memang tidak memperbolehkan warganya terlalu memperlihatkan atribut-atribut agama ketika berada di ruang publik. Bagi mereka, masalah agama dianggap masalah pribadi bagi umat yang menjalankannya.

Oleh sebab itulah, agama menjadi masalah yang sensitif di Prancis. Penggunaan atribut agama di ruang publik, dapat dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan karena bisa menjadi sumber konflik antar komunitas beragama.

Salah satu contoh terlihat pada H-1 Idul Fitri, ketika amat jarang ditemui nuansa meriah menjelang hari raya. Fayssal, salah satu warga muslim yang berprofesi sebagai supir angkutan transportasi, pun mengakui, Paris memang sangat “dingin” terhadap nuansa Lebaran.

“Anda terkadang bisa melihat itu (warga sibuk merayakan Lebaran) kalau berkunjung ke (Paris) utara. Di sini (kota Paris), tidak ada. Kami muslim, tetapi sangat jarang sekali berpuasa. Itu sudah menjadi hal yang wajar,” ujarnya.

046247600_1467764049-dubes

Satu-satunya momen yang menyenangkan hati, sebagai salah satu “pendatang” dari Indonesia, hanya bertemu dengan orang negeri sendiri. Bisa di Kedutaan Besar Republik Indonesia atau di restoran-restoran yang menyediakan menu khas Ibu Pertiwi.

“Di sini persoalan agama dijaga sekali. Kita tidak akan bisa ikut campur. Karena itu, suasana Ramadhan atau Idul Fitri tidak akan begitu terasa di pusat kota,” ujar Duta Besar RI untuk Prancis, Hotmangaradja Pandjaitan, saat berbincang dengan Bola.com.

Bulan Ramadhan bertepatan dengan pagelaran Piala Eropa 2016 yang sudah berlangsung sejak 10 Juni lalu. Kebetulan, Hari Raya Idul Fitri 1437 bertepatan dengan masa jeda memasuki fase semifinal. Hal tersebut pun membuat Paris terasa kian sepi.

Jika biasanya suporter memenuhi jalan, kini aktivitas mereka seakan tidak terasa, sejalan dengan sunyinya nuansa Lebaran. Tak ada lagi atribut warna-warni sepak bola. Demikian halnya di kedai kopi, yang banyak diisi warga lokal yang bersantap sembari menikmati keindahan kota Paris.

*Tulisan dibuat dalam rangkaian kegiatan penulis saat meliput Piala Eropa 2016 Prancis. Berita dapat dilihat juga dalam versi bersambung melalui Bola.com.

Advertisements