Andreas Escobar (kiri) saat mencetak gol bunuh diri ketika menghadapi Amerika Serikat pada Piala Dunia 1994 di Stadion Rose Bowl, Los Angeles, 22 Juni 1994

DI Amerika Latin, setiap bagian dari kehidupan sewaktu- waktu bisa dihampiri oleh kekerasan, pembunuhan dan kematian. Dan seperti negara-negara Amerika Latin lainnya, ketiga masalah itu juga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari masyarakat di Kolombia.

Gabriel Garcia Marquez, novelis terkenal asal Kolombia, pernah berkata seperti ini: Kematian adalah bahaya yang tidak dapat dihindari bagi orang Amerika Latin. Pernyataannya itu pun dituangkan dalam karyanya berjudul Chronicle of a Death Foretold (1981).

Melalui novel itu, Marquez menceritakan kronik kematian pemuda bernama Santiago Nasar di Sucre, Kolombia pada 1951. Kematian Santiago itu dipicu pengakuan Angela Vicario yang kedapatan sudah tidak perawan lagi saat dipersunting oleh seorang pendatang kaya bernama, Bayardo San Roman.

Merasa dikhianati, San Roman langsung mengusir Angelia pulang ke rumahnya. Kepada keluarganya, Angelia mengaku bahwa keperawanannya direnggut oleh Santiago. Meski kebenaran pernyataan itu belum terbukti, saudara kembar Angelia, Pedro dan Pablo Vicario, naik pitam. Mereka berdua pun berencana untuk menghabisi nyawa Santiago.

Si kembar Vicario lalu mengumumkan akan membunuh Santiago kepada setiap orang yang mereka temui di jalan, tempat makan maupun pasar. Hal itu membuat seluruh warga di Sucre tahu akan rencana Pedro dan Pablo. “Mereka hendak membunuh Santiago Nasar.” Begitulah obrolan dari mulut ke mulut orang di Sucre yang akhirnya juga sampai ke telinga calon korban, Santiago.

Santiago sempat dilanda kebingungan mengapa Pedro dan Pablo ingin membunuhnya. Namun, karena merasa tidak bersalah, Santiago tetap berusaha tenang. Akhirnya, pada suatu pagi, Santiago tetap menjalankan aktivitasnya pergi ke gereja. Santiago tak memikirkan bahwa Pedro dan Pablo bisa kapan saja membunuhnya.

Betul saja, sementara Santiago di dalam gereja, Pedro dan Pablo sabar menunggu Santiago di luar gereja. Ketika Santiago keluar gereja dan berjalan pulang, dua bersaudara itu mengikuti dan memata-matai Santiago.

Seorang warga desa yang melihat ancaman bagi Santiago itu pun berteriak, “Santiago, lari. Santiago, lari!” Begitu mendengar peringatan itu, Santiago lari menuju rumahnya. Namun, Pedro dan Pablo mampu menyergapnya tepat di depan pintu rumah dan menjalankan rencana jahat mereka. Pedro menusukkan pisau ke lambung Santiago sebanyak tiga kali.

Tante Santiago, Wenefrida Marques, kemudian datang dan melihat keponakannya sudah tersungkur bersimbah darah di halaman rumah. Dalam kebingungan dan kesedihan, Wenefrida Marques mendengar tetangga-tetangga berteriak, “Mereka (Pablo dan Pedro) telah membunuh Santiago Nasar.”

Kronik
Dari sepenggal kisah novel itu, Garcia Marquez mengisahkan secara detail bagaimana rencana pembunuhan Santiago berjalan terbuka di lingkungan masyarakat Kolombia. Ibaratnya, seperti di negara Amerika Latin lain, kronik itu menunjukkan bahwa pesan kematian adalah sebuah irasionalitas yang sudah diketahui masyarakat Kolombia, termasuk korbannya sendiri.

Garcia Marquez juga menuliskan novel itu berdasarkan pengalaman pribadi. Ruben Pelayo dalam karyanya berjudul Gabriel Garcia Marquez: A Critical Companion menuliskan bahwa dalam sebuah wawancara dengan La Nation, Garcia Marquez, menyebut karakter Santiago Nasar dalam novel merupakan temannya semasa kecilnya bernama Cayetano Gentile Chimento.

Pembunuhan dan kematian adalah bagian dari kekerasan. Dan di Amerika Latin, kekerasan itu tak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari masyarakat karena apa pun bisa menjadi alasan seseorang untuk membunuh. Apa pun tampaknya tidak masuk akal dan konyol cukup bagi seseorang menghilangkan nyawa orang lain.

Santiago kehilangan nyawa karena San Roman tak mau menerima Angelia. Sebagai saudara kandung, Pedro dan Pablo merasa harus membalas penghinaan dari San Roman kepada Santiago. Pemain tim nasional Kolombia Andreas Escobar tewas ditembak di area parkir diskotek Padua, Medellin pada 1 Juli 1994, atau sepuluh hari setelah dia mencetak gol bunuh diri saat menghadapi Amerika Serikat dalam penyisihan Grup A Piala Dunia.

Sebelum pertandingan melawan AS, pelatih Kolombia Francisco Maturana dan gelandang Gabriel Jaime Gomez sempat menerima telepon berisi ancaman pembunuhan. Sang penelepon gelap tersebut juga mengancam akan membakar rumah mereka di Medellin jika Gomez dimainkan melawan AS.

“Pesan atau ancaman serupa itu biasa sekali terjadi di negara kami”, kata Maturana. Antonio Correa, asisten Maturana menambahkan, “Beberapa fans tidak puas akan permainan Gomez. Biar bagaimana pun ancaman itu tentu memusingkan kepala pelatih kami.”

Maturana memutuskan untuk tidak memainkan Gomez. Namun, apa mau dikata, pertandingan itu pada akhirnya tetap berujung petaka. Pada menit ke-35, Escobar ingin menyapu bola umpan silang John Harkes yang mengarah ke gawangnya. Alih-alih menjauhkan bola, ia malah membuat bola meluncur masuk gawang timnya sendiri. Kolombia pun takluk 1-2.

Meski menang 2-0 atas Swiss pada laga berikutnya, Kolombia tetap tak tertolong. Mereka tetap menjadi tim pertama yang angkat koper dari Negeri Paman Sam sebagai juru kunci Grup A.

Kegagalan itu membuat pemain Kolombia tidak berani langsung pulang. Beberapa pemain lebih memilih berlibur sejenak di AS. Namun, tidak dengan Escobar dan Faustino Asprilla yang justru tetap memutuskan kembali ke Kolombia.

“Aku tahu, kamu suka berpesta, tetapi sementara tetap tinggal di rumah saja dulu dan hindari keributan,” kata Asprilla, mengenang pesan Escobar kepadanya saat memutuskan untuk pulang ke Kolombia.

Namun, Escobar tampaknya lupa mengingatkan diri sendiri bahwa pesan itu juga berlaku untuk dirinya. Pada Jumat malam, Escobar memutuskan keluar bersama rekan-rekannya ke diskotek Padua di Madelin. Seusai keluar dari diskotek, Escobar dihampiri oleh beberapa anggota geng lokal, Gallon Bersaudara. Anggota geng itu lalu mencoba memprovokasi Escobar dengan ejekan gol bunuh diri yang dibuatnya saat melawan AS.

Escobar pun terpancing dan bereaksi membalas provokasi tersebut, hingga terdengarlah  tembakan yang langsung memecah keheningan malam di area parkir diskotek. “Gol bunuh diri! Gol bunuh diri!” teriak sang penembak, Humberto Munoz, setiap kali melepaskan tembakan. Terdengar enam kali Munoz berteriak sembari menembakkan senapannya ke tubuh Escobar.

Insiden penembakan dikabarkan dilatarbelakangi taruhan judi para anggota gang Gallon bersaudara yang memasang 800.000 dollar AS tiap orangnya  Mereka bertaruh Kolombia akan menjuarai Piala Dunia 1994 karena prediksi legenda Brasil, Pele. Namun, menurut polisi, tidak ditemukan bukti bahwa geng tersebut memasang taruhan besar pada Piala Dunia 1994.

Kematian Escobar itu meluas dan menjadi pembicaraan di seluruh dunia. Kutipannya di salah satu kolom media Kolombia, El Tiempo, lima hari sebelum insiden penembakan pun dianggap menjadi salam perpisahan dari Escobar,  yang seakan tahu bahwa dirinya akan mendapatkan pesan kematian.

“Jangan biarkan kekalahan ini memengaruhi respek kami pada spirit pertandingan. Sampai jumpa lagi, karena hidup terus berputar.” Demikian Escobar mengutarakan pendapatnya terkait dengan kegagalan Kolombia di Piala Dunia 1994.

Spirit
Pernyataan Escobar itulah yang hingga kini tetap abadi di setiap benak masyarakat Kolombia. Meski insiden penembakan itu sudah berlalu dua dekade, perjuangan Escobar tetap dijadikan spirit bagi para generasi muda di skuad Kolombia. Dan kini semangat itu pun tetap menyala di Piala Dunia 2014 Brasil.

“Andres hadir bersama mereka dan semangat dalam tim. Orang harus menikmati sepak bola dengan semangat, tetapi tidak pernah melupakan sebuah pertandingan. Tidak ada tempat untuk kekerasan. Sepak bola harus menyatukan negara untuk pesan perdamaian dan cinta,” kata Maria Ester, istri Escobar.

Kolombia bakal menghadapi Brasil pada perempat final di Estadio Castelao, Fortaleza, Jumat (4/7/2014). Brasil sendiri saat ini seakan menjadi sosok pembunuh menakutkan bagi skuad Kolombia. Maklum, menurut catatan pertemuan kedua tim, Kolombia tidak pernah atas Brasil sejak babak penyisihan grup Copa America 1991.

Tetapi, kali ini ada yang berbeda dalam diri para pemain James Rodriguez dan kawan-kawan. Mereka tahu, Brasil mungkin saja kembali menjadi ancaman serius bagi timnya. Akan tetapi, ada semangat tersendiri yang bisa jadi berasal dari spirit perjuangan Escobar. Semangat itu tercermin dari penampilan apik Kolombia sepanjang turnamen.

Kolombia merupakan salah satu tim yang mampu mencatatkan rekor kemenangan 100 persen sejak penyisihan grup. Aksi meyakinkan mereka dimulai dengan kemenangan 3-0 atas Yunani, 2-1 atas Pantai Gading, dan 4-1 atas Jepang di babak grup serta 2-0 atas Uruguay di 16 besar. Belum lagi melihat kegemilangan Rodriguez yang sudah mencetak lima gol, sekaligus menjadi top scorer sementara.

Dengan begitu, bukan tidak mungkin Kolombia bisa membalikkan keadaan karena mereka juga seakan telah memberikan pesan kematian bagi Brasil. Toh, kedua tim itu berasal dari Amerika Latin. Jadi, seperti Escobar dan Santiago Nasar, para pemain Brasil dan Kolombia pun sudah sadar bahwa satu dari mereka akan “mati” di Fortaleza. Kesadaran akan kematian itu tidak melahirkan rasa takut, melainkan keberanian dan tekad untuk memberikan yang terbaik karena hari esok bukanlah bukan milik manusia.

“Andres Escobar akan selalu berada dalam hati kami. Kolombia tidak akan pernah melupakan kebaikan, kerendahan hati, dan perjuanganmu, kawan,” – Carlos Valderama.

#Dimuat juga di Kompas.com menjelang pertandingan perempat final Piala Dunia 2014 antara Brasil melawan Kolombia.

 

 

Advertisements