Mimpi “Pendiri” Jurassic Park, Mourinho, dan Chelsea…

Richard Attenborough bersama pelatih Chelsea Jose Mourinho

JOSE Mourinho telah berulang kali membuktikan bahwa tak ada yang mustahil baginya dan bagi timnya. Dalam diri Mourinho, tidak jelas antara batas angan-angan dan kenyataan.

Bagi Mourinho, mimpi dan angan-angan selalu bisa menjadi kenyataan. Ia bakal kesal jika timnya kalah untuk kali kedua. Karena itulah, ia selalu menganalisis kelemahan, baik timnya maupun lawan, sehingga pada pertandingan berikutnya ia tidak akan kalah lagi.

Mourinho juga bisa berperan dan bertingkah apa saja seperti yang ia kehendaki. Karena itulah, julukan “Special One” disematkan kepadanya. Bagi manajer asal Portugal itu, semua peran dan tingkahnya adalah sah asal ia dapat meraih yang tertinggi. Dan, ternyata dengan segala cara itu ia berhasil membuktikannya.

“Anda harus pragmatis dan meminta kepada para pendukung tim Anda apakah mereka senang dengan piala atau mereka lebih lebih memilih untuk memainkan permainan Samba milik Brasil dan pulang tanpa piala,” kata Mourinho.

Pemikiran itu setidaknya sudah dibuktikan Mourinho di Chelsea. Bersama klub London Biru, Mourinho dinilai sukses telah melakukan revolusi total untuk kembali mengangkat nama Chelsea di dunia sepak bola Inggris.

Perjalanan Mourinho bersama Chelsea memang kerap dipenuhi kontroversi. Ia bisa membuat lelucon, tetapi tak jarang pula ia sangat dingin dan rasionalis saat menerapkan analisis. Jadi, ia boleh tidak disukai publik Inggris, tetapi para pemain dan fans Chelsea amat menghormati dan mencintainya.

Richard Attenborough
Tidak hanya pemain dan fans, di Chelsea juga terdapat sosok besar yang begitu menghormati dan mencintai Mourinho. Sosok itu adalah Richard Attenborough, sutradara tersohor asal Inggris yang juga menjabat sebagai Life President of the Stamford Bridge. Jabatan itu diberikan kepada Attenborough karena pengabdian luar biasanya kepada Chelsea.

Attenborough sejatinya adalah produser dan mantan aktor di Inggris. Sebagai aktor, ia sempat bermain di sejumlah film, seperti Brighton Rock, World War Two, The Great Escape, dan Jurassic Park. Selaku sutradara, namanya semakin melejit di dunia ketika film garapannya Gandhi (1982), meraih delapan penghargaan Piala Oscar, termasuk kategori sutradara terbaik yang disematkan untuknya.

Attenborough jago dalam dunia entertainment. Ia pun tahu bagaimana memanfaatkan kemampuan itu dalam menyertai pertandingan sepak bola, yang mempunyai nilai entertainment luar biasa. Toh, sepak bola itu adalah fiesta. Dan dari gegap gempita pesta itulah Attenborough membawa mimpi besarnya untuk membawa Chelsea meraih kesuksesan di dunia.

Salah satu faktor yang membuatnya jatuh cinta kepada sepak bola tidaklah lain karena wanita pujaannya, Sheila Sim, aktris era 1940-an, juga merupakan penggemar olahraga tersebut. “Saya pergi dan berdiri di pinggir sungai membawa sepaket sandwich dengan pacar yang akhirnya saya nikahi, terutama karena dia setuju untuk menjadi pendukung Chelsea dan kami telah mendukung mereka sejak 1942.” Begitu kenang Attenborough.

Dok. Chelsea Aktor dan sutradara Inggris Richard Attenborough bersama istrinya, Sheila Sim, saat menyaksikan pertandingan Chelsea di Stamford Bridge.

Kala itu, Attenborough tengah sibuk main film Brighton Rock. Dalam film tersebut, ia mendapatkan peran sebagai salah satu anggota kelompok gangster muda, Pinkie. Sang sutradara film, Rowan Joffe, pun meminta Attenborough untuk meningkatkan kemampuan fisiknya. Karena itulah, Attenborough memutuskan untuk ikut pelatihan fisik bersama penggawa-penggawa Chelsea.

“Saya pergi ke Stamford Bridge, lalu bekerja beberapa minggu dengan rekan-rekan di sana dan menjadi teman salah satu striker terbaik Inggris, Tommy Lawton. Jadi, saya sudah menjadi bagian klub ini sejak lama,” ungkapnya.

Brighton Rock membuat nama Attenborough melejit di dunia perfilman Inggris. Namun, di tengah kesuksesannya dalam dunia entertainment, Attenborough tidak menjadi seperti kacang lupa pada kulitnya. Justru, kecintaannya terhadap Chelsea semakin menjadi-jadi. Attenborough pun berperan melejitkan nama Chelsea dengan mengajak tokoh terkenal, Laurence Olivier, Frank Sinatra, John Wayne, dan Steve McQueen untuk ikut menjadi duta klub.

Pada 1970-an, Attenborough lalu mendapatkan posisi resmi di Chelsea sebagai direktur klub. Dia pun akhirnya sukses menggapai mimpinya ketika menjadi saksi mata saat The Blues meraih gelar pertama Piala FA 1970 dan trofi Eropa pertama kali ketika mereka memenangi Piala Winners 1971.

Dok. BBC Richard Attenborough (duduk paling kiri) saat menjadi member dewan Chelsea sejak 1969 hingga 1982.

Setelah kesuksesan itu, performa Chelsea meredup, baik di Inggris ataupun Eropa. Chelsea kalah bersaing dengan Liverpool dan Manchester United yang menguasai sepak bola Inggris pada era 1980-an dan 1990-an.

Namun, Attenborough tetap setia mendukung Chelsea. Hingga akhirnya, mulailah era baru ketika Roman Abramovich mengambil alih posisi pemilik klub pada era 2000-an. Dan beruntung bagi Attenborough, muncullah Mourinho yang memutuskan melangkahkan kakinya di Stamford Bridge pada 2004.

Bersama Mourinho, Chelsea kembali menuai kesuksesan di Inggris setelah berhasil merebut gelar Premier League pada 2005 dan 2006, sekaligus mematahkan dominasi MU. Attenborough pun sadar, meski kerap melakukan hal-hal kontroversial, Mourinho adalah potongan puzzle yang hilang untuk mengembalikan masa keemasan Chelsea.

“Saya selalu melihatnya sebagai seorang yang memiliki pesona luar biasa. Dia adalah bintang, dia adalah bintang bagi para pemain. Jika dia memilih bermain ketimbang menjadi pelatih, dia akan mendominasi lapangan. Menurut saya, masa depan kami tergantung kepadanya.” Begitu Attenborough memuji Mourinho.

Mimpi
Karena kecintaannya kepada Chelsea, Mourinho memutuskan kembali ke London pada 2013 setelah sempat lima musim bertualang bersama Inter Milan (2008-2010) dan Real Madrid (2010-2013). Namun, kini bakal ada yang berbeda di setiap pertandingan kandang Chelsea karena salah satu kursi di Stamford Bridge yang biasa ditempati Attenborough bakal kosong selama-selamanya.

Attenborough mengembuskan napas terakhirnya pada usia ke-90 tahun karena sakit yang dideritanya pada Minggu (24/8/2014). Publik Inggris dan dunia berduka. Begitu pun halnya dengan penggemar dan seluruh staf Chelsea. Mereka telah kehilangan sosok pria yang konsisten membantu klub, baik pada masa sulit maupun senang.

Semasa hidupnya, Attenborough telah menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil di dunia. Dalam dunia entertainment, Attenborough sudah merasakan kesuksesan luar biasa. Dalam dunia sepak bola, ia juga telah menjadi saksi mata ketika tim kesayangannya, Chelsea, meraih kesuksesan di Inggris ataupun Eropa.

Jadi, sama seperti Mourinho, mimpi dan angan-angan bagi Attenborough selalu bisa menjadi kenyataan. Jika Attenborough bisa mewujudkan angan-angannya mendirikan taman dinosaurus di dunia seperti dalam filmnya Jurassic Park, Mourinho pun diharapkannya bisa mengembalikan masa keemasan Chelsea di Inggris ataupun Eropa, meski dirinya sudah tiada.

Selamat jalan, Lord Attenborough…

Saya akan menggusur Piala-piala Oscar saya dari rak di atas perapian saya dan menaruh plakat ini (plakat Life Vice-President Chelsea) di atasnya. Ini begitu berharga bagi saya seperti penghargaan apa pun yang telah saya terima pada masa lalu.”  – Richard Attenborough (1923 – 2014)
#Obituari ini dimuat juga di Kompas.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: