Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brasil, sesaat setelah Jerman menjadi juara Piala Dunia 2014. Jerman berhasil mengalahkan Argentina 1-0 pada partai final. Jerman menjadi satu-satunya tim Eropa yang berhasil meraih Piala Dunia di Amerika Selatan.

Bagi masyarakat Amerika Latin, kedatangan Christopher Columbus ke Benua Amerika adalah awal kesedihan dan penderitaan. Bagi mereka, tidak ada yang patut disyukuri dari kedatangan admiral asal Italia itu saat menginjakkan kaki di Amerika pada 12 Oktober 1492.

Christopher Columbus pertama kali berlabuh di Bahama. Matanya menatap tajam ke tengah hamparan biru air Laut Karibia. Desiran pasir yang terempas ombak laut, membuatnya yakin bahwa daratan yang awalnya dikira sebagai Kepulauan Kipango, Jepang, itu adalah salah satu surga untuk bangsa Eropa.

Ketika tiba di San Salvador, Columbus  berinteraksi dengan penduduk-penduduk asli Amerika. Buku berjudul Extracts from the Journal of Christopher Columbus, menggambarkan bagaimana ia pertama kali melihat para penduduk asli yang menyambut mereka dengan gembira.

“Mereka tidak membawa senjata. Saya menunjukkan mereka pedang, tetapi mereka terheran-heran. Mereka kemudian memegang sisi pedang yang tajam dan mereka terluka. Mereka tidak memiliki besi. Tombak mereka hanya terbuat dari kayu tebu,” demikian Columbus menuliskan pengalamannya itu.

Columbus terpesona dengan keindahan alam Amerika. Namun, ternyata bukan itulah yang dicarinya. Dalam buku hariannya tertanggal 15 Oktober, ia menuliskan, “Saya ingin mencari emas. Saya melihat penduduk asli memakainya pada lengan dan kaki mereka. Dan setelah memastikan potongan-potongan itu sama dengan emas yang saya punya, saya tidak boleh gagal untuk menemukan tempat yang memproduksinya.”

Bagi Columbus, dengan emas, orang akan kaya dan siapapun yang mempunyainya akan mampu membuat apa yang diinginkan di dunia. Bahkan dengan emas itu pula jalan menuju kesuksesan bakal terbuka bagi manusia. Karena hal itulah, Columbus akhirnya memiliki tekad untuk mencari emas serta rempah-rempah dengan mengunjungi sejumlah wilayah di Selatan Amerika.

Seiring perjalanannya, Columbus mampu membawa perubahan besar bagi bangsa Eropa. Maklum, pada abad pertengahan, rempah-rempah dan emas adalah kunci untuk membuka gerbang perdagangan merkantilis mereka. Karena itulah ketika Columbus memperkenalkan rute ke Amerika, emas serta rempah-rempah yang terpendam di sepanjang wilayah Amerika dikuras habis-habisan oleh bangsa Eropa.

Namun, setali tiga uang, kedatangan Columbus itu juga mengakibarkan hancurnya kebudayaan bangsa Indian yang merupakan penduduk asli Amerika. Setelah pelayaran Columbus, pelayar-pelayar Eropa lainnya berdatangan ke Amerika. Mereka pun menjadikan penduduk asli ibarat budak yang tenaganya terus diperas untuk mencari atau mencuci emas atau permata.

Robert Hume dalam karyanya berjudul Christopher Columbus and the European Discovery of America menuliskan seorang biarawan Dominikan di Pulau Hispaniola bernama Antonio de Montesinos pada 1511 sempat melaporkan bahwa bangsa Eropa telah memperlakukan penduduk asli Amerika secara tidak manusiawi. Akhirnya banyak penduduk asli Amerika yang lebih memilih untuk bunuh diri secara masal ketimbang harus menggali dan mencuci emas setiap hari.

Hari Columbus
Ratusan tahun berlalu dan kini Amerika pun mempunyai peringatan bernama Columbus Day atau Hari Columbus yang diadakan setiap hari Senin kedua pada bulan Oktober. Peringatan itu mengacu kepada perjalanan sejarah ketika Columbus untuk kali pertama mencapai Benua Amerika.

Hari Columbus semula merupakan perayaan warisan warga Amerika keturunan Italia yang pertama diselenggarakan di San Francisco pada 1869. Perayaan tingkat negara bagian pertama diadakan di Colorado pada 1907 dan tiga puluh tahun berselang, perayaan itu mulai menjadi hari besar di seluruh Amerika Serikat.

Namun tidak semua bagian Amerika merayakan Hari Columbus, misalnya, di wilayah California, Nevada dan Hawaii. Sementara itu, beberapa penduduk di South Dakota dan Berkeley, California merayakan hari penduduk pribumi Amerika. Bahkan, bagi penduduk Amerika Latin, perayaan itu adalah kontroversi dan tidak berarti apa-apa.

Bagi masyarakat Amerika Latin, perayaan Columbus itu justru dikenang sebagai awal kehancuran nenek moyang mereka. Apalagi, kedatangan Columbus kala itu juga bertepatan dengan periode Reconquista (penaklukan kembali) di Spanyol. Dengan begitu, para penduduk asli Amerika mendapatkan imbas, karena orang-orang Spanyol menganggap praktik agama penduduk asli Amerika sebagai kegiatan sesat.

Akibatnya, di bawah Pengadilan Inquisisi yang dipimpin Ratu Isabella I asal Castile, para penduduk asli Amerika banyak yang disiksa dan mati secara mengenaskan. Tiga orang Indian perwakilan suku Aymara dan Kechua pernah menuliskan surat kepada Paus Yohanes Paulus II ketika berkunjung ke Peru pada 1985.

“Sesungguhnya dengan kedatangan Christopher Columbus, di Amerika dipaksakan suatu kebudayaan, suatu bahasa dan suatu agama serta nilai-nilai yang hanya cocok untuk orang Eropa saja,” begitu tulis mereka dalam surat tersebut. Penderitaan atas nilai-nilai tersebut terus mengiringi perjalanan panjang sejarah masyarakat Amerika Latin.

Dan bagi masyarakat Amerika Latin, salah satu cara untuk keluar dari penderitaan kultural, religius, dan sosial oleh negara-negara Barat salah satunya adalah lewat sepak bola. Toh, bagi sebagian besar masyarakat di sana, sepak bola juga dianggap sebagai sebuah budaya dan agama. Dengan sepak bola yang hidup di kalangan masyarakat bawah yang tertindas itu, mereka merasa bisa memainkan kemerdekaan dan kebebasan untuk menentang segala bentuk penindasan.

Di Brasil, misalnya, sepak bola dijadikan sebagai jalan hidup untuk membuktikan keberadaan mereka atas kedigdayaan bangsa Eropa. Berbeda dengan bangsa Barat yang memainkan sepak bola dengan tiang-tiang gawang dari besi, di Brasil anak-anak sejak kecil dengan lincah hanya memainkan bola kusam di sudut jalan dengan tiang-tiang gawang berupa tumpukan-tumpukan batu.

Meski begitu, hal tersebut justru membuat Brasil berubah menjadi salah satu kekuatan sepak bola di dunia. “Di Brasil, sepak bola sama pentingnya dengan persoalan hidup dan mati,” kata salah satu komentator terkenal Brasil, Osmar de Oliveira. Dan dari penderitaan dan kemiskinan itulah muncul para jogobonito seperti Pele, Garrincha, Tostao, Jairzinho, Ronaldo, hingga Neymar. Pun halnya di Argentina yang sukses melahirkan bintang dunia Diego Maradona hingga Lionel Messi.

Piala Dunia
Amerika Latin pun seakan benar-benar menunjukkan pembuktian dan pembalasan dendam atas bangsa Eropa dalam perhelatan Piala Dunia. Maklum, sejak turnamen tersebut bergulir untuk kali pertama pada 1930 di Uruguay, tidak ada satupun tim dari Eropa yang berhasil mengangkat trofi itu di tanah Amerika Selatan.

Namun, pada Piala Dunia 2014, sejarah yang bertahan sejak puluhan tahun itu akhirnya patah juga. Langit Amerika pun tak lagi cerah ketika para pemain Jerman berpesta mengangkat trofi Piala Dunia di depan hadapan masyarakat Brasil dan Argentina. Jerman berhasil keluar sebagai juara dunia setelah menundukkan Argentina pada final di Stadion Maracana, Minggu (13/7/2014).

Sejarah pun seakan berulang. Jika dulu Columbus yang dianggap menindas penduduk asli Amerika, kini Jerman-lah yang membuat publik Amerika Selatan menderita. Apalagi, skuad Der Panzer mampu membumihanguskan Brasil di semifinal dengan skor telak, tujuh gol berbalas satu. Bahkan, Amerika Serikat pun dipaksa bertekuk lutut setelah kalah 0-1 di penyisihan grup. Hanya rivalitas dengan Argentina-lah yang membuat publik Brasil menyampingkan sejarah dan mendukung Jerman untuk berpesta di tanah air mereka.

Keberhasilan Jerman itu telah membuka mata banyak masalah yang menerpa sejumlah tim Amerika Selatan. Brasil sebagai raja sepak bola dunia, misalnya, mengalami krisis identitas. Brasil menghilangkan ciri khas permainain indah. Mereka tidak bermain lagi dengan hati dan cinta yang merupakan inti roh Samba. Dalam skuad mereka kini satu-satunya pemain yang dianggap sebagai roh jogobonito hanya Neymar.

Dan ketika Neymar absen karena cedera pada tulang belakang, Brasil terbukti menderita. Ketika melawan Jerman, selain Neymar, Brasil memang juga kehilangan Thiago Silva. Namun, kehadiran Silva ternyata juga tidak banyak membantu karena pada partai perebutan tempat ketiga, Brasil dipaksa menyerah tiga gol tanpa balas oleh Belanda. Malahan, sepanjang laga perebutan tempat ketiga itu, Brasil seperti berguru kepada Belanda.

Argentina kemudian menjadi satu-satunya harapan masyarakat Amerika Selatan, kecuali Brasil, ketika mereka meraih tiket final usai menaklukkan Belanda. “Sejujurnya warga Argentina mendapat penilaian terlalu tinggi. Tetapi, tidak ada cara lain, Piala Dunia di Amerika Latin harus dimenangi oleh tim Amerika Latin,” ujar Humberto Melendez, seorang suporter asal Meksiko.

Namun, apa daya, pressing ketat para pemain Jerman terhadap Messi membuat irama permainan tango skuad Albiceleste macet di lapangan. Argentina bahkan seakan dijauhi oleh dewi fortuna ketika sejumlah peluang emas, mulai dari yang didapat Gonzalo Higuain hingga Messi terbuang sia-sia. Mereka pun pada akhirnya harus puas pulang membawa predikat runner-up.

Jika Brasil mempunyai bintang seperti Neymar dan Argentina memiliki Messi, bagaimana dengan Jerman? “Jerman saat ini menjadi tim dengan komposisi pemain paling komplet. “Pada masa lalu kami tidak dapat melakukan ini. Jika bermain di sini, Tim Amerika Latin selalu mendominasi. Tetapi, kami tahu bahwa dengan skuad saat ini, kami bisa membuat sejarah,” kata pelatih Jerman, Joachim Loew.

Dengan begitu, keberhasilan Jerman seakan kembali mengulang memori kelam penduduk Amerika atas kedidayaan bangsa Eropa semasa zaman abad pertengahan. Dan mau tidak mau, Brasil, Argentina, atau tim Amerika Selatan lainnya harus segera berbenah agar masa kedaulatan sepak bola mereka tak lagi dicoreng oleh bangsa Eropa. Der Panzer akan tetap menjadi hantu bagi sepak bola Amerika, karena Jerman memiliki sistem pembinaan dan kompetisi, yang menjamin regenerasi serdadu lapangan hijau tak akan terputus.

#Dimuat juga di Kompas.com seusai perhelatan Piala Dunia 2014 Brasil.

Advertisements