Mau Gagal Lagi, PSSI?

Pemain Indonesia melakukan selebrasi usai membobol gawang Filipina dalam pertandingan kualifikasi Piala Asia U-19 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (10/10/2013). Timnas Indonesia mengalahkan Filipina 2-0. Tribunnews/ Dany Permana

KEKALAHAN adalah bagian dari permainan sepak bola. Akan tetapi siapa yang bisa menerima kekalahan itu dengan lega? Justru, biasanya baik para pemain, pelatih, para suporter atau penikmat sepak bola menolak kekalahan yang menimpa tim kesayangan mereka.

“Kalau dilihat dari hasil saya sangat kecewa karena kami seharusnya bisa lolos ke semifinal. Hasil ini begitu menyakitkan karena saya benci kekalahan.” Begitu diungkapkan mantan pelatih tim nasional Indonesia, Anatoly Fyodorovich Polosin setelah timnas dikalahkan Tiongkok 1-3 di ajang penyisihan grup Pesta Bola Merdeka 1991 Malaysia.

Pesta Bola Merdeka kala itu dijadikan persiapan timnas Indonesia menghadapi SEA Games 1991 Filipina. Beban di pundak Polosin yang ketika itu dibantu oleh Vladimir Urin, dan Danurwindo memang cukup berat karena Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menargetkan medali emas SEA Games.

Namun, dari pengalamannya Polosin juga tahu bahwa sering pula kekalahan justru dapat menjadi sumber inspirasi mengolah diri dan menggali motivasi baru bagi kemenangan yang lebih besar di laga berikutnya. Maka dari itu, pelatih asal Rusia tersebut pun memutar otak mencari cara meramu skuad timnas Indonesia.

Sebelum turnamen SEA Games berlangsung, Polosin sempat mengutarakan, ada beberapa faktor yang harus diperbaiki dunia sepak bola Indonesia. Salah satunya adalah masalah fisik, pengalaman pemain serta keyakinan para pemain untuk memenangkan setiap pertandingan yang dilakoninya.

“Kalau memang mau maju maka para pemain Indonesia harus lebih sering bertemu dengan tim-tim luar negeri. Jangan harap dengan persiapan singkat, Indonesia lalu bisa mempunyai sebuah kesebelasan hebat,” kata Polosin.

Di tengah beberapa masalah yang menghinggapi kompetisi sepak bola Indonesia, Polosin akhirnya mampu meracik skuad timnas dengan disiplin tinggi serta komposisi pemain yang tepat. Meski sempat mendapat kritik karena dianggap menang beruntung karena mengalahkan Thailand melalui adu penalti, medali emas SEA Games 1991 pun akhirnya berhasil diraih di tangan.

Setelah torehan emas di Manila itu, hingga saat ini Indonesia belum pernah kembali merasakan euforia timnas meraih juara. Namun, ada secercah harapan ketika timnas U-19 meraih gelar AFF 2013 serta lolos ke putaran final Piala Asia U-19 2014. Bahkan, Evan Dimas dan kawan-kawan mampu menaklukkan Korea Selatan 3-1 dengan perkasa di Jakarta.

Persiapan
Atas kesuksesan timnas U-19 itulah, PSSI mulai bereaksi. Mulai dari Tur Nusantara hingga rangkaian turnamen-turnamen internasional dipersiapkan untuk dijadikan ajang uji coba. Tetapi, menengok performa timnas U-19 di beberapa laga terakhir, mulai muncul kekhawatiran dan pertanyaan, apakah mereka bisa kembali mendulang prestasi di Piala Asia?

Pertanyaan itu tidak terlepas dari hasil buruk timnas U-19 di turnamen Hassanal Bolkiah 2014. Dalam turnamen tersebut, timnas U-19 tidak lolos ke putaran berikutnya setelah menelan tiga kekalahan secara berturut-turut melawan Brunei Darussalam (1-3), Vietnam (1-3), Kamboja (1-2), sekali meraih hasil imbang (0-0 Malaysia), dan hanya sekali memetik kemenangan (6-0 Singapura).

Sebelum turnamen Hassanal Bolkiah berlangsung, sempat muncul perdebatan ketika PSSI secara tiba-tiba mengubah rencana uji coba timnas U-19 yang awalnya dipersiapkan mengikuti turnamen COTIF di Valencia, Spanyol. Padahal, dari segi pengalaman, turnamen tersebut cukup bermanfaat karena diikuti oleh sejumlah tim kuat seperti tim junior Barcelona, tim junior Valencia, serta tim nasional U-20 Brasil, Argentina, Ekuador, dan Tiongkok.

Namun, akhirnya PSSI justru mengirimkan skuad “dadakan” timnas U-21 dan sebagai gantinya timnas U-19 mengikuti turnamen Hassanal Bolkiah. PSSI beralasan waktu tanding selama 2×35 menit di turnamen COTIF mengurangi esensi permainan karena di Piala Asia, skuad Garuda Muda bakal bermain waktu normal 2×45 menit.

Namun, apapun alasan PSSI itu, sekarang mari kita lihat hasil dari apa yang didapat oleh keputusan tersebut. Dan kini pun wajar jika dikatakan kekalahan di Brunei bakal merusak mental Evan Dimas dan kawan-kawan. Maklum, jika melihat dari segi mental, rasanya “lebih baik” menuai hasil buruk di turnamen yang diisi tim sekelas Barcelona, Valencia, Brasil, Argentina ataupun Ekuador ketimbang Myanmar, Kamboja ataupun Brunei.

“Pemain U-19 harus memulihkan mental untuk mengembalikkan kepercayaan diri. Posisi timnas U-19 saat ini dilema. Kekalahan kemarin menimbulkan reaksi negatif, menekan bukannya membangun. Ini yang harus diperhatikan oleh PSSI beserta tim pelatih,” kata mantan anggota Exco PSSI, Bob Hippy.

Strategi
Dalam dunia sepak bola dikenal istilah bahwa the best team is the winning team. Bagaimanapun permainan sebuah kesebelasan itu, kalau dengan taktik yang tepat mereka bisa memenangkan pertandingan pada akhirnya semua itu akan terasa hebat. Sebaliknya bagaimanapun hebatnya permainan sebuah tim, kalau akhirnya mereka kalah, semua itu tidak ada artinya.

Ingat, bagaimana tim sekelas Parma bisa mengalahkan AC Milan pada Piala Super Eropa 1993. Semua orang langsung mengagung- agungkan nama Parma meski secara permainan harus diakui mereka jauh di bawah Roberto Donadoni dan kawan-kawan. “Jika kamu menang, kamu adalah seorang dewa, jika kamu kalah, kamu adalah ketiadaan belaka.” Begitu kata Nevio Scala, pelatih Parma kala itu.

Berbicara taktik permainan untuk meraih kemenangan, rasanya tepat jika masalah itu kini dialamatkan untuk pelatih timnas U-19, Indra Sjafri. Problematika itu pun cukup beralasan, mengingat, Indra selalu terpaku dengan formasi 4-3-3. Hingga saat ini belum terlihat skema atlernatif yang digunakan oleh Indra, meski beberapa kali terlihat melakukan perubahan komposisi pemain dalam beberapa laga uji coba.

Dalam berbagai uji coba, timnas U-19 memang mengandalkan pengutamaan penguasaan bola. Bahkan, ada yang bilang bahwa permainan skuad Garuda Jaya mirip dengan taktik tiki-taka yang diperagakan Barcelona atau timnas Spanyol, meskipun Indra beberapa kali membantah anggapan tersebut.

Namun, jika memang benar filosofi penguasaan bola khas tiki-taka itu yang mengilhami Indra, rasanya pelatih asal Sumatera Barat itu bisa menggarisbawahi bahwa satu-satunya nilai dalam permainan sepak bola adalah gol. Toh, seorang Pep Guardiola pun tak berdaya jika menerapkan taktik tiki-taka tanpa naluri seorang striker yang tajam serta gelandang-gelandang yang kreatif dalam timnya.

Saat menghadapi Real Madrid di leg pertama semifinal Liga Champions 2013-14, Bayern menguasai bola sebanyak 63 persen. Namun, hasil akhirnya justru Bayern-lah yang tersingkir dengan agregat 0-5. Pun halnya, Spanyol yang hancur lebur di Piala Dunia 2014 Brasil. Hasil itu sekaligus menandakan bahwa sudah ada obat mujarab untuk mengatasi skema yang mengutamakan penguasaan bola.

Dalam sepak bola modern seperti sekarang, di mana pressure football kembali mendominasi, kreativitas gelandang dan naluri striker sangat penting. Barcelona punya Andres Iniesta dan Xavi Hernandez, tetapi ketika aliran bola dari kedua gelandang itu macet, mereka memiliki seorang Lionel Messi yang ketajaman serta kreativitasnya dalam membongkar pertahanan lawan sudah tidak perlu ditanya lagi.

Memang, melihat ke belakang, penyelesaian akhir menjadi masalah klasik bagi timnas Indonesia. Hampir seluruh level usia, tidak hanya di timnas U-19, kreativitas dan naluri pemain di lini depan menjadi barang langka. Lihat saja penampilan timnas U-19 pada awal keikutsertaan mereka di Piala AFF.

Tetapi, beruntung bagi Indra, para pemain skuad U-19 memiliki kemampuan fisik dan VO2Max di atas rata-rata. Kemampuan itu pun seharusnya bisa dimaksimalkan untuk membenahi transisi menyerang dan bertahan yang selama ini juga menjadi titik lemah skuad Garuda Jaya. Jika masalah itu bisa teratasi, maka peranan mata, otak, fisik, teknik dan koordinasi antar pemain di lini tengah dan depan akan semakin mantap untuk memaksimalkan setiap kesempatan membuat gol.

Harapan
Atas berbagai masalah tersebut, kini harapan besar publik sepak bola Indonesia akan kembali tertanam di benak para pengurus serta tim pelatih timnas U-19. Harus ada keseriusan dari mereka di waktu yang mepet ini untuk membenahi agar Indonesia bisa kembali berprestasi. Ratusan juga masyarakat Indonesia sudah bosan atas berbagai alasan yang dikumandangkan jika timnas menuai kegagalan.

Kekalahan adalah hal biasa dalam permainan sepak bola. Akan tetapi, sama seperti pemikiran Polosin, kekalahan itu harus pula dijadikan sumber inspirasi dan motivasi untuk meraih meraih kemenangan di laga-laga besar berikutnya. Toh, selama ini yang terjadi dalam dunia sepak bola Indonesia, belum ada bukti nyata kegagalan bisa dijadikan pelajaran berharga oleh para pengurus-pengurus sepak bola.

Memang masyarakat Indonesia sempat berpesta melalui torehan Timnas U-19 di Piala AFF U-19 2014. Namun, apakah raihan saat itu murni hasil kerja keras PSSI dalam mempersiapkan tim juara? Tidak. Sejatinya, itu adalah keikhlasan Indra Sjafri ketika mengumpulkan talenta-talenta muda ke polosok negeri.

Piala Asia U-19 sudah semakin dekat. Turnamen itu pun harus dijadikan momentum PSSI untuk berbenah. Sekali lagi, kurang logis jika pelatih dan pemain disalahkan jika timnas menuai kegagalan di lapangan. Tanggung jawab prestasi ini sepenuhnya ada di pundak para pengurus PSSI karena mereka adalah pihak yang bertanggungjawab mengurus pembinaan, persiapan, kompetisi, penyediaan fasilitas, hingga pendanaan.

Oleh karena itu, berkaca kepada hasil timnas U-19 di Brunei serta harapan di Piala Asia 2014 agar mimpi bermain di Piala Dunia bisa diraih negeri ini, masyarakat Indonesia pun kini pantas bertanya, “Mau gagal lagi, PSSI?”

#Dimuat juga di Kompas.com setelah timnas U-19 menuai hasil buruk di turnamen Hassanal Bolkiah 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: