Sungai Han

DI  tepi Sungai Han, pasangan muda berjalan tergesa-gesa. Si laki-laki berpakaian santai mengenakan celana pendek, sedangkan si perempuan mengenakan kaus merah muda. Mereka tak ingin ketinggalan menikmati eksotisme sungai berbalut cahaya senja.

Langit biru bersih berubah menjadi temaram kemerahan. Deretan kursi kayu beserta puluhan taman di tepian membuat panorama terlihat semakin menawan. Taburan kerlap-kerlip lampu aneka warna di bawah Jembatan Banpo muncul di kala gelap mulai menggelayut. Pemandangan yang membuat mata dan hati selalu kepincut.

Han adalah sungai besar di Semenanjung Korea dan merupakan sungai terpanjang keempat setelah Sungai Amnok, Duman, dan Nakdong. Empat provinsi—tiga di Korea Selatan (Korsel), yakni Gangwon, Gyeonggi, dan Seoul, serta satu di Korea Utara (Korut), yakni North Hwanghae—dilewati sungai sepanjang 494 kilometer itu.

Perjalanan panjang sejarah Korsel tidak bisa dilepaskan dari Sungai Han. Hugh Dyson Walker dalam karyanya, East Asia: A New History (2012), menyebutkan, pada abad 1 SM hingga 7 SM, tiga kerajaan besar di Semenanjung Korea, Goguryeo, Paekche, dan Silla, saling berebut menguasai lembah Sungai Han yang letak geografisnya dinilai cukup strategis untuk proses perdagangan.

Stephen LY Gammons dalam The Korean War: The UN Offensive, 16 September-2 November 1950 (1995) menuturkan, ketika Perang Korea (1950-1953) meletus, Sungai Han pun menjadi salah satu basis tentara PBB dan Amerika Serikat. Selain itu, menurut Gammons, Sungai Han juga berperan sebagai “pintu masuk” saat terjadi migrasi besar-besaran penduduk Korea Utara yang mengungsi ke selatan.

Spirit

Pasca-perang, kondisi pesisir Sungai Han menjadi mengerikan. Tumpukan debu menyelimuti daratan. Desa-desa dipenuhi puing reruntuhan rumah dan bangunan. Puluhan juta warga miskin telantar, anak-anak kecil mengais-ngais mencari makan. Kala itu, perekonomian Korsel karut-marut dan mereka seperti berada di ambang kehancuran.

Tentara Amerika Serikat saat berada di jalanan Kota Incheon, Korea Selatan, ketika terjadi Perang Korea, September 1950. / Dok. Britannica.com

“Mari bekerja keras untuk kehormatan bangsa kita. Bersama-sama kita akan ciptakan bangsa yang makmur dengan rumah-rumah yang dipenuhi oleh senyuman lebar,” demikian ucapan lantang Presiden ketiga Korsel, Park Chung-hee, saat berpidato di depan ratusan pekerja asal Korsel di Jerman Barat pada 1964 (The Park Chung Hee Era, editor Pyong-guk Kim, Ezra F Vogel).

Pernyataan Park Chung-hee tersebut kemudian menjadi spirit bagi para pemimpin dan masyarakat Korsel untuk membebaskan diri dari masa kegelapan. Dalam bahasa Profesor Park Sang-il dari Seoul National University of Technology and Science, “Jika tidak menjadi manusia yang unggul, kami akan mati.” (Kompas edisi 4 Oktober 2014).

Russel Gugeler dalam Korea 1988: A Nation at the Crossroads mengungkapkan, pada 1960 hingga 1980-an, produk domestik bruto (PDB) Korsel hanya 64,4 miliar dollar AS. Namun, berkat kerja keras dan tidak malu berguru kepada negara-negara maju seperti AS dan Jepang, Korsel berangsur-angsur bertransformasi menjadi negara industri maju di Asia, bersaing ketat dengan para “guru”-nya, dan jauh melewati Indonesia yang sama-sama merdeka dalam satu masa.

Lihat saja PDB Korsel pada 2014 yang mencapai 1,308 triliun dollar AS dan berada di peringkat ke-14 dunia, sementara Indonesia 868,34 miliar dollar AS. Data setahun sebelumnya menyebutkan pendapatan per kapita penduduk Korsel mencapai 25.977 dollar AS, ketika Indonesia hanya 3.590 dollar AS. (Kompas edisi 20 Oktober 2014).

Mukjizat

Pertumbuhan pesat ekonomi Korsel itu diistilahkan sebagai “mukjizat Sungai Han”. Istilah tersebut berasal dari istilah wirtschaftswunde (mukjizat ekonomi) Sungai Rhein, yang dipopulerkan pada 1956 oleh surat kabar asal Inggris, The Times, ketika melihat perkembangan pesat perekonomian Jerman setelah Perang Dunia II.

Baik Jerman maupun Korsel sama-sama yakin untuk menjadi pemenang. Mereka tidak boleh selalu hanya menyandarkan diri pada bantuan dari luar, selain pada kemampuan mereka sendiri. Keyakinan itulah yang akhirnya memunculkan semangat pantang menyerah, rajin, pandai menahan diri, serta cerdik melihat situasi.

“Seperti pada lomba lari, jika kita ingin cepat berlari, kita harus memastikan selalu berlari di samping pelari cepat. Ketika dia kelelahan, kita punya kesempatan untuk menyalip,” ujar Rezky Seok-gi Kim, Direktur Pusat Kebudayaan Korea di Jakarta.

“Pelari cepat itu Jepang, dan setiap orang Korea Selatan punya semangat untuk mengalahkan Jepang karena faktor sejarah, yakni penjajahan Jepang terhadap Korea.” (Lihat: “Revolusi Mental” ala Korea, multimedia Kompas.com).

John Naisbitt, dalam Global Paradox: The Bigger the World Economy, the More Powerful Its Smallest Players (1994), menuliskan analisisnya bahwa Asia bakal menjadi pusat dunia. Suatu saat nanti, menurut futurulog asal AS tersebut, wilayah Asia Pasifik akan “didestinasikan” untuk memimpin ekonomi global dunia.

“Ramalan” Naisbitt itu pun perlahan terbukti, antara lain ketika melihat perkembangan Korsel menjadi salah satu negara industri terbesar di Asia, bahkan dunia. Lima Jaebol, sebutan untuk perusahaan besar penggerak ekonomi di Korsel—yakni Samsung Group, Hyundai-Kia, SK, LG, dan Lotte—kini sudah melebarkan sayapnya di dunia.

Perubahan logo Samsung dari masa ke masa. / Samsung Village

Korsel juga sudah menjadi penantang serius bagi “guru”-nya, Jepang dan AS. Lihat saja perjalanan Samsung, perusahaan yang awalnya berbisnis bahan kebutuhan pokok pada awal 1930-an, sekarang sudah bersaing sengit dengan kedua negara tersebut. Untuk kategori pasar ponsel pintar dunia, misalnya, Samsung telah menguasai 25,2 persen (AFP edisi 8 Juni 2014).

Kesuksesan Samsung menjadi “raja” di dunia smartphone itu diraih tak semudah laiknya membalikkan telapak tangan. Mereka terus berinovasi dalam produk-produknya untuk menjawab berbagai tantangan, seiring industri-industri besar di AS dan Jepang perlahan-lahan surut “termakan” zaman.

“Project Zero”

Bukan berarti Samsung dan industri Korea lalu berpuas diri. “Kami mengambil langkah ke belakang dan kembali ke awal, back to basic,” ujar Manager Global Product Planning Samsung Min Seok-kang dalam World Mobile Congres 2015 di Barcelona, Spanyol, Senin (3/3/2015). Kalimat itu menjadi pengantar saat dia memperkenalkan produk ponsel seri Galaxy terbaru, S6 dan S6 Edge.

Galaxy S6 dan S6 Edge tidak meneruskan rancangan desain dari model-model terdahulu seri Galaxy S, tetapi dibuat dari nol. Rancangan kedua gadget itu menggunakan nama sandi “Project Zero”. Bisa dibilang, Galaxy S6 dan S6 Edge adalah hasil pembelajaran atas pelbagai produk Samsung sebelumnya.

Samsung merilis duo Samsung Galaxy S6 di Barcelona, Minggu petang (1/3/2015) waktu setempat. / Oik Yusuf/Kompas.com

Terlebih lagi, sejarah dibuat untuk memproyeksikan masa depan yang lebih baik. Dalam “Project Zero”, Samsung mengerti betul pentingnya merefleksikan diri “ke belakang” untuk memulai perubahan. Salah satu perubahan itu, misalnya, terdapat pada material logam dan kaca yang kini menjadi bahan utama cangkang, menggantikan bahan plastik yang pada seri Galaxy S kelas atas sebelumnya terus dihujani kritik.

Selain itu, Galaxy S6 dan S6 Edge itu juga berganti tubuh dengan desain unibody dan baterai terintegrasi, yang belum pernah diterapkan dalam seri-seri S sebelumnya. Selain desain, kinerja perangkat tersebut juga diperbaharui dengan teknologi yang termasuk sangat tinggi. (Baca: Kesan Pertama Menggenggam Galaxy S6 dan S6 Edge).

Ponsel terbaru Samsung itu tak hanya menggunakan bodi aluminium, tetapi juga memakai prosesor dan layar buatan sendiri. Samsung sejak lama telah mengembangkan prosesor Exynos yang seperti Snapdragon buatan Qualcomm—prosesor yang selama ini ditanamkan di ponsel pintar premium Samsung—juga berbasis arsitektur system on chip dari ARM. Layar Amoled pada S6 Edge bahkan akan sulit ditiru para kompetitor.

Min Seok-kang mengatakan, secara keseluruhan, Galaxy S6 dan S6 Edge menganut konsep “beauty meets purpose”, yang membuat setiap elemen ponsel tidak hanya didesain dengan indah, tetapi juga fungsional. Konsep itu juga yang menjadi faktor utama keputusan Samsung mencoba back to basic, demi menjaga kepuasan konsumennya di berbagai belahan penjuru dunia.

Samsung Galaxy S6 DAN S6 Edge / Samsung.com

Toh, dalam bidang kehidupan apa pun, kesalahan besar ataupun kecil yang berujung pada kegagalan adalah hal biasa. Namun, yang terpenting, kesalahan-kesalahan itu harus pula dijadikan sumber inspirasi dan motivasi untuk meraih kesuksesan pada langkah-langkah berikutnya.

Perjuangan Samsung adalah salah satu potret nyata bahwa bagi rakyat Korsel tidak ada yang mustahil di dunia. Sejarah suram bangsa menjadi penyemangat untuk membuat perubahan. Oleh karena itu, tidak heran pula mengapa eksistensi “mukjizat Sungai Han” selalu terpatri dalam perjalanan mereka, meski zaman silih berganti.

Tujuan Samsung beserta para Jaebol lain hanya satu, hasil karya bangsa mereka sendiri mampu merajai dunia. Mereka akan terus bekerja keras mencari cara agar produk-produk terbarunya menjadi yang terbaik sekaligus menampilkan keindahan tanpa batas, laiknya aliran Sungai Han di kala senja yang menawan.

Meskipun bisa jadi kita tak bisa mencapainya pada masa hidup kita, mari bekerja demi anak cucu kita agar mereka bisa hidup dalam kemakmuran, seperti orang-orang lain di dunia.” – Park Chung-hee

Advertisements