MESI

DI Argentina sempat muncul apriori soal Lionel Messi. Di balik segala kehebatannya, publik Argentina bertanya apakah Messi benar-benar mencintai tanah airnya? Messi memang istimewa. Namun, keistimewaan itu dinilai belum afdal jika tak mampu membawa Argentina berpesta di turnamen internasional.

Apa bedanya Messi dan Diego Maradona? Jelaslah, raihan trofi Piala Dunia. Seburuk-buruknya sifat bad boy Maradona di dalam atau luar lapangan, dia tetap dianggap “Tuhan”. Berkat Maradona-lah jutaan rakyat Argentina pada 1986 dapat berbondong-bondong turun ke jalan Kota Buenos Aires, bersuka cita menggelar pesta sembari mengarak trofi Piala Dunia.

Sampai-sampai, sempat pula muncul saran bahwa jangan pernah membandingkan performa Messi di Barcelona dengan tim nasional Argentina. Maklum, bersama Barcelona, Messi adalah “raja” dengan puluhan koleksi trofi Eropa. Sebaliknya, bersama Argentina, Messi masih mencari jati diri lantaran belum mampu mengakhiri puasa gelar selama rentang dua dasawarsa.

“Sulit menjawab alasan mengapa dia (Messi) tidak bisa menunjukkan performanya di Barcelona ketika bermain untuk Argentina. Memang mudah untuk bertanya, tetapi sulit untuk melakukannya di lapangan.” Demikian diungkapkan mantan pemain timnas Argentina, Claudio Caniggia.

Di Barcelona, Messi bisa dibilang beruntung karena mengawali karier bersama Andres Iniesta dan Xavi Hernandez. Berkat kecerdikan Xavi serta ketenangan Iniesta di lapangan, Messi dapat leluasa berkreasi, bebas lari ke sana kemari, mencari ruang sebelum menceploskan bola ke dalam gawang lawan.

Bukti kuatnya pengaruh kedua pemain itu terhadap performa Messi bisa dilihat pada musim 2013-14. Kala itu, Xavi mulai sering dicadangkan oleh Gerardo Martino lantaran faktor usia, sehingga tampak Iniesta “sendirian” di lapangan. Alhasil, Messi melempem karena aliran bola ke dirinya macet.

Messi pun gagal total lantaran Barcelona nir gelar. Tak hanya itu, Messi juga mencatat rekor terburuk sepanjang kariernya karena hanya mampu mencetak total 41 gol dan 16 assist. Hasil itu pun pada akhirnya membuat Messi harus merelakan penghargaan Ballon d’Or yang diraihnya selama empat tahun berturut-turut melayang ke tangan sang rival, Cristiano Ronaldo.

Proses
Tak hanya di tiap bidang kehidupan, dalam dunia sepak bola juga berlaku rumus: setiap kegagalan harus dijadikan pembelajaran untuk meraih kemenangan besar di laga-laga berikutnya. Namun, janganlah lupa dalam pembelajaran itu bakal ada proses penting untuk menuju ke jenjang juara.

Jika pada era Pep Guardiola Messi selalu dilayani di posisi penyerang tengah, kini di bawah asuhan Luis Enrique, Barcelona mencoba mentransformasikan Messi menjadi “pelayan” di sektor sayap kanan. Titik balik proses perubahan posisi Messi sebenarnya sudah terlihat pada Piala Dunia 2014.

Dalam turnamen itu, pelatih Argentina, Alejandro Sabella, mulai kembali membiasakan Messi bermain di sektor sayap kanan. Bersama Angel Di Maria di sektor kiri, Messi secara tak langsung bertugas “menarik” pemain belakang lawan agar Gonzalo Higuain lini depan leluasa mencari ruang.

Taktik itu secara tak langsung menunjukkan bahwa Sabella ingin mulai memainkan sepak bola kolektif agar paradigma Argentina sangat bergantung kepada Messi dapat sedikit berkurang. Akan tetapi, Argentina kurang beruntung karena harus menghadapi Jerman di final yang sudah lebih dulu menunjukkan permainan kolektif sejak awal turnamen.

Mimpi Messi mengangkat trofi Piala Dunia yang sudah di berada depan mata akhirnya pupus. Argentinabertekuk lutut dari Jerman setelah bola hasil tendangan Mario Goetze pada menit ke-103 bersarang ke gawang Argentina yang dikawal Sergio Romero. Namun, pada turnamen inilah Messi menjalani proses besar.

Barcelona pun memfasilitasi proses itu dengan baik. Salah satu caranya dengan merekrut Luis Suarez. Meski sempat dikecam karena melakukan ulah konyol menggigit bek Italia, Giorgio Chiellini, di Piala Dunia 2014, Barcelona tetap membela Suarez. Barcelona yakin, Suarez adalah sosok tepat untuk menambah ketajaman lini depan agar Messi dapat leluasa memainkan peran barunya.

Alhasil, bersama Neymar dan Suarez, Messi kembali mampu menjalankan tugasnya di lini serang Barcelona dengan sangat baik. Lihat saja ketajaman Messi ketika sukses menorehkan total 58 gol dan 38 assist sepanjang musim 2014-15. Messi gemilang, Barcelona senang. Raihan treble winners (Primera Division, Copa del Rey, dan Liga Champions) pun mampu diraih di tangan.

Copa America
Kini, Messi kembali bekerja sama dengan Martino di Copa America 2015. Kehadiran Martino memang menjadi keuntungan sendiri bagi skuad Albiceleste. Maklum, Martino tentunya sudah paham betul bagaimana caranya memperlakukan Messi yang mulai terbiasa dengan peran baru melayani rekan-rekannya.

Sepanjang turnamen, Messi memang baru hanya mencetak satu gol. Namun, secara keseluruhan, penampilan Messi cukup baik. Hal itu dibuktikannya ketika mencetak tiga assist saat Argentina mengalahkan Paraguay 6-1 pada semifinal. Belum lagi, kini muncul sosok Javier Pastore yang dianggap sukses memainkan peran laiknya Xavi atau Iniesta di lini tengah Argentina.

Pesta gol atas Paraguay membuat Argentina lebih diunggulkan saat menghadapi Cile di partai final. Namun, Cile jelas bukan lawan yang dapat dianggap sebelah mata. Apalagi, selain ingin mencetak sejarah pertama kali meraih trofi internasional, Cile juga memiliki keuntungan sendiri bakal didukung lebih dari 40.000 suporter mereka.

Menariknya, selain pertanyaan tim manakah yang mampu meraih gelar juara, bakal muncul kembali pertanyaan lama untuk Messi. Pertanyaan yang mungkin menjadi penyebab raut wajah Messi tampak tak bahagia saat bersanding di sebelah Manuel Neuer ketika dinobatkan sebagai pemain terbaik Piala Dunia 2014.

Di Piala Dunia 2018 mendatang, Messi akan berusia 31 tahun. Dengan begitu, wajarlah jika Copa America tahun ini harusnya dijadikan kesempatan puncak, di mana ia dapat menghapus apriori bahwa ia sungguh mempunyai rasa cinta pada tanah airnya. Mampukah Messi? Kita tunggu saja hasil akhirnya….

*Tulisan ini dimuat juga di Kompas.com menjelang laga final Copa America 2015 antara Cile dan Argentina. / *update: Messi akhirnya kembali gagal membawa Argentina menjadi juara setelah dikalahkan Cile lewat babak adu penalti.

Advertisements