LETUSAN kembang api terdengar nyaring di langit Stadion Stade de France. Antoine Griezmann tertunduk lesu tak berdaya. Wajahnya murung penuh duka. Beberapa kali ia menyeka air mata. Cucuran air mata yang seakan sia-sia karena akhirnya dalam laga final itu, dia itu kalah.

Di salah satu sudut lapangan, Paul Pogba berjalan lunglai. Matanya menerawang jauh ke langit yang bertaburan warna-warni kembang api untuk menghormati sang juara. Ia melihat pemain tim nasional Portugal, Nani, mengangkat tinggi-tinggi piala juara Piala Eropa 2016.

“Saya sangat sedih. Kami berjuang dengan seluruh kemampuan kami untuk memenangkan hati pendukung. Namun, apa daya, akhirnya kami tetap kalah,” ujar Pogba.

029752600_1468580713-giroud
Pelatih tim nasional Prancis, Didier Deschamps, saat menyemangati para pemainnya usai dikalahkan Portugal 0-1, pada final Piala Eropa 2016, di Stade de France, Minggu (10/7/2016). (ESPN).

Malam itu, Minggu (10/7/2016), bukan hanya Pogba yang bersedih, melainkan juga jutaan warga Prancis menangis bersamanya. Bahkan, tangisan itu terasa kuat lantaran sepanjang turnamen, sebagai tuan rumah, para suporter Les Bleus menunjukkan animo luar biasa.

Prancis kalah 0-1 dari Portugal lewat babak tambahan setelah bermain imbang tanpa gol hingga 90 menit. Adalah penyerang muda Portugal, Eder, yang membuat Pogba dkk harus menelan kekecewaan lantaran sukses mengonversi gol penentu kemenangan pada menit ke-109.

Ronaldo
Prancis wajar kecewa. Sebab, sejak turnamen Piala Eropa 2016 bergulir, mereka selalu menampilkan performa menawan. Apalagi, sebelum melakoni pertandingan final, selain berstatus tuan rumah, sejarah mencatat, Prancis mampu menang 10 kali beruntun atas Portugal sejak 1978.

Menurut statistik UEFA pun, Prancis tercatat sebagai tim paling produktif dengan torehan 13 gol sepanjang turnamen, berbanding delapan gol milik Portugal. Sementara itu, Griezmann juga merupakan pencetak gol terbanyak dengan total enam torehan gol hingga semifinal.

Belum lagi, saat pertandingan berlangsung, kapten Portugal, Cristiano Ronaldo, harus keluar lapangan karena cedera pada menit-menit awal. Ratusan suporter Prancis pun terlihat begitu bahagia ketika bintang Real Madrid tersebut menangis kecewa karena tak bisa melanjutkan laga.

Meski begitu, pada akhirnya, sepak bola memang bukan rumus matematika yang bisa diperkirakan dengan hitungan di atas kertas. Ada semangat dan motivasi tersembunyi, yang bisa mendobrak segala ketidakmungkinan dan keterbatasan. Hukum ini pun berlaku kepada Portugal.

Toh, kekalahan Prancis membuktikan, satu-satu titik lemah mereka adalah tak adanya “jenderal” lapangan yang biasa mengatasi tekanan besar. Jika Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000, ada pemain seperti Zinedine Zidane, Emanuel Petit, hingga Laurent Blanc, apakah sekarang cukup hanya bergantung kepada Paul Pogba?

Sebaliknya, beruntunglah Portugal memiliki Ronaldo, meski tidak bisa melanjutkan pertandingan hingga akhir. Bisa jadi, disinilah letak “senjata” utama mereka. Lihatlah bagaimana Ronaldo seketika bergaya laiknya Sir Alex Ferguson di pinggir lapangan untuk memotivasi rekan-rekannya.

039322900_1468213133-_20160711afp_ronaldo_jadi_pelatih_01

Toh, aura jenderal lapangan Ronaldo memang kian kuat. Skuat A Seleccao memang memiliki rantai pemain tengah yang hebat, seperti Nani, Renato Sanches, Joao Moutinho, hingga bek tangguh kelas dunia, seperti Pepe. Namun, jiwa dan dinamisator mereka tetaplah Ronaldo.

“Jangan ambil risiko! Umpan bola itu!” demikian teriakan Ronaldo dari pinggir lapangan. Bagi Ronaldo, meraih Piala Eropa 2016 memang menjadi impian terindah dalam kariernya. Impian itulah yang setidaknya juga menjadi pemompa semangat Nani dkk di lapangan.

Antiklimaks
Terlepas dari pesta Portugal dan duka Griezmann dan kawan-kawan, Piala Eropa 2016 pada akhirnya tetap berlangsung meriah sejak awal turnamen. Setidaknya, atmosfer luar biasa para suporter tim peserta sempat Bola.com rasakan saat meliput kegiatan tersebut di Prancis.

Tidak hanya di stadion, tetapi juga di fan zone, Paris khususnya, selalu dipenuhi suporter negara peserta yang tiada henti memberikan dukungan besar. Bahkan, mereka juga tak ketinggalan memberikan semangat di saat para pemain tim negara mereka menggelar latihan.

047003400_1468174468-2016-07-10t175235z_1042619845_lr1ec7a1dncrs_rtrmadp_3_soccer-euro-fans

Menteri Olahraga Prancis, Patrick Kanner, Senin (11/7/2016), mengatakan, meski kalah, warga Prancis tetaplah harus berbangga karena penyelenggaraan Piala Eropa 2016 bisa dibilang sukses. Penyebabnya karena berbagai ancaman terorisme yang sempat mewarnai turnamen.

Meski sempat diwarnai beberapa kerusuhan antar suporter dan aksi pemogokan, menurut Kanner, aparat keamanan cukup baik saat menjalankan tugas. Total, sebanyak 1.550 orang diamankan, 59 orang ditahan, 64 orang diusir dari Perancis, dan 32 orang ditolak masuk sepanjang turnamen.

“Hari ini kita bisa mengatakan dengan bangga, sesungguhnya rakyat Prancis sudah memenangi pertarungan selama satu bulan terakhir,” ujar Kanner.

Namun, sepak bola tanpa trofi, apa nikmatnya? Cumbuan pasangan suporter wanita dan pria saat memberikan dukungan di fan zone dan stadion sepanjang turnamen pun ibarat tak terasa. Prancis adalah negeri penuh cinta, tetapi jika gagal juara, ya, wajar mereka sangat kecewa.

*Tulisan dibuat dalam rangkaian kegiatan penulis saat meliput Piala Eropa 2016 Prancis. Berita dapat dilihat juga dalam versi bersambung melalui Bola.com

Advertisements