Molucca Bamboowind Orchestra saat menggelar konser di Auditorium Taman Budaya, Karang Panjang, Kota Ambon, Sabtu (29/9/2012)

Tanah Airku Indonesia. Negeri elok amat kucinta. Tanah tumpah darahku yang mulia. Yang kupuja sepanjang masa…

LIRIK tembang “Rayuan Pulau Kelapa” karya Ismail Marzuki itu mengalun indah di dalam Auditorium Taman Budaya, Karang Panjang, Kota Ambon, akhir pekan lalu. Irama menghentak, dipadu dengan komposisi suara suling bambu, tabuhan tifa, totobuang, rebana, dan gesekan biola, menjadikan gedung tua itu berubah laiknya panggung Orkestra Mancanegara.

Ratusan penonton dalam Auditorium itu terbius. Tiupan suling dari lima jenis karakteristik suara, menghipnotis diri, seakan bernostalgia dengan nuansa tradisional Nusantara. Nada penyanyi solo dan paduan suara, membuat benak penonton yakin konser yang dimainkan Molucca Bamboowind Orchestra itu sangat menjanjikan untuk menghidupkan kembali musik tradisional Indonesia.

Selama kurang lebih dua jam, Molucca Bamboowind Orchestra, memainkan konser musiknya yang merupakan salah satu dari rangkaian Pesta Teluk Ambon 2012. Sepanjang waktu itu juga, para penonton terus berdecak kagum. Tak jarang mereka ikut berjoget sambil berdiri mengikuti alunan irama musik grup yang dipimpin oleh seorang komposer bernama, Maynard Raynolds “Rence” Nathanael Alfons.

Rence meramu alunan melodi dengan idiom pentatonik sejumlah lagu daerah Indonesia sangat apik. Sebut saja, tembang “Arumbae”, “Angin Barat”, “Rasa Sayang”, hingga “Saint Elmo’s Fire”, karya musisi Dunia, David Foster, dapat diramu menjadi karya yang memukau. Hanya satu tujuan mereka, yakni membuktikan musik tradisional Maluku mampu bersanding dengan musik terkenal lainnya.

Spirit
Molucca Bamboowind Orchestra pertama kali dibentuk pada 2006. Hal yang menarik dari kelompok musik ini adalah, anggotanya yang bukan orang yang ahli dalam bidang musik, melainkan gabungan dari berbagai profesi yakni siswa SMP, SMA, Mahasiswa, guru, wiraswasta, pensiunan PNS, hingga tukang ojek, penyadap Nira, dan montir bengkel.

Rence menceritakan, ratusan anggota kelompok musiknya itu memberinya keyakinan tinggi karena memiliki semangat besar untuk berlatih bermusik dan membaca notasi angka. Maklum saja, hanya makanan ringan, dan duduk santai sambil minum sopi (sejenis arak khas Maluku) yang dijadikan Rence sebagai imbalan mereka, yang sebagian diantaranya harus berjalan puluhan kilometer untuk datang ke tempat latihan.

Tapi, hal itu membuahkan hasil. Kelompok musik itu pun mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat yang berbondong-bondong berkeinginan untuk menjadi anggota. Padahal, Rence, tidak pernah menjanjikan materi, melainkan hanya memberikan optimismenya untuk membangun paradigma pembaharuan musik tradisional Maluku yang sudah mulai dilupakan.

“Ketika pulang kembali ke Ambon setelah kerusuhan, saya sempat kumpul beberapa orang dan berkeinginan untuk membuat alat musik suling bambu. Pertama kali hanya lima atau enam orang saja. Tapi, saya ‘memprovokasi’ dengan menggunakan pendekatan kultur untuk membangun musik tradisional ini,” ungkap Rence kepada Kompas.com.

Namun, keinginan Rence itu sempat tidak berjalan mulus. Sedikitnya keberadaan perajin suling bambu di Maluku, menjadikannya mau tidak mau, membuat sendiri alat musik tersebut. Pria berusia 45 tahun itu membuat suling di rumahnya, Desa Tuni, Nusaniwe, Ambon. Setidaknya, butuh waktu sekitar tiga bulan untuk membuat sekitar 60 suling bambu.

Suling-suling itu dibuat dengan telaten untuk menghasilkan nada yang beragam, mulai dari sopran, alto, tenor, sampai bas yang rendah. Tak jarang pula, lulusan Jurusan Musikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu, harus mengulang pekerjaannya dari awal, karena alat musik yang dibagi menjadi lima jenis suara itu bernada fals ketika selesai dibuat.

“Di Maluku sangat sedikit sekali ilmuwan musik. Kalau artis banyak. Saya kira segala sesuatu di dunia ini, jika ingin berkembang harus ada ilmuwan. Inilah yang menjadi pemikiran dasar untuk mengembangkan kelompok musik tradisional ini. Syukur, sekarangsemuanya bisa berjalan dengan baik,” kata pria kelahiran 18 Januari 1967 ini.

Prihatin
Sejatinya, konser Molucca Bamboowind Orchestra memang mengesankan ratusan penonton dari dalam maupun luar negeri. Tapi, rasanya alunan tembang dari kelompok musik itu akan semakin maksimal, jika dibarengi dengan kualitas panggung dan tata suara yang optimal. Maklum saja, hingga saat ini mereka harus melakukan latihan rutin dan bermain di gedung Taman Budaya yang kondisinya memprihatinkan.

Di beberapa sudut langit-langit gedung yang dibangun pada 1986 itu banyak yang jebol dan lapuk. Kursi penonton tidak terawat. Hanya dua dari empat pendingin ruangan (AC) dalam ruangan yang hidup. Pun halnya dengan sejumlah sound system yang kualitasnya sangat jauh di bawah standar untuk menggelar sebuah pergelaran konser musik.

“Sebenarnya sudah beberapa kali saya usulkan (agar diperbaiki lagi), sampai saya bosan. Tapi mau bagaimana lagi, kalau kita idealis, tidak bakal ada grup musik ini. Jadi apa adanya saja, walau dengan kondisi seperti ini,” aku Rence.

Keprihatinan Rence itu, seharusnya bisa menjadi perhatian utama bagi pemerintah pusat agar bisa segera dibenahi. Bahkan, selain Taman Budaya Maluku ini, kondisi taman budaya lainnya, yang seharusnya dapat dijadikan tempat bagi seniman untuk berkarya dengan nyaman, masih banyak yang terbengkalai di sejumlah daerah di Indonesia.

Lihat saja, infrastruktur taman Budaya, seperti di Provinsi Sulawesi Tenggara, Jambi yang masih berkutat dengan slogan “hidup segan, mati tak mau”. Pada Juli lalu, Forum Taman Budaya Seluruh Indonesia, sempat mengungkapkan, sebagian besar dari 25 Taman Budaya di Indonesia belum mempunyai arah pengembangan yang baik.

Masalah itu sebenarnya membuat Rence dan kelompok musiknya Molucca Bamboowind Orchestra, hidup dengan kondisi prihatin. Tapi, hal itu tidak membuat semangat mereka luntur. Tempat tidak menjadi masalah, karena di benak mereka, ada spirit tinggi untuk membangun kembali peradaban musik Maluku sebagai salah satu karya indah kekayaan kebudayaan tradisional Indonesia.

Melambai-lambai. Nyiur di pantai. Berbisik-bisik, Raja Kelana. Memuja Pulau. Nan indah permai, Tanah Airku Indonesia…” – Ismail Marzuki

#Ditulis juga di Kompas.com

Advertisements