Para pemain tim nasional U-23, Thailand, saat merayakan gelar juara cabang sepak bola SEA Games 2013 seusai mengalahkan Indonesia 1-0 pada final di Naypyidaw, Sabtu (21/12/2013). – AFP / Soe Than WIN

DI tengah Stadion Zayyarthiri, Naypyidaw, Myanmar, Ramdani Lestaluhu, duduk melamun. Kelopak matanya basah. Berkali-kali kaus merah berlambang garuda yang melekat di badannya diusapkannya ke muka. Betapa sedih hatinya, Indonesia kembali gagal meraih gelar juara di cabang sepak bola SEA Games 2013.

Tak jauh dari tempat Ramdani meratap, para pemain Thailand tampak berpesta di podium kemenangan. Ini adalah kali kedua Ramdani melihat dengan mata kepala sendiri puluhan medali emas berayun di leher para pemain lawan yang melompat-lompat merayakan kemenangan di final SEA Games.

Apa yang disaksikan Ramdani juga disaksikan ratusan juta orang Indonesia melalui layar kaca, seiring ingatan memutar kembali kenangan serupa pada final SEA Games 2011, di Jakarta.

Indonesia tidak sekadar kalah. Kekalahan juga semakin memperpanjang dominasi Gajah Putih atas Garuda dalam 18 pertemuan terakhir. Sejak SEA Games 1977, Thailand menang 13 kali, sedangkan Indonesia hanya mampu memenangi empat pertandingan. Dua kali mereka bermain imbang. Dua kali pula Indonesia sempat merasakan takluk 0-7 dan 0-6 pada SEA Games 1985 dan 2003.

“Saya memohon maaf. Kami belum bisa memberikan kado terbaik bagi Indonesia pada tahun ini. Jika kita mau membandingkan dengan tim lain memang tim kita paling minimalis dalam persiapan,” kata pelatih Rahmad Darmawan seusai pertandingan. Kata-kata itu pula yang dulu kerap didengar oleh Ramdani serta seluruh masyarakat Indonesia saat timnas menelan kegagalan di lapangan.

Ramdani serta publik Tanah Air pun kembali dihadapkan pada realita, Indonesia belum pantas untuk meraih juara di Asia Tenggara. Berdasarkan realita itu juga, atas segala kekurangan dalam tubuh skuad Garuda Muda, medali perak adalah pencapaian yang sudah cukup luar biasa bagi Indonesia.

Sekali lagi, tidak pantas rasanya pelatih atau pemain disalahkan atas kegagalan ini. Para pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI)-lah yang patut dimintai pertanggungjawaban. Terlalu banyak intrik serta pembelaan jika para pemain timnas tertunduk lesu di podium kekalahan.

Toh, sejauh ini belum ada hasil nyata dari lapangan sepak bola atas berbagai apologi atau alasan yang selalu dikumandangkan. Sedikit menoleh ke belakang, Indonesia memang sempat merasakan euforia juara saat timnas U-19 meraih gelar AFF 2013 serta lolos ke putaran final Piala Asia U-19 2014.

Namun, apakah itu murni hasil kerja keras PSSI dalam mempersiapkan tim juara? Tidak. Sejatinya, itu adalah keikhlasan seorang Indra Sjafri, pelatih timnas U-19, mencari talenta-talenta muda ke polosok negeri.

Perayaan
Di Indonesia, sepak bola adalah fiesta. Lewat sepak bola, seluruh masyarakat Indonesia bisa berkumpul dengan semangat nasionalisme tinggi di tengah kekacauan politik akibat budaya korupsi dari para politisi yang tak tahu diri. Dari perayaan sepak bola jugalah sejarah besar bangsa ini tercipta.

Karena itu, tak heran para Bapak Bangsa seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, hingga Tan Malaka begitu menggilai sepak bola. Bagi mereka, sepak bola merupakan warisan bangsa yang harus dijaga karena mengandung seni serta pelbagai inspirasi untuk membangun negeri.

Sejak era 1930-an, Indonesia sudah merasakan pesta luar biasa dari sepak bola. Lihat saja ketika Indonesia menjadi satu-satunya tim Asia Tenggara yang pernah tampil di Piala Dunia 1938, meski kala itu masih dengan nama West Indies karena Nusantara masih dalam kekuasaan kolonial Belanda.

Selepas merdeka, Indonesia tetaplah merupakan macan Asia. Bahkan, Indonesia pernah menahan Rusia 0-0 di Olimpiade Melbourne, Australia, pada 1956. Itu sebuah partai dramatis dan bersejarah pun inspiratif, mengingat Rusia adalah tim raksasa di Eropa kala itu, dan akhirnya meraih medali emas.

Sederet nama-nama besar seperti Ramang, Maulwi Saelan, Sutjipto Suntoro, Ronny Paslah, Iswadi Idris, Ronny Pattinasarany, Hery Kiswanto, dan Ricky Yacobi adalah bukti bahwa Indonesia sempat masuk ke dalam pesta sepak bola di Asia Tenggara sejak 1950-an sampai awal 1990-an.

Pada 1988, misalnya, Indonesia masih bisa mencapai semifinal Asian Games di Seoul, Korea Selatan. Kemudian, pada 1991, Indonesia merebut medali emas SEA Games di Manila. Setelah itu, nir-gelar, hingga para talenta muda di skuad timnas U-19 melepaskan sedikit dahaga pada Piala AFF 2013 serta Kualifikasi Piala Asia 2014.

Kompetisi
Kegagalan timnas U-23 di SEA Games tahun ini sekiranya dapat kembali mengajarkan bahwa dalam sepak bola tidak ada jalan pintas. Persiapan yang hanya dilakukan selama lima atau enam bulan timnas U-23 adalah salah satu bukti contoh nyata kegagalan dari pelajaran berharga tersebut.

“Jangan harap dengan persiapan singkat, Indonesia lalu punya sebuah kesebelasan hebat.” Begitu kata Anatoly Fyodorovich Polosin. Pelatih asal Rusia yang sukses membawa skuad Garuda meraih emas SEA Games 1991 di Manila itu seakan meramalkan persoalan yang bakal terus dihadapi sepak bola Indonesia.

Sejatinya, persiapan mengikuti turnamen internasional takkan menjadi masalah besar jika kompetisi sepak bola di negeri ini sudah tertata dengan profesional. Jika saja para pengurus PSSI mampu membentuk sistem kompetisi yang sehat, talenta-talenta muda Indonesia pun bisa diasah menjadi pemain hebat.

Padahal sudah banyak contoh dan inspirasi untuk mengembangkan potensi-potensi pemain muda dengan pembentukan kompetisi yang sehat dari negara lain. Jerman, misalnya, ketika kegagalan mereka di Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000, Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) langsung sigap bereaksi.

Alhasil, pada 2002, DFB bersama Liga Sepak Bola Jerman (DFL) dan Asosiasi Liga Jerman berkoordinasi untuk membangun pengembangan pemain usia muda dengan gelontoran dana besar. Sebanyak 36 klub yang bermain di Bundesliga I dan II diwajibkan untuk memiliki akademi mandiri. Setidaknya, setiap klub itu harus memiliki 12 pemain di setiap kelompok umur yang memenuhi syarat untuk membela timnas Jerman.

DFB juga mendirikan sekitar 120 pusat sepak bola nasional yang khusus mendidik pemain berusia 10-17 tahun sampai pelosok Jerman. Bahkan, Undang-Undang Imigrasi Jerman pun diubah untuk memberikan kemudahan kepada imigran usia muda untuk mendapatkan paspor Jerman. Cara ini dilakukan Jerman untuk melakukan “investasi” sepak bola negara mereka.

Maka dari itu, wajar jika Jerman dijadikan tujuan sejumlah negara Asia untuk mengembangkan bakat para pemain muda. Contohnya, Shinji Kagawa, gelandang asal Jepang yang telah meraih kesuksesan bersama Borussia Dortmund, yang kini berkarier di Manchester United. Berkat talenta-talenta yang diurus dengan baik itu pula, Jepang mampu tampil konsisten dalam perhelatan Piala Dunia sejak 1998.

Harga
Di Indonesia? Kegagalan demi kegagalan selama puluhan tahun rasanya tidak membuat para pengurus sepak bola jera. Konflik berkepanjangan mereka beberapa waktu lalu pun terkesan hanya menjadi “pengalihan isu” terhadap realita bahwa Indonesia ternyata sudah jauh tertinggal dari negara-negara ASEAN lainnya dalam bidang sepak bola.

Tidak usah jauh-jauh, lihat saja sulitnya Indonesia sekarang melawan Timor Leste. Hasil 0-0 pada fase Grup B SEA Games 2013 merupakan salah satu contoh sepak bola Indonesia telah mengalami kemunduran. Hasil tersebut serta kegagalan demi kegagalan SEA Games harus segera disikapi dengan produktif oleh PSSI, selaku otoritas sepak bola tertinggi di negeri ini.

Para pengurus PSSI harus selalu ingat bahwa negeri ini tidak akan pernah kekurangan sumber daya talenta muda sepak bola. Para pengurus itu juga harus ingat seluruh kerja keras mereka hanya bisa dipertanggungjawabkan kepada publik Indonesia dengan hasil yang tercipta dari lapangan sepak bola.

Sekarang, publik bakal kembali melihat keseriusan PSSI dalam membentuk kompetisi sehat dan profesional agar tidak ada lagi alasan pemain kurang berpengalaman atau minimnya persiapan jika tiap kali timnas menuai kegagalan.

Toh, jika selama ini para pengurus itu rela mengeluarkan biaya serta tenaga besar dalam kegigihannya meraih puncak kekuasaan sepak bola, maka publik pun rasanya bisa balik bertanya hingga saat ini, sudah berapa besarkah biaya, keikhlasan, dan upaya mereka agar Indonesia bisa kembali berpesta sembari menggenggam emas yang hilang di tangan skuad Garuda?

Jika kamu menang, kamu adalah seorang dewa, jika kamu kalah, kamu adalah ketiadaan belaka.” – Nevio Scala, eks pelatih Borussia Dortmund.

Advertisements