Pemain Indonesia berselebrasi setelah membobol gawang Korea Selatan pada pertandingan kualifikasi Piala Asia U-19 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu(12/10/2013). Indonesia lolos ke putaran final Piala Asia U-19 yang akan berlangsung di Myanmar tahun depan, setelah menang dengan skor 3-2. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

JUARA  itu susah dicari, tetapi pemain bagus bisa diciptakan. Begitu kata Anatoly  Fyodorovich Polosin seusai membawa tim nasional Indonesia meraih emas cabang sepak bola SEA Games 1991. Kata-kata itu diungkapkan pelatih asal Rusia tersebut berdasarkan realita di dalam dunia sepak bola Indonesia.

Indonesia adalah gudangnya pesepak bola bertalenta. Karena itulah, sepak bola di negeri ini menjadi fiesta. Betapa murungnya Indonesia jika tidak ada sepak bola. Karena, bagi ratusan juta jiwa masyarakat dari Sabang sampai Merauke, sepak bola adalah hiburan dan perayaan di atas segala-galanya.

Dalam sepak bola ada keseriusan, perjuangan, kegigihan, dan kekeluargaan. Karena melalui sepak bola, anak-anak, orang tua, teman, saudara hingga kakek dan nenek bisa berkumpul sembari menyatukan dukungan. Tetapi, janganlah lupa bahwa sepak bola itu harus bisa membuat kegembiraan.

Belakangan ini Indonesia kembali dibelit persoalan politik yang penuh intrik dan keruwetan. Lihat saja, lakon-lakon sandiwara dari para anggota dewan di Senayan. Masyarakat Indonesia lelah karena drama konyol mereka itu masih saja dipertontonkan. Kita butuh sesuatu yang menyegarkan.

Untunglah, dalam beberapa hari ke depan bakal datang secercah harapan di mana sepak bola bisa menjadi sesuatu yang menggembirakan. Kegembiraan yang diharapkan bisa menjadi oase menyegarkan. Dan kegembiraan itu ada dalam pundak para pemain timnas Indonesia U-19 yang akan berlaga dalam Piala Asia U-19 di Myanmar.

Proses
Penulis asal Inggris, Alex Bellos, dalam karyanya Futebol: Brazillian Way of Life berkata seperti ini: Dalam sepak bola tidak semua pertandingan bisa berakhir dengan kemenangan, yang hanya sejenak dirayakan. Banyak pula pertandingan sepak bola berakhir dengan kisah memilukan yang sulit dilupakan.

Pernyataan Bellos itu rasanya tepat jika dialamatkan untuk Indonesia. Sepak bola Indonesia banyak menyimpan kisah, pahit atau manis, yang takkan hilang dari ingatan. Ambil, misalnya, kisah manis ketika munculnya julukan Macan Asia untuk Indonesia di era 1950 hingga 1980-an dan pahit kala suasana gelap gulita menaungi sistem kompetisi dan ulah para pengurus federasi sepak bola di negeri ini.

Dalam sepak bola, kisah pahit dari kekalahan di dalam lapangan adalah hal biasa. Akan tetapi, sejatinya, kekalahan ata kegagalan memilukan itu harusnya bisa dijadikan sumber inspirasi dan motivasi untuk meraih meraih kemenangan di sejumlah pertandingan atau ajang yang lebih besar berikutnya.

Semenjak emas SEA Games 1991, rakyat Indonesia tidak pernah merasakan atmosfer juara, hingga muncullah para pemain timnas U-19 mampu berpesta di ajang AFF U-19 2013. Maka dari hal itulah, wajar jika masyarakat Indonesia kini menyimpan optimisme besar dari perjuangan Evan Dimas dan kawan-kawan.

“Kalau proses ini bisa dilalui, saya yakin di usia 21 tahun ke atas, mereka (para pemain timnas U-19) bakal menjadi tim yang terkuat di Asia. Saya yakin itu.” Demikian diungkapkan pelatih timnas U-19, Indra Sjafri.

Proses, bagi Indra Sjafri, adalah kewajiban mutlak yang harus dilakukan agar Indonesia bisa kembali meraih prestasi. Karena pemikiran itulah, pelatih asal Sumatera Barat tersebut sejak beberapa tahun lalu secara suka rela mencari pemain bertalenta dengan blusukan hingga ke pelosok Indonesia.

Toh, upaya Indra itu kembali membuka mata kita bahwa rantai yang hilang dari sepak bola Indonesia adalah keseriusan dalam proses menciptakan skuad timnas yang hebat. Maklum, sudah banyak bukti semenjak beberapa tahun terakhir proses instan-lah yang selalu menjadi andalan pengurus sepak bola negeri ini. Hasilnya? Sudah bisa ditebak, yaitu KEGAGALAN.

Berjuang
Sekarang, mari sejenak kita tinggalkan kisah pahit dari kegagalan masa lalu. Kini terbentang tantangan besar untuk menebus kegagalan tersebut yaitu dengan lolos ke Piala Dunia U-20 2015 Selandia Baru. Tantangan itu pun mau tidak mau harus dilalui dengan kerja keras, pengorbanan, dan perjuangan di ajang Piala Asia U-19 Myanmar.

Agar lolos ke Piala Dunia U-20, Indonesia minimal harus mencapai semifinal di Piala Asia U-19. Target itu kiranya tidak mudah bagi para pemain Garuda Jaya karena kali ini lawan-lawan yang bakal dihadapi mereka adalah level Asia.

Indonesia tergabung di Grup B bersama Uzbekistan, Australia, dan Uni Emirat Arab. Di pertandingan pertama, Indonesia akan menghadapi Uzbekistan pada Jumat (10/10/2014). Hasil dari laga inilah yang bakal menentukan progres timnas U-19 pada pertandingan-pertandingan berikutnya.

Wajar jika Uzbekistan dibilang bakal menjadi batu karang besar bagi Indonesia. Maklum, Uzbekistan saat ini telah bertransformasi menjadi kekuatan sepak bola baru Asia, selain Jepang, Korea Selatan, dan Iran. Lihat saja bagaimana negara berpenduduk 30 juta jiwa itu kini menempati peringkat ketiga FIFA di level AFC.

Uzbekistan bahkan sudah mencatatkan torehan mengesankan dengan empat kali lolos ke Piala Dunia U-20 (2002, 2008, 2012, 2013), lewat jalur empat besar Piala Asia U-19. Teranyar, performa mereka di Piala Dunia U-20 2013 Turki juga cukup impresif, dengan melenggang ke babak perempat final, sebelum dikalahkan Perancis, yang akhirnya keluar sebagai juara.

Jika mampu mencuri poin atas Uzbekistan, Evan Dimas dan kawan-kawan tentunya bakal mendapatkan suntikan moral tinggi untuk laga-laga selanjutnya. Namun, jika gagal, mau tidak mau mereka harus berjuang ekstra keras saat melawan Australia pada Minggu (12/10/2014) dan UEA, Selasa (14/10/2014).

Mengapa ekstra keras? Karena Australia dan UEA juga bukanlah lawan yang bisa dipandang sebelah mata. Melihat faktor pengalaman bertanding, Australia pada Piala Asia U-19 2012, sukses melangkah ke semifinal. Skuad asuhan Paul Okon itupun kini diisi para pemain terbaik di National Youth League yang rata-rata memiliki postur tubuh tinggi untuk ukuran Asia.

Sementara itu, Indonesia memang mampu mengalahkan UEA dua kali (2-1 dan 4-1) dalam pertandingan uji coba Timur Tengah pada April lalu. Namun, hasil itu jelas tidak dapat dijadikan patokan karena tim asuhan Abdulla Misfer itu pastinya telah meminimalisir kekurangan skuadnya di rangkaian uji coba yang sudah dilakoni mereka.

Apalagi, ajang Piala Asia U-19 juga sudah tidak asing lagi bagi UEA. Dari 10 kali keikutsertaan di turnamen tersebut, mereka bahkan berhasil merebut satu kali gelar juara pada 2008. UEA akan menjadi lawan berat mengingat mereka sangat baik dan kompak sebagai tim. Para pemainnya pun memiliki skill dan stamina yang mumpuni.

Hiburan
Pada akhirnya, sepak bola memang bukan rumus fisika. Sudah banyak bukti, kemenangan dalam sepak bola tidak cukup diraih hanya dengan mengandalkan prediksi atau kegigihan semata. Bisa jadi, takdir jualah yang dapat menentukan nasib dari 22 pemain yang bertarung mati-matian di atas lapangan.

Atas berbagai keterbatasan kondisi sepak bola negeri ini, ratusan juta masyarakat Indonesia pun rasanya sudah sadar betul bahwa mereka juga harus realistis. Tetapi, jangan lupa bahwa dalam sepak bola masih ada unsur-unsur yang tak dapat diperhitungkan yang bisa mendobrak segala ketidakmungkinan.

Dari sudut pandang itulah masyarakat Indonesia kini menaruh harapan besar kepada para penggawa timnas U-19. Para penggawa yang sudah menunjukkan bukti nyata bahwa sejauh ini hanya merekalah yang bisa membawa kegembiraan bagi ratusan juta rakyat Indonesia di kancah sepak bola.

Bukti nyata itu terlihat dari peluh keringat Evan Dimas dan kawan-kawan ketika berjuang selangkah demi selangkah mencari secercah prestasi ketika sukses meraih trofi Piala AFF U-19 2013. Tujuan mereka hanya satu yaitu mewujudkan cita-cita besar agar Indonesia bisa bersaing di level dunia.

Jadi, pernyataan Polosin puluhan tahun lalu itu masih relevan hingga saat ini untuk kondisi sepak bola nasional. Indonesia harus optimistis karena memiliki sumber daya sepak bola melimpah. Namun, Indonesia juga harus tetap realistis karena mempersiapkan tim juara tidak mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan.

Dengan kata lain, boleh meletakkan cita-cita setinggi langit, tetapi harus ada pula kesadaran akan keterbatasan. Semua hal itulah yang ingin kita petik ketika menyaksikan perjuangan para pemain timnas U-19 di Myanmar. Semoga hiburan dari mereka di atas lapangan dapat sejenak mengistirahatkan masyarakat Indonesia dari rangkaian opera sabun di Senayan yang semakin membosankan.

Bismillah, lepas kami dengan ikhlas untuk berjuang mencapai cita-cita bersama lolos ke Piala Dunia. Ini kami lakukan demi kehormatan bangsa kita, bangsa Indonesia.” – Indra Sjafri.

#Tulisan ini juga dimuat di Kompas.com menjelang keikutsertaan timnas Indonesia U-19 di Piala Asia U-19 2014 Myanmar.

Advertisements