Aktivis memasang baliho jelang Jambore Perubahan Sepak Bola Indonesia di Tugu Proklamasi, Jakarta, Kamis (20/1/2011). Aliansi Suporter Indonesia dan komunitas Save Our Soccer menggelar jambore untuk mendukung perbaikan sepak bola Indonesia. KOMPAS/ AGUS SUSANTO

 

Wahai Presiden kami yang baru. Kamu harus dengar suara ini. Suara yang keluar dari dalam goa. Goa yang penuh lumut kebosanan...”

DEMIKIAN lirik syair lagu musisi Iwan Fals, berjudul Manusia Setengah Dewa. Iwan mengerti Indonesia terus dipenuhi permainan politik yang semakin membuat rakyatnya bosan. Lihat saja, hingga sekarang apa hajat hidup di negeri ini yang tidak disentuh oleh kalangan politik. Mulai dari persoalan sosial, ekonomi, hukum, hingga agama pun telah terjamah oleh tangan-tangan para politisi.

Politik. Sedikit saja ada berita baik, mereka berebut membusungkan dada angkat kepala di depan kamera. Jika ada orang berprestasi, mereka menjadi orang yang paling jeli melihat gajah di seberang lautan.

Namun, begitu ada masalah, tampaklah wajah asli mereka, pengecut sejati. Para pejabat atas negeri yang duduk di kursi pesakitan dengan lihainya bersilat lidah untuk lepas dari tanggung jawab. Jika tanah berpijak semakin tergerus, tangan mereka menggapai-gapai mencari kawan hadapi penjara celaka. Jika rakyat sengsara, mereka semua lupa bagaimana berlaku jujur lantas sibuk menciptkan kambing hitam. Gengsi dan nama baik membuat mereka tak ragu makan daging sesama.

Bahkan, satu-satunya hiburan rakyat Indonesia, sepak bola, terus dijadikan alat permainan oleh para pengurus yang lebih menyerupai politisi daripada pamong olahraga sejati. Padahal, aturan dasar olahraga permainan ini saja, sportivitas, mereka tidak paham dengan baik. Jadilah, gairah dan semangat masyarakat negeri ini selalu tergelincir jatuh ke dasar jurang, merangkat naik sampai kembali meluncur jatuh di lembah sebelah sana, seperti hukuman dewa untuk Sisyphus.

Lelucon
Ya, sepanjang tahun ini belum juga ada juga kisah manis dari dalam lapangan sepak bola. Yang lebih sering masyarakat saksikan hanyalah lelucon para elite Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI). Mereka terus saling sikut dan unjuk gigi untuk berebut kursi. Soal prestasi? Masyarakat masih terus gigit jari.

Lihat saja, bagaimana konsep rekonsiliasi atas perpecahan mereka yang sudah berlangsung hampir dua tahun ini tidak berjalan sama sekali. Polemik mereka selalu dibubuhi intrik untuk menguasai perjalanan sepak bola Indonesia. Lelucon itu pun berlanjut kepada sebuah kenyataan yang tidak pernah ada di belahan dunia manapun, yakni Indonesia memiliki dua tim nasional!

Belum lagi dengan larangan para pemain yang berkompetisi di ISL untuk membela timnas. Adalah hal lucu, anak bangsa dikekang hak-haknya membela tanah air hanya karena persoalan benar atau salah dan resmi atau tidak resmi. Tidak pantas rasanya pemain dijadikan boneka. Karena dari peluh keringat merekalah nama Indonesia bisa berkibar di dunia.

“Dapatkan kalian bayangkan, di Indonesia ada dua kelompok yang mengarahkan sepak bola? Mereka mempunyai liga yang bagus, tetapi pemain dari liga itu tidak bisa bermain di tim nasional. Ada sesuatu yang salah,” kata Presiden FIFA, Sepp Blatter beberapa waktu lalu.

Walhasil, atas berbagai polemik itu, FIFA sempat memberikan ultimatum bagi stakeholder sepak bola Indonesia untuk membenahi masalah yang semakin kritis. Pertama, melalui surat tertanggal 13 Januari 2012, FIFA menyarankan agar PSSI segera menyelesaikan masalah dualisme kompetisi maupun organisasi hingga Maret 2012.

PSSI dan KPSI memang sempat bersama-sama menandatangani MoU atau nota kesepahaman di markas AFC, Kuala Lumpur, Malaysia, 7 Juni 2012. Namun, hal itu pun seperti diacuhkan karena hingga saat ini tidak ada hasil dan langkah nyata ditampilkan kedua kubu yang bertikai itu.

Mulai dari sering molornya sejumlah pertemuan Joint Committee (JC), deadlock dalam rapat, hingga tidak adanya semangat persatuan untuk menjalankan MoU yang tersebut. Padahal, jika PSSI dan KPSI mempunyai itikad baik menjalankan MoU itu masalah mengenai dualisme itu bisa selesai.

FIFA kemudian menyarankan lagi kepada PSSI agar menyelesaikan kekacauan itu hingga Desember. Jika dianggap tak berhasil tidak sanksi akan dijatuhkan. Namun, setelah rapat Executive Committee (Exco) di Tokyo, Jepang, 14 Desember lalu, Federasi Sepak Bola Dunia itu kembali memperpanjang batas waktu hingga 13 Februari mendatang.

Batas waktu yang dikatakan sebagai ultimatum paling terakhir dari FIFA ini seharusnya dijadikan momentum semua pihak untuk bersatu. Sikap tegas pemerintah, khususnya dari Kementerian Pemuda dan Olahraga jelas ditunggu. Jangan terus bersikap ambigu jika tidak ingin melihat publik sepak bola Indonesia terus termangu.

Kehancuran
Sejatinya tulisan ini adalah catatan sepak bola yang seharusnya berisi mengenai catatan prestasi dari lapangan hijau. Namun, penulis sadar melihat sejumlah paragraf di atas rasanya tidak ada cerita mengenai hal tersebut. Tapi, kita tak perlu menutup mata, karena faktanya hal itulah yang terus terpampang di depan mata kita. Hanya sedikit kisah manis dari dalam lapangan sepak bola. Selebihnya hanya berita yang tidak enak didengar dan dibaca oleh manusia normal.

Secuil kisah manis itu dapat dilihat saat timnas U-18 bisa menggiling Pakistan dengan skor 25-0 pada babak kualifikasi Piala Pelajar Asia 2012. Selain itu, Semen Padang yang berhasil menjuarai Indonesian Premier League (IPL) dan Sriwijaya FC mampu merebut gelar ISL. Selebihnya, lapangan sepak bola Indonesia masih terus menyumbang duka.

Lihat saja, bagaimana timnas senior Indonesia diperbincangkan seluruh isi bumi karena kalah 0-10 dari Bahrain dalam kualifikasi Piala Dunia 2014. Belum lagi, dengan terperosoknya posisi Indonesia dalam ranking FIFA saat menembus peringkat 170 pada periode Oktober, yang merupakan titik terendah sepanjang sejarah.

Sementara, kepala para pemain skuad Merah Putih pun masih tertunduk di podium kekalahan usai dikalahkan Malaysia 0-2 dan gagal lolos dari putaran pertama Piala AFF 2012, November lalu. Ini adalah kesekian kalinya Andik Vermansah dan kawan-kawan harus berada di podium kekalahan dalam sejumlah turnamen level Asia.

Sedangkan, perjalanan roda kompetisi sepak bola nasional juga masih diwarnai kisah kelam. Mulai dari perkelahian suporter yang tak jarang memakan korban jiwa, banyaknya klub yang menunggak gaji para pemainnya, yang berujung dengan meninggalnya pemain Persis Solo, Diego Mendieta, karena tidak mempunyai biaya untuk berobat, 4 Desember 2012.

Inilah fakta yang terpampang di depan mata publik sepak bola Indonesia sepanjang 2012. Masyarakat pun sudah sangat jarang mendengar atau membaca para penggawa timnas Indonesia meraih kesuksesan di lapangan hijau di sejumlah media nasional. Yang ada adalah permainan kedua kelompok untuk memperebutkan kursi kekuasaan.

Masyarakat Indonesia kini pun seperti sudah sudah masa bodoh mengenai apa itu statuta, sanksi FIFA,  Exco, Komite Bersama atau pun Kongres Luar Biasa (KLB) yang terus keluar dari mulut para pengurus PSSI-KPSI. Yang masyarakat butuhkan hanyalah tegaknya kepala 22 anak bangsa di atas podium kemenangan saat meraih prestasi. Titik!

Karena itu, atas berbagai kekecewaan tersebut, sangat wajar masyarakat Indonesia sepanjang 2011 berada dalam rasa kebosanan yang telah terjerat dalam goa hitam. 240 juta masyarakat kini sangat berharap ada sosok pemimpin atau pengurus organisasi yang bisa menghadirkan prestasi sepak bola yang sejak 21 tahun silam telah mati suri. Jika bisa, tentu mereka akan dianggap sebagai manusia setengah dewa.

Advertisements