KOTA Liverpool masih sunyi. Kabut tebal dan jalan-jalan terasa sepi. Namun, di sudut Kota Woolton, sesosok remaja tampak tetap bersemangat kala berjalan kaki menuju Strawberry Fields untuk menyapa pagi. Di tempat itulah, remaja bernama John Lennon itu sering menghabiskan waktu dengan bersantai sembari bermain gitar, hingga pada akhirnya tumbuh dewasa menjadi salah satu legenda musik dunia.

“John Lennon is Liverpool. Liverpool is John Lennon!” Begitu diucapkan masyarakat Liverpool jika ditanya seberapa besar pengaruh musik John Lennon bersama grup musik The Beatles terhadap kehidupan mereka. Bahkan, pada 2001, pemerintah kota pun secara khusus mengubah nama bandara menjadi Liverpool John Lennon Airport sebagai bentuk peringatan 21 tahun kematian Lennon pada 8 September 1980.

Dalam perjalanannya, Lennon bersama Paul mcCarthy dkk. sukses mempopulerkan genre pop-rock ke berbagai penjuru dunia. Jamie E. Perone, dalam karyanya Mods, Rockers, and the Music of the British Invasion (2001), pun menyebutkan, Beatles berperan besar melakukan akulturasi budaya dalam sejarah musik di Amerika Serikat pada periode 1960-an yang dikenal sebagai era British Invasion.

Toh, Lennon mengerti betul musik adalah bahasa paling abstrak yang mampu menggerakkan emosi manusia. Dengan musik, karakter manusia bisa terbentuk. Meminjam bahasa filsuf Plato, “Musik adalah hukum moral. Musik dapat memberi jiwa pada alam semesta, sayap pada pikiran untuk terbang ke imajinasi terdalam, daya tarik pada kesedihan dan kegembiraan, serta hidup dalam segala sesuatu.”

Alam rasa
Sama seperti musik, sepak bola juga merupakan bagian dari alam rasa manusia. Sepak bola bukan hanya sekadar permainan keras. Oleh karena itu, musik pun dapat memberikan inspirasi dalam olahraga tersebut. Hal itulah yang membuat beberapa pelatih sepak bola terkadang suka mendengarkan musik, baik sebelum atau sesudah laga.

Sebut saja, pelatih Bayern Munchen, Pep Guardiola, yang merupakan penggemar grup musik, Coldplay. Menurut dia, jiwanya lebih tenang menghadapi tekanan jika mendengarkan musik. Dalam Pep Guardiola: The Philosophy that Changed the Game karya Miquel Ángel Violan disebutkan, efek ketenangan itu yang dijadikan dasar filosofi Pep ketika menerapkan tiki-taka yang sempat menggetarkan dunia.

“Tentu saya akan berusaha dan mengenalkan para pemain ke Coldplay. Saya saat ini hanya bisa berharap mereka juga memiliki selera musik yang bagus.” Begitu kata Guardiola menunjukkan kecintaannya terhadap dunia musik.

Musik juga menjadi inspirasi bagi mantan pelatih Borussia Dortmund, Jurgen Klopp, yang baru didaulat sebagai manajer baru Liverpool, Kamis (8/10/2015). Dalam sebuah kesempatan, Klopp pernah dimintai tanggapannya mengenai kekuatan Arsenal yang akan menjadi lawan Dortmund pada fase grup Liga Champions 2013-14.

“Dia (Arsene Wenger, manajer Arsenal) senang menguasai, memainkan, memberi umpan bola, seperti musik orkestra. Akan tetapi, saya lebih menyukai heavy metal. Saya selalu ingin mendengar musik lebih keras. Saya ingin mendengar musik itu seperti ‘Boooooom!’,” ujar Klopp.

Klopp menuturkan, lebih menyukai melihat permainan sepak bola yang diwarnai pertarungan sengit selama 90 menit. Baginya, sepak bola adalah perjuangan. Bisa jadi pula karena hal tersebut ia kerap meluapkan ekspresi yang tak biasa dilakukan para pelatih lain, baik ketika timnya meraih kesuksesan atau kegagalan.

Klopp tak segan berlari, melompat girang begitu menyaksikan para pemainnya mencetak gol. Klopp juga tak perlu pikir panjang untuk “menyemprot” pelatih lawan atau ofisial pertandingan jika merasa dirugikan. Meski ulahnya itu dianggap “gila”, Klopp paham, tindakan dari alam sadar itulah yang mampu membawanya meraih kesuksesan bersama Dortmund.

Pada final Liga Champions 2012-13, Klopp memang gagal membawa Dortmund berpesta karena dikalahkan Bayern 1-2 pada partai final. Namun, ia tetap dianggap sukses lantaran mampu menjadikan Dortmund sebagai kumpulan “pekerja keras”yang ditakuti calon lawan-lawannya.

Liverpool
Lantas, kini mampukah Klopp kembali meraih kesuksesan bersama Liverpool? “Saya bukanlah seorang yang ingin menempuh jalan yang mudah. Ini (melatih Liverpool) adalah tantangan besar. Ini juga adalah merupakan pekerjaan sangat menarik dalam dunia sepak bola.” Begitu kata Klopp saat menggelar jumpa pers di Anfield.

Liverpool memutuskan untuk merekrut Klopp setelah resmi memecat Brendan Rodgers pada Minggu (4/10/2015). Manajer asal Irlandia itu dianggap gagal mengangkat performa Liverpool selama tiga musim berkarier di Anfield. Wajar saja para pemilik klub geram, jika prestasi terbaik Rodgers hanya mampu membawa skuat The Reds menjadi runner-up Premier League 2013-14.

Belum lagi melihat gelontoran dana besar yang dikeluarkan manajemen Liverpool. Menurut The Independent, Liverpool telah menghabiskan dana kurang lebih sebesar 290 juta pounds untuk merekrut pemain baru. Pembelian pemain termahal semasa era Rodgers adalah Cristian Benteke yang direkrut dari Aston Villa pada bursa transfer musim panas 2015 dengan mahar 32,5 juta pounds.

Jutaan pounds itu memang menjadi anomali perjalanan karier Klopp. Di Dortmund, Klopp menganggap timnya adalah perkumpulan istimewa. Dortmund, menurut dia, harus dipandang sebagai proyek sepak bola yang menjanjikan. Oleh karena itulah, berkat keahliannya, beberapa pemain Dortmund, baik yang berusia muda ataupun senior, dapat lahir sebagai bintang yang diincar oleh klub-klub besar.

Lihat pula ketika Klopp sempat tak bisa menyembunyikan kesedihannya atas “proyek kapitalis” dunia sepak bola kala menceritakan nasib Shinji Kagawa, yang dibeli Manchester United, lalu ditelantarkan menjadi pemain sampingan belaka. “Padahal, Kagawa adalah seorang pemain terbaik dunia,” ujar Klopp. Demikian halnya, ketika ia mengaku seperti terkena “serangan jantung” saat mendengar Mario Goetze setuju hijrah ke Bayern karena iming-iming gelontoran uang.

Berbagai hal itulah yang membuat Klopp istimewa. Wajar jika antusiasme para pendukung Liverpool menggelora saat media-media Inggris gencar memberitakan kepindahannya ke Anfield. Bahkan, pada September lalu, ribuan suporter The Reds secara khusus menggunakan topeng Klopp sebagai bentuk dukungan kepada pelatih berusia 48 tahun itu. Bagi mereka, Klopp adalah asa dari krisis juara.

Apalagi, kepindahannya kali ini semakin istimewa karena perkenalannya ke publik bertepatan dengan perayaan kelahiran John Lennon, sang legenda yang sudah terpatri dalam diri setiap masyarakat Liverpool. Keduanya juga memiliki filosofi untuk urusan musik. Toh, Lennon, dalam The Songs of John Lennon: The Beatles Years, pun sempat mengklaim bahwa Ticket to Ride adalah lagu Heavy Metal pertama yang pernah direkam dalam sejarah dunia musik.

“Musik adalah milik semua orang di dunia. Hanya perusahaan rekaman yang berpikir bahwa ia adalah milik seseorang.” – John Winston Lennon.

*Tulisan ini juga dimuat di Bola.com setelah Liverpool resmi memperkenalkan Jurgen Klopp sebagai manajer baru.

 

Advertisements