Para pemain Timnas Indonesia U-23 berselebrasi seusai mencetak gol ke gawang timnas Timor Leste dalam kualifikasi Piala Asia U-23 Grup H di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (27/3/2014). Indonesia menang dengan skor 5-0. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES
Para pemain Timnas Indonesia U-23 berselebrasi seusai mencetak gol ke gawang timnas Timor Leste dalam kualifikasi Piala Asia U-23 Grup H di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (27/3/2014). Indonesia menang dengan skor 5-0. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES

SEMENJAK raihan trofi SEA Games 1991 di Manila, tiada lagi kisah indah di sepak bola Indonesia. Selama rentang dua dasawarsa, para pemain skuad Garuda tak lagi bisa melihat cahaya, seperti berada dalam lorong gelap tanpa harapan lantaran krisis gelar juara.

Namun, beruntunglah kita, Indonesia adalah negara yang tak habisnya mencintai sepak bola. Meski ribuan hujatan tak lagi mempan disematkan kepada PSSI, perjuangan timnas bakal terus mendapat apresiasi. Maklum, mereka berjuang demi secercah prestasi, bukan demi mempertahankan kursi petinggi.

Sebentar lagi, perjuangan timnas U-23 akan dimulai di SEA Games Singapura 2015. Segala kegembiraan dan harapan bakal tertumpah di sana. Namun, di sana pula bakal muncul curahan air mata dan duka. 11 negara ikut serta, tetapi hanya ada satu piala. Jika sudah begitu, perjuangan memang terasa amat sia-sia.

Namun, apa mau dikata, itulah sepak bola. Di dalam sepak bola tersimpan keringat, harapan, kegembiraan, serta kekecewaan. Toh, sepak bola itu seperti dunia, tempat di mana berbagai hal bisa diraih, tetapi juga tempat kegagalan bisa terjadi. Sejatinya, tak ada yang pasti dalam sepak bola.

Italia saja bisa menjuarai Piala Dunia 2006, ketika federasi sepak bolanya tersangkut skandal Calciopoli. Spanyol yang menjadi favorit juara Piala Dunia 2014, justru gagal total, tak lagi bisa menari indah laiknya kupu-kupu Iberia dengan tiki-taka. Indonesia? Lebih baik tanyakan dulu kepada pengurus PSSI yang kini sedang disanksi FIFA.

Motivasi
“Kami merasa sedih. Namun, saya meminta pemain tetap semangat dan tampil maksimal demi menciptakan sejarah di situasi sulit seperti ini.” Begitu kata pelatih timnas U-23, Aji Santoso, mengomentari sanksi FIFA untuk Indonesia. Aji sadar betul satu-satunya cara agar pemainnya tetap bersemangat adalah menjaga motivasi.

Perjalanan Indonesia di cabang sepak bola SEA Games sejak beberapa tahun terakhir memang kerap dipenuhi kekecewaan. Teranyar, lihat saja ketika Ramdani Lestaluhu tertunduk lesu di tengah Stadion Zayyarthiri, Naypyidaw, Myanmar, menyaksikan para pemain Thailand berpesta seusai mengalahkan Indonesia 1-0 di partai final.

Semenjak 1991, raihan terbaik Indonesia hanya mampu meraih medali perak pada SEA Games 1999 di Brunei, 2011 di Jakarta, dan 2013 di Myanmar. Oleh karena itu, di tengah kekisruhan sepak bola nasional, harapan bakal kembali tertanam di pundak Evan Dimas dan kawan-kawan.

Di Grup A SEA Games, Indonesia tergabung bersama Singapura, Myanmar, Filipina, dan Kamboja. Melihat calon lawan, di atas kertas, skuad Garuda Muda berpeluang lolos. Namun, ada beberapa ganjalan yang harus diperhatikan oleh Aji. Masalah mental pemain, misalnya, yang pasti terganggu lantaran sempat mengalami ketidakpastian bisa mengikuti SEA Games atau tidak karena sanksi FIFA.

Belum lagi, absennya Yohanes Ferinando Pahabol yang bisa menjadi masalah tersendiri. Pahabol batal berangkat ke Singapura karena tidak diizinkan tetua adat di kampungnya menyusul batalnya laga babak 16 besar Piala AFC antara Persipura dan klub Malaysia, Pahang FA.

Dengan demikian, posisi penyerang hanya menyisakan dua pemain, yakni Yandi Sofyan dan Muchlis Hadi Ning Syaifulloh. Hal ini tentunya bakal membuat Aji harus memutar otak untuk mengatasi persoalan produktivitas lini depan yang semenjak beberapa tahun terakhir selalu bermasalah baik di level usia muda hingga senior.

Jika mampu lolos ke empat besar, timnas pun bakal kembali akan menghadapi cobaan berat. Maklum, calon kuat lawan mereka adalah Thailand, Vietnam, dan Malaysia, yang notabennya menjadi “raksasa” Asia Tenggara. Ketiga negara itu menempati di Grup B bersama Laos, Timur Lesta, dan Brunei Darussalam.

Semangat
Banyak bukti, sepak bola memang bukan rumus fisika. Kemenangan dalam sepak bola tidak cukup diraih hanya dengan mengandalkan prediksi atau kegigihan semata. Bisa jadi, nasib jugalah yang dapat menentukan hasil dari peluh keringat pemain yang berjuang mati-matian di lapangan.

Wajarlah jika muncul anggapan sepak bola seperti dunia yang tidak bisa ditebak. Orang boleh menjagokan Brasil juara, tetapi faktanya beberapa kali justru malanglah nasib mereka. Oleh karena itu, tak bisa disalahkan jika masyarakat Indonesia masih menyimpan asa di setiap perjuangan skuad Garuda.

Kali ini asa itu akan kembali tersimpan di langkah timnas U-23 yang bakal melakoni laga perdana Grup A SEA Games 2015 melawan Myanmar di Stadion Jalan Besar, Selasa (2/6/2015). Semoga motivasi dan semangat Evan Dimas dan kawan-kawan bisa terus terjaga di setiap laga. Semoga mereka juga dapat tetap fokus dan tak terlena dengan karut marut sepak bola Indonesia.

Lupakan sejenak sanksi FIFA untuk PSSI. Toh, jika para pengurus PSSI serius memperhatikan nasib pemain, sejak dulu tak ada lagi alasan kurangnya persiapan jika timnas menuai kegagalan di tiap turnamen luar negeri. Jika serius, sejak dulu pula tidak ada lagi masalah tunggakan gaji.

Harus diingat, mau beribu kali Kongres Luar Biasa digelar, akan tetap sia-sia jika tak ada ketulusan dari para pengurus itu membenahi sepak bola dengan hati. Oleh karena itu, biarkan mereka sibuk dengan urusannya sendiri. Bagi masyarakat Indonesia, di tengah kondisi sepak bola yang makin tak jelas arahnya ini, yang terpenting adalah terus mendukung talenta-talenta muda berjuang agar timnas tak lagi krisis prestasi.

Selamat berjuang, Garuda Muda!

#Tulisan ini juga dimuat di Kompas.com menjelang pertandingan perdana timnas Indonesia U-23 di ajang SEA Games Singapura 2015.

Advertisements