SEBUAH monumen batu, tegak di samping Jembatan Mahakam, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Meski kusam dan tidak terawat, patung batu dua ekor pesut mahakam (Orcaella brevirostris) yang berada di atas monumen tersebut tetap terlihat seolah tengah bermain riang gembira.

Pada 2 Agustus 1986, Monumen Pesut Mahakam itu diresmikan Presiden Kedua Republik Indonesia, Soeharto. Peresmian monumen dengan dua pesut tersebut dilakukan bersamaan dengan pembukaan Jembatan Mahakam, jembatan sepanjang 400 meter yang dibangun untuk menghubungkan Kota Samarinda dengan wilayah Kecamatan Samarinda Seberang.

Bagi penduduk setempat — tak hanya Kota Samarinda tetapi seluruh wilayah di aliran Sungai Mahakam, termasuk Kutai Kartanegara— monumen pesut mahakam adalah simbol kota mereka.  Pesut mahakam sejak puluhan tahun lalu dianggap telah hidup bertetangga dengan masyarakat setempat yang mayoritas bekerja sebagai nelayan.

Namun, tak seperti keriangan yang tampak di Monumen Pesut Mahakam, nasib hewan mamalia air yang hidup di sungai-sungai daerah tropis itu terancam. Pesut Mahakam sudah nyaris punah, sebagai satu lagi potret buram dari pembangunan yang tak selalu mendatangkan nuansa cerah di wilayah kaya sumber daya alam.

Sangat terancam

Randall R Reeves dalam karyanya Dolphins, Whales and Porpoises: 2002-2010 Conservation Action Plan for the World’s Cetaceans, menuturkan, Orceaella brevirostis di perairan Sungai Mahakam memiliki kesamaan dengan yang ditemukan di Sungai Irawaddy di Myanmar dan Mekong di Vietnam.

Berdasarkan catatan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), Orceaella brevirostis di Sungai Mahakam berada dalam status sangat terancam punah. Hasil penelitian Yayasan Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) pun mencatat hanya 90 ekor pesut yang masih berada di perairan sungai Mahakam pada 2007.

Hasil penelitian itu juga menyebutkan rata-rata kematian antara 1995 hingga 2007 adalah empat ekor pesut per tahun. Penyebab kematiannya, mulai dari tersangkut di jaring para nelayan, penurunan jumlah makanan akibat teknik penangkapan ikan ilegal, hingga kerusakan habitat akibat ponton pengangkut batubara.

“Makanya kita semua termasuk masyarakat, pemerintah, swasta dan siapa saja yang terkait dengan Mahakam saya harap mendukung pelestarian pesut dengan tidak berbuat sesuatu yang dapat merusak Sungai Mahakam,” ujar salah satu peneliti Yayasan RASI, Danielle Kreb, belum lama ini.

Saksi zaman sejarah bangsa bermula

Sungai Pela, anak Sungai Mahakam di Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kaltim, Rabu (3/9/2014). Kawasan ini merupakan salah satu habitat mamalia air tawar terancam punah yaitu pesut mahakam, yang populasinya tidak lebih dari 90 ekor. KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT


Sejak awal, Sungai Mahakam tidak bisa dilepaskan dari perjalananpanjang sejarah bangsa Indonesia. Berkembangnya peradaban kerajaan yang dihuni berbagai ras, adat-istiadat di wilayah Kalimantan Timur sangat berkaitan erat dengan teknologi kemaritiman yang memanfaatkan aliran Sungai Mahakam.

JG de Casparis, sejarawan asal Belanda, dalam karyanya Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia from Beginnings (1975), mencatat ada tujuh prasasti yupa yang ditemukan di kawasan Muara Kaman, kampung yang terletak sekitar 110 kilometer ke arah hulu Sungai Mahakam dari Kota Samarinda. Prasasti yupa tersebut, menurut Casparis, ditemukan pada 1879 dan 1940.

Bahasa sanskerta dan aksara pallawa yang tertulis dalam beberapa prasasti Yupa itu diperkirakan berasal dari permulaan abad kelima atau sekitar 400 Masehi. Menurut para sejarawan, sejumlah prasasti Yupa ini merupakan sumber data tekstual tertua yang pernah ditemukan di Indonesia sejauh ini. Dengan begitu, bisa dikatakan, wilayah Muara Kaman, yang terletak di pedalaman sungai Mahakam itu merupakan tempat bermulanya zaman sejarah bagi bangsa Indonesia.

Dalam salah satu prasasti Yupa disebutkan, pada masa Kerajaan Kutai Martapura ada persembahan emas yang sangat banyak kepada para Brahmana dan persembahan sapi dari Raja Mulawarman yang berjumlah 20.000 ekor. Berdasarkan sumber sejarah itulah, tidak heran di daerah pesisir Mahakam ditemukan beberapa artefak seperti keramik-keramik serta patung perunggu.

Seiring perjalanannya, Kerajaan Kutai Martapura kemudian mulai menjalin hubungan ekonomi dengan bangsa-bangsa asing. Di sinilah aliran Sungai Mahakam mulai memainkan peran vital bagi kehidupan penghuni-penghuninya di pesisir. Sungai dengan panjang 920 kilometer itu pun bertransformasi laiknya “jalan raya” bagi proses perdagangan.

N J Krom dalam The First Hindu Coin from Java (1968), menuliskan transaksi para pedagang di perairan Sungai Mahakam secara tidak langsung telah menjalin interaksi hubungan agama dan budaya. Hal itu, menurut Krom, terjadi karena beberapa saudagar asing yang melakukan proses dagang, terutama yang berasal dari India, merupakan penyebar agama Hindu dan Budha.

Sungai Mahakam, sang urat nadi ekonomi
Selama berabad-abad lamanya, Sungai Mahakam menjadi urat nadi penting bagi para penghuni tepiannya, hingga kini. Ratusan kapal mulai dari jenis perahu kecil, perahu panjang, kapal barang, kapal penarik kayu, kapal pengangkut alat berat, hingga kapal tongkang batubara, setiap hari rutin beraktivitas di perairan sungai Mahakam. Pun halnya dengan para nelayan yang mencari ikan.

Namun, terdapat masalah yang terselip di antara aktivitas super sibuk itu. Kekayaan peninggalan sejarah Kerajayaan Kutai Martapura di sepanjang Sungai Mahakam, tak lagi berjejak nyata dalam kehidupan nyata saat ini. Peninggalan sejarah kebudayaan terus tergerus, nasib para penduduk lokal pun masih sulit menemukan kata sejahtera dalam hidupnya.

Pada 2014, Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk Kutai Kartanegara —misalnya— mencapai Rp 7,603 triliun (Kompas, edisi 13 November 2014). Namun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, Kutai Kartanegara tercatat memiliki 47.100 penduduk miskin pada 2012 dari total penduduk berjumlah 676.464 orang berdasarkan data Kutai Negara menurut Kutai Kartanegara Dalam Angka 2013.

Buku terbitan Badan Pusat Statistik itu menyebutkan pula bahwa pendidikan tertinggi dari 64 persen warganya adalah setingkat SMA, dengan 13 persen penduduk tak lulus SD, dan hanya 5 persen yang berpendidikan sarjana. Belum lagi melihat semakin sulitnya masyarakat setempat yang menggantungkan mata pencarian dari hasil Sumber Daya Alam sekitar pesisir Mahakam.

Desa Kota Bangun Seberang di Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kaltim, Kamis (4/9/2014). Kawasan ini merupakan salah satu habitat mamalia air tawar terancam punah yaitu pesut mahakam, yang populasinya tidak lebih dari 90 ekor. KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT

Para perajin anyaman dari Suku Dayak Aoheng, misalnya, sudah bersuara tentang kesulitan mereka mendapatkan bahan baku. Kesulitan itu tidak terlepas dari pembabatan hutan-hutan di beberapa wilayah Kalimantan Timur yang diubah menjadi perkebunan sawit.

Sesilia Tipung (24), salah satu perajin anyaman dari suku Dayak Aoheng, bertutur tentang masyarakat Dayak di kampungnya di Kecamatan Long Bahun, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, yang semakin sulit mencari bahan baku anyam-anyaman, seperti rotan, pandan hutan, dan bambu.

“Kami akhirnya menanam sendiri rotan, pandan hutan, dan bambu untuk mencukupi kebutuhan bahan baku anyam-anyaman,” demikian ungkap Sesilia di sela-sela Pameran Budaya Sei Mahakam di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (7/11/2014). “Anyam- anyaman tradisional Dayak nyaris punah karena hampir tidak ada lagi anak muda yang tertarik belajar kerajinan yang rumit ini.”

Kesulitan Sesilia bersama beberapa perajin anyaman suku Dayak Aoheng itu menjadi salah satu potret nyata dari peninggalan sejarah di Kalimantan Timur semakin terpinggirkan akibat maraknya aktivitas industri yang terkesan tidak sensitif terhadap pemeliharaan kebudayaan lokal.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar, Sri Wahyuni,  Rabu (12/11/2014), mengakui bahwa wilayahnya tidak dapat terus-menerus mengandalkan sektor migas dan tambang. Bagaimanapun, pemasukan dari sektor tersebut akan terus berkurang seiring menyusutnya SDA tak terbarukan. Oleh karena itu, kata Sri, wilayahnya mulai melirik pariwisata dan budaya sebagai potensi lokal

Menurut catatan Kompas edisi 8 November 2014, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup per Maret 2014, sebanyak 41,6 juta hektare atau 72,63 persen luas daratan di Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur, telah dikapling untuk usaha tambang, perkebunan, dan industri kayu. Pesisir Mahakam bakal semakin terpinggir dan semakin jauh dari kata sejahtera.

Ironi
Bicara soal kesejahteraan, Bung Karno dalam pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945, mengungkapkan, negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Negara Indonesia, menurut Bung Karno, adalah “semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu”.

Pun halnya dengan Bung Hatta, yang selalu menekankan persamaan nasib dan tujuan untuk kesejahteraan rakyat dan kemakmuran bangsa Indonesia. Menurut Bung Hatta, jika makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta.

Dari pemikiran dua Bapak Bangsa itu muncullah konsep ekonomi Pancasila. Namun, konsep itu lebih memberikan kesan sebagai slogan pemanis belaka dalam kehidupan berbangsa. Sistem kepedulian antar-sesama semakin tergerus ke lubang nestapa, berlimpahnya kekayaan alam di negeri ini tak berkorelasi nyata dengan kesejahteraan seluruh tumpah darahnya.

Terancam punahnya Pesut Mahakam dan ketidakjelasan masa depan anyaman Dayak, adalah sejumput kecil potret buram yang menggambarkan cita-cita para pendiri bangsa masih jauh api dari panggang. Belum lagi bicara kebudayaan dan kearifan lokal.

Suatu hari nanti, keriangan dua ekor Pesut Mahakam bisa jadi hanya tersisa dalam rupa paduan imajinasi dan kenangan saat menatap Monumen Pesut Mahakam, yang itu pun kondisinya tak terawat.

Mereka (Pesut Mahakam) yang hidup di perairan ini kelihatan bebas. Saya kagum, otaknya canggih, bisa pakai sonar. Ketika di bawah air mereka suka memperlihatkan senyumnya. Mereka juga sangat peduli sama anak-anaknya.” – Danielle Kreb.

Bila tak ada upaya nyata menyelaraskan potensi dan program yang benar-benar membuat rakyat berdaya, bisa jadi kata-kata Kreb tersebut pun bakal terlalu sulit dibayangkan, seiring eksploitasi sumber daya alam yang menyisakan lubang galian. Dalam sunyi, satu dua ekor Pesut Mahakam mungkin masih “bernyanyi” kini, entah esok hari…

#Dimuat juga di Kompas.com

Advertisements