Kejahatan di Sepak Bola Indonesia

Ilustrasi. Gaya dan Aksi para suporter Timnas Indonesia saat melawan Timnas Singapura dalam laga Piala AFF 2012 di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (28/11/2012). KOMPAS/WAWAN H PRABOWO I
Ilustrasi. Gaya dan Aksi para suporter Timnas Indonesia saat melawan Timnas Singapura dalam laga Piala AFF 2012 di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (28/11/2012). KOMPAS/WAWAN H PRABOWO I

KEKERASAN dan kecurangan sudah menjadi kebiasaan dalam sepak bola Indonesia. Dua kejahatan itu seakan-akan menjadi aktivitas rutin, sampai masyarakat tidak merasa aneh lagi.

Lihatlah apa yang terjadi dalam kompetisi Divisi Utama sepak bola negeri ini. Berita-berita dari kompetisi itu lebih banyak bukan lagi persoalan sepak bola, melainkan tentang kerusuhan, ketakutan pemain yang bertandang, skandal pengaturan skor, dan kepemihakan wasit kepada tuan rumah.

Teranyar, contoh masalah itu bisa dilihat dari hasil laga terakhir Grup N Divisi Utama antara tuan rumah, PSS Sleman melawan PSIS Semarang di Stadion Sasana Krida, Minggu (26/10/2014). PSS menang 3-2 atas PSIS. Tetapi, kelima gol dalam pertandingan tersebut berasal dari gol bunuh diri!

Jika menggunakan akal sehat, dapatkah dibayangkan bagaimana bisa seorang pesepak bola menceploskan bola ke gawang sendiri lalu tampak berlari kegirangan sembari melakukan selebrasi. Bagaimana bisa pula gol-gol bunuh diri yang tercipta dirayakan oleh suporter timnya sendiri?

Bisa dibayangkan juga motif apa yang membuat para pemain kedua tim melakukan hal menjijikkan tersebut? Apakah mereka ingin menghindari tim-tim hebat dari Eropa? Atau apakah mereka sudah tahu bakal menerima “bencana” jika melawan calon lawannya di pertandingan semifinal nanti?

Belum lagi, peristiwa itu pun terjadi sepekan setelah laga Divisi Utama lainnya antara Persis Solo dan Martapura FC di Stadion Mahanan Solo, Rabu (22/10/2014), berakhir ricuh. Tidak hanya ricuh, laga itu akhirnya memakan korban jiwa setelah satu orang suporter ditemukan tewas seusai pertandingan.

Cerminan
Itulah cerminan sepak bola Indonesia. Bukan sportivitas atau kejutan-kejutan untuk meraih prestasi membanggakan, melainkan kekerasan dan kecuranganlah yang kerap menguasainya di lapangan.

Toh, ini bukan kali pertama, “sepak bola gajah” terjadi di dunia sepak bola Indonesia. Dan bukan kali pertama juga, anak-anak negeri tewas mengenaskan akibat pertikaian-pertikaian dalam sepak bola di dalam negeri.

Pada Januari 1988, Persebaya takluk 0-12 dari Persipura Jayapura di Stadion Gelora 10 Nopember. Persebaya dikabarkan “sepakat” untuk kalah dengan skor telak seperti itu agar PSIS Semarang tersingkir karena kalah selisih gol dari Persipura.

Tidak hanya di level klub, mantan bek timnas Indonesia, Mursyid Effendi, juga pernah mencetak gol bunuh diri saat menghadapi Thailand agar Indonesia tidak bertemu dengan Vietnam di ajang Piala Tiger 1998. Akhirnya, Effendi menerima sanksi larangan tampil seumur hidup di pertandingan internasional dari FIFA.

Untuk masalah kerusuhan antarsuporter, pada 2013 sempat terjadi insiden jauh lebih mengerikan. Lihat saja insiden empat suporter tewas hanya dalam sepekan seusai menyaksikan pertandingan Persija Jakarta melawan Persib Bandung pada 27 Mei dan Persebaya 1927 kontra Persija Jakarta pada 3 Juni.

Kenapa?
Atas berbagai fakta-fakta mengerikan itu, rasanya masyarakat Indonesia sudah bosan jika terus-terusan mengumpati PSSI. Sudah bosan pula kita menyerukan PSSI untuk membenahi karut marutnya kompetisi sepak bola di negeri ini. Mengapa bosan? Karena masalah itu masih terus terjadi.

Lantas, apa yang salah sehingga kekerasan dan kecurangan seperti itu terus terjadi di lapangan sepak bola? Daripada terus-terusan meminta pertanggung jawaban PSSI, saya pribadi lebih memilih untuk mengkritik pola pikir mereka dan manusia-manusia yang menghuni alam raya bernama, INDONESIA.

Legenda sepak bola Jerman, Franz Beckenbauer, pernah berkata seperti ini: Sepak bola adalah cerminan sebuah bangsa. Pernyataan Beckenbauer itu pun rasanya tepat jika dialamatkan untuk kondisi yang terjadi di dalam negeri ini.

Kejahatan ditandai dengan merosotnya sopan santun dan moral. Di luar sepak bola, tidak sulit mencari contoh masalah tersebut. Toh, sebelum aksi “adu gol bunuh diri” di Sleman, masyarakat Indonesia sempat dipertontonkan lelucon membosankan para anggota DPR di sidang paripurna beberapa waklu lalu.

Rakyat ingin bersatu, wakil mereka di DPR justru malah berseteru, memecah diri dalam politik kubu. Bukannya segera memperjuangkan kepentingan umum, tetapi mereka ribut memperebutkan kursi ketua komisi. Upaya itu pun tidak lagi dilakukan dengan komunikasi santun penuh etika, melainkan emosi serta menggebrak-gebrak meja.

Merosotnya moral dan sopan santun seperti itu tanpa disadari akan menjadikan manusia tidak beradab. Pada akhirnya hal itulah yang mendorong manusia untuk menghalalkan segalanya, termasuk ketika menghilangkan nyawa manusia serta mengeruk keuntungan untuk memperkaya diri melalui jalan pintas dengan cara korupsi.

Lebih mengerikan lagi, perilaku konyol seperti itu terkadang secara terbuka dipertontonkan di hadapan ratusan jiwa penduduk Indonesia. Dari jutaan jiwa tersebut, mungkin ratusan ribu di antaranya adalah anak-anak yang bisa jadi merupakan calon generasi penerus pemimpin bangsa.

Apakah masalah terbesar dari seorang ayah yang tanpa rasa bersalah menunjukan tindakan melanggar aturan lalu lintas di depan anaknya? Jawabannya bukanlah kemacetan. Tetapi, dengan kemampuan daya tangkap yang luar biasa, seorang anak akan merekam dan siap menirunya di kemudian hari.

Dengan begitu sampai kapanpun masalah lalu lintas itu tidak akan hilang. Begitulah beberapa contoh kondisi nyata dalam kehidupan sosial dan berpolitik kita. Sejumlah masalah kehidupan berpolitik itu pun rasanya tidak akan hilang jika tidak ada niat tulus dan kemauan dari mereka untuk memperbaiki pola pikirnya sendiri demi kemajuan bangsa.

Hakikat
Mengacu ke pernyataan Beckenbauer, berbagai persoalan sosial-politik itu pun bisa masuk ke ruang lingkup sepak bola. Sama seperti kehidupan berbangsa, dalam bidang olahraga apapun setiap masalah bakal selalu dialamatkan ke pemimpinnya, dengan kata lain, adalah induk federasi cabang olahraga.

Logika sederhananya adalah setiap timbul masalah, pasti ada akar penyebabnya. Tetapi, jika akar penyebab itu tidak diselesaikan hingga tuntas, wajar masalah akan terus terjadi. Kalau sudah begini, pola pikir para stakeholder sepak bola, termasuk pengurus PSSI, yang menjadi titik krusial.

Jika mereka semua serius dan tulus mengilhami bahwa hakikat sepak bola adalah olahraga yang penuh keindahan dan kejujuran, sejatinya, berbagai persoalan seperti karut marut sistem dan mutu kompetisi, pembayaran hak-hak pemain yang belum terealisasi, serta perbaikan perangkat pertandingan, perlahan-lahan pasti bisa teratasi.

Toh, jika hak-haknya dipenuhi dengan baik, para pemain tidak akan rentan tergoda menerima uang haram yang dapat berimbas pada mutu kompetisi. Jika ada fasilitas serta perangkat pertandingan berkualitas, adu jotos di akhir laga pun bisa dihindari karena suporter puas menyaksikan permainan yang berkelas.

Namun, jika berpikir sepak bola hanya urusan menang dan kalah, apa bedanya mereka dengan pejudi yang melakukan “bisnis” untuk mengeruk keuntungan semata. Dari pemikiran seperti itulah tanpa disadari dapat muncul praktik-praktik mafia. Dan bisa jadi, disitulah letak sesungguhnya kejahatan utama sepak bola Indonesia.

#Tulisan ini dimuat juga di Kompas.com, setelah adanya lima gol bunuh diri di pertandingan Divisi Utama antara PSS Sleman dan PSIS Semarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: