Gelandang Real Madrid, Cristiano Ronaldo (kiri) dan pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone (kanan).

KATEDRAL Santiago de Compostela. Kemegahannya tersohor sampai ke penjuru dunia. Bangunan berusia ratusan tahun yang terletak di tengah Kota Santiago de Compostela, Galicia, Spanyol itu menyimpan banyak kisah sejarah. Dari makam tokoh Kristiani, Santo Yakobus, hingga perjalanan spiritual di Semenanjung Iberia atau biasa disebut Camino de Santiago.

Allison Raju dalam karyanya berjudul The Way of St James, menyebut setelah Yakobus dihukum mati oleh raja Agrippa I pada 44 M di Jerusalem, para pengikutnya membawa jenazah Yakobus dengan berjalan kaki lalu menyeberangi laut ke semenanjung Iberia dan mendarat di Padron, Galicia. Kemudian mereka memakamkannya di Santiago de Compostela.

Dari rute perjalanan para pengikut Yakobus itulah, nama Camino de Santiago berasal. Camino dalam bahasa Spanyol berarti berjalan kaki. Sedangkan Santiago adalah nama sebuah kota di mana katedral Santiago de Compostela berdiri. Secara singkat, Camino de Santiago artinya “berjalan kaki menuju Santiago”.

Seiring perjalanan waktu, rute perjalanan yang juga dikenal dengan istilah “The Way of James” tersebut kini telah bertransformasi tidak hanya satu, tetapi juga tersebar dari berbagai penjuru Eropa. Dari Spanyol, Portugal, Perancis hingga beberapa titik wilayah di Semenanjung Iberia.

Kini juga tidak ada aturan bahwa rute itu hanya untuk umat Kristiani atau harus dilakukan dengan alasan keagamaan. Banyak peziarah yang menjalani perjalanan di rute tersebut hanya untuk alasan mencari insipirasi, meyakini kebaikan hidup, mendapat pencerahan dan berkah atas mimpi dan harapan mereka di dunia.

Kita bisa melihat salah satu kisah perjalanan itu dari pengalaman sastrawan asal Brasil, Paulo Coelho. Dalam karyanya The Pilgrimage, Coelho menyebut setiap rute perjalanan ke Santiago de Compostela memiliki berkah dan pahala istimewa untuk mereka yang berjalan melewatinya.

Cristiano Ronaldo dan Diego Simeone
Pada Juli 2013, bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, pernah mengunjungi Galicia. Namun, kunjungannya itu bukan untuk menjalani “The Way of James”, melainkan mendonorkan darah bagi korban-korban tragedi anjloknya rangkaian kereta api di Santiago de Compostela yang merenggut sedikitnya 80 jiwa pada 25 Juli 2013.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol kala itu mencatat sebanyak 73 jenazah ditemukan di tempat kejadian dan tujuh orang meninggal dunia di rumah sakit. Sedikitnya 140 orang cedera setelah kereta delapan gerbong yang membawa 218 penumpang tersebut melesat keluar rel di sebuah tikungan.

“Aku bersimpati dengan para korban dan meminta otoritas lokal untuk berkontribusi membantu korban-korban yang terluka.” Demikian Ronaldo bersimpati. Ronaldo di dalam lapangan adalah individualis hebat yang arogan. Namun, sikapnya mengunjungi Galicia memperlihatkan betapa dia tunduk kepada keyakinan kebaikan hidup seorang manusia.

Aksi kemanusiaan itu juga bukan hal baru bagi Ronaldo. “Dia (Ronaldo) selalu mendonorkan darahnya (untuk orang lain) dua kali setahun,” ungkap salah seorang seorang sumber terdekat Ronaldo. Setidaknya, dengan kebaikan itulah, Ronaldo percaya mimpi dan harapannya bisa membawa berkah.

Toh, kini di depan mata Ronaldo terpampang mimpi besar yang belum dicapainya selama berkarier bersama El Real, yaitu La Decima atau gelar kesepuluh Liga Champions. Mimpi itu pun akan semakin spesial, karena partai puncak turnamen tersebut bakal digelar di Lisabon, Portugal, tanah kelahirannya.

“Mimpiku adalah untuk memenangi Liga Champions di Lisabon, di negaraku. Jadi kami bekerja keras, kami pasti akan bekerja keras untuk memenangi trofi yang luar biasa ini nanti,” kata Ronaldo.

Tapi, sungguhkan mimpi Ronaldo itu bakal menjadi kenyataan? Tunggu dulu, kali ini lawan Ronaldo dan kawan-kawan bukan tim sembarangan. Gelar Primera Division 2013-14 yang sudah diraih Atletico Madrid, menunjukkan untuk mengalahkan skuad asuhan Diego Simeone itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Atletico juga telah sukses mengakhiri dominasi Madrid dan Barcelona selama 10 tahun terakhir di Primera Division. Tujuan Diego Costa dan kawan-kawan kini adalah mencatat sejarah baru memenangi Liga Champions. Bakal semakin spesial jika trofi itu dikawinkan dengan trofi Primera Division.

Kesuksesan Atletico itu jelas tidak bisa dilepaskan dari peran Simeone. Simeone adalah seorang manusia yang berpegang teguh bahwa semua kesuksesan berawal dari mimpi. Hal itu terungkap dalam biografinya berjudul El Efecto Simeone (The Simeone Effect) yang ditulis oleh Santi Garcia Bustamente.

“Saya harus meyakinkan mereka bahwa Chelsea bukan tidak mungkin dikalahkan. Sepak bola harus punya mimpi dan jika ada 1 dari 100 kesempatan, maka kami akan mengambilnya untuk membuat mimpi itu menjadi kenyataan,” kata Simeone menjelang laga Atletico dan Chelsea di partai final Piala Super Eropa 2012.

Ucapan itu ternyata mampu mengangkat motivasi dan semangat juang Diego Costa dan kawan-kawan. Atletico tampil ganas. Chelsea pun digilas 1-4. Atletico menjadi kekuatan baru di Eropa dan sukses berpesta sembari mengangkat piala di hadapan ratusan juta pasang penikmat bola seantero dunia.

Iberia
Mimpi Ronaldo bersama Madrid dan Simone bersama Atletico itulah yang bakal menjadi pertunjukkan utama pada final Liga Champions di Estadio Da Luz, Lisabon, Sabtu (24/5/2014). Mereka akan berjuang demi menggapai mimpinya masing-masing serta untuk mencari siapa jawara sejati di Semenanjung Iberia.

Simeone berasal dari Argentina. Namun, pengalaman bertahun-tahun bermain di Spanyol telah membuat dia laiknya “matador” di Semenanjung Iberia. Lihatlah gaya permainan Atletico sepanjang musim ini. Chelsea pun kembali menjadi contoh korban keganasan Simeone meracik tim saat kedua tim bertemu di semifinal Liga Champions.

Atletico sangat agresif, tak habis-habisnya mengancam gawang Chelsea. Mereka cepat dan tidak hanya bertumpu pada serangan balik. Malah Chelsea yang menerapkan gaya total defensif, kedodoran di belakang dan akhirnya tergiring bermain ofensif. Sulit bagi Chelsea menerka permainan anak-anak asuhan Simeone. Hasilnya? The Blues pun bertekuk lutut dengan agregat 1-3.

“Bagi kami, bagi klub, dia (Simeone) sudah seperti Tuhan. Dia datang ke klub dan mengubah segalanya. Apa yang dia katakan kepada kami menjadi kenyataan dan kami harus mengikutinya,” kata gelandang Atletico, Tiago Mendez.

Namun, Madrid bersama Ronaldo-nya juga tidak kalah perkasa. Mereka telah memberikan pelajaran berharga bagi pelatih Bayern Muenchen, Pep Guardiola bahwa nilai satu-satunya dari sepak bola adalah gol. Total 37 gol yang dilesakan Madrid di Liga Champions 2014 adalah harta yang tidak dipunyai sang juara bertahan pada musim ini.

Bayern di bawah Guardiola memang jadi berbeda dengan Bayern di bawah asuhan Jupp Heynckes. Justru kini Madrid-lah yang menyerupai permainan Bayern milik Heynckes. Mereka sangat cerdik, efektif dan mampu mengontrol pertandingan. Kombinasi Ronaldo, Gareth Bale dan Karim Benzema pun sangat menakutkan. Mereka bertiga menyumbang total 24 gol.

Para pemain Madrid juga sangat sabar saat meladeni penguasaan bola Bayern. Namun, begitu ada kesempatan, secepat kilat mereka melakukan serangan balik ke jantung pertahanan lawan. Keunggulan agregat 5-0 lawan Bayern di semifinal adalah bukti Los Galacticos tak bisa sekedar dilayani dengan permainan indah.

“Real Madrid adalah kesebelasan dengan organisasi pertahanan yang ampuh. Tidak mudah pertahanan mereka ditembus dan mereka adalah kesebelasan yang memiliki serangan balik terbaik di dunia,” puji Guardiola.

Di atas kertas, rasanya sulit bagi Madrid jika ingin mengungguli Atletico dengan skor telak. Pun halnya dengan Atletico. Rekor pertemuan kedua tim dalam lima laga terakhir pun seimbang. Masing-masing mengemas dua kemenangan dan sekali imbang.

Akan tetapi, sejatinya, sepak bola terkadang tidak bisa diperkirakan dengan hitungan di atas kertas. Ada semangat dan motivasi tersembunyi, yang bisa mendobrak segala ketidakmungkinan dan keterbatasan.

Semangat dan motivasi tersembunyi itu tercermin dari mimpi yang terpendam dalam diri Ronaldo dan Simeone. Toh, sepak bola juga suatu harapan. Jadi, mereka boleh yakin bisa menang atas harapannya masing-masing, sama seperti para peziarah yang ingin menggapai berkah saat menempuh rute perjalanan ke Santiago de Compostela.

Kita tidak pernah boleh berhenti bermimpi. Mimpi memberikan nutrisi bagi jiwa, sama seperti makanan untuk tubuh. Beberapa kali dalam hidup kita melihat mimpi kita hancur dan frustasi terhadap keinginan, tetapi kita harus tetap bermimpi. Jika tidak, jiwa kita akan mati dan kita tidak bisa menggapainya.” – Paulo Coelho (The Pilgrimage, 1987)

#Dimuat juga di Kompas.com

Advertisements