Johan Cruyff (kiri) dan Franz Beckenbauer (kanan) di Final Piala Dunia 1974.

Sepak bola adalah perang,” -Rinus Michels.

UCAPAN singkat mantan Pelatih Belanda, Rinus Michels, itu seakan menggambarkan bahwa sepak bola memang tidak hanya mendatangkan hiburan semata. Terlalu banyak definisi hingga filosofi yang terkadang jauh melewati pola pikir manusia bahwa olahraga itu hanya sebatas permainan biasa di muka bumi ini. Sepak bola bisa menjadi seni, tetapi bisa pula menjadi pertarungan sengit yang berurusan dengan martabat bangsa.

Mau bukti? Lihat saja, perseteruan dua negara adidaya di barat Eropa, yakni Jerman dan Belanda. Bahkan, bagi mereka, sepak bola telah bertransformasi melebihi seni dan permainan olahraga selama 2 x 45 menit dengan kreativitas tinggi. Sejarah panjang rivalitas yang terus menggelora di antara kedua negara itu seakan membawa kita seperti menyaksikan tontonan para prajurit perang pada Perang Dunia.

Jika ditarik jauh ke belakang, sejumlah penduduk Belanda mungkin masih ingat bagaimana kejamnya pimpinan Nazi Jerman, Adolf Hitler, membumihanguskan negara mereka dalam pertempuran udara yang lebih dikenal dengan sebutan “Battle of Netherland” pada September 1939. Belum lagi jutaan rakyat Belanda tak berdosa tewas ketika pasukan Schutzstaffel (SS) milik Nazi menduduki negara tersebut pada era 1940-an.

Walhasil, pascapendudukan itu muncullah sentimen Anti-Jerman di kalangan masyarakat Belanda, yang terbangun akibat trauma mendalam kekejaman Nazi pada masa tersebut. Sentimen itu kemudian merambah dalam urusan sepak bola. Pada putaran final Piala Dunia 1974, sejumlah fans Belanda banyak yang memakai kaus bertuliskan “I Want My Bicycle Back” sebagai kata celaan merujuk pada peristiwa itu. Maklum saja, Nazi ketika itu merampas apa saja milik rakyat Belanda, termasuk juga sepeda!

Bahkan, saat menjelang Piala Dunia 2006 silam, kaus oranye dengan slogan provokatif dan repelika helm Perang Dunia II laris manis diboyong oleh ribuan suporter Belanda. “Ini sesuatu yang bersifat historis karena rivalitas selalu terjadi,” ucap Florian van Laar, salah satu kreator replika helm tersebut. Karena helm ini pula, asisten pelatih Jerman, Hansi Flick, beberapa waktu lalu mendapat masalah.

Niat awalnya berkelakar, alih-alih Flick justru mendapat masalah besar. Ungkapan bahwa Jerman membutuhkan “helm baja” untuk menahan gempuran pemain lawan, langsung direspons dengan kritik tajam, baik oleh masyarakat Belanda maupun publik Jerman sendiri. Ia pun akhirnya mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Jerman tak mau kalah. Pada laga persahabatan 2005 silam, penjual buah di Jerman menyemprot jeruk-jeruk milik mereka dengan cat hitam. Ketika Belanda gagal ke Piala Dunia 2002, fans Jerman pun menulis lagu khusus untuk mencemooh rivalnya tersebut. Paling anyar, terjadi saat publik Bayern Muenchen mencemooh bintangnya sendiri, Arjen Robben, pada final Liga Champions musim lalu.

“Beberapa fans kecewa karena Arjen Robben bermain buat Belanda ketimbang berseragam Muenchen,” ujar Presiden Bayern Karl-Heinz Rummingge, yang akhirnya juga meminta maaf atas insiden tersebut.

Warisan “perang”
Sejumlah fakta sejarah itu menunjukkan bahwa rivalitas Jerman dan Belanda terukir sejati. Perseteruan di antara mereka seolah jadi warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Bahkan, sebagai dua raksasa yang memiliki kultur sepak bola sangat kental, Jerman dan Belanda tentu saja tak khawatir “perang” di antara mereka akan segera usai.

Sejak Johan Cruyff mengangkat Belanda ke jajaran tim elite dunia pada final Piala Dunia 1974, perseteruan historis Jerman-Belanda mulai memanas. Final ini adalah kali pertama kedua negara tersebut bertemu sejak berakhirnya Perang Dunia II. Jerman, yang baru menjadi kampiun Eropa dua tahun sebelumnya, memproklamasikan diri sebagai sang “Uber Alles” (Jerman di atas segalanya).

Faktor tuan rumah, dan ambisi untuk mengawinkan dua gelar sekaligus, yakni Piala Eropa dan Piala Dunia, membuat kepercayaan diri Jerman meninggi. Di pihak lain, taktik “Total Football” milik Belanda yang diperkenalkan Rinus Michels telah menyentak dunia. Belum lagi, aksi Cruyff, Johan Neeskens, hingga Van De Kerkoff bersaudara mampu menjadikan Belanda sebagai raksasa Eropa.

Walhasil, lapangan berubah laiknya medan perang. “Total Football” yang diperagakan Cruyff dan kawan-kawan nyaris tak memberi kesempatan pemain Jerman untuk menyentuh bola. Mereka pun langsung unggul saat pertandingan baru berjalan dua menit lewat gol Neeskens. Namun, takdir berkata lain. Jerman mampu bangkit, dan membalas lewat gol penalti Paul Breitner (menit ke-23) dan Gerd Muller (43).

“Aku tidak peduli dengan skor. Hasil 1-0 aku rasa cukup untuk menghancurkan mereka. Aku benci mereka. Mereka membunuh 80 persen keluargaku. Ayahku, saudara perempuan, dan dua saudara laki-lakiku. Setiap kali aku bertemu Jerman, aku selalu dipenuhi kemarahan,” sembur salah satu penggawa Belanda, Wim van Hanegem.

Belanda akhirnya mampu membalaskan sakit hati setelah mengempaskan Jerman 2-1 pada semifinal Piala Eropa 1988. Seusai laga, Ronald Koeman bertukar kaus dengan gelandang Jerman, Olaf Thon. Namun apa yang dilakukannya kemudian? Kaus itu digunakannya untuk membersihkan bagian pantatnya di hadapan sekitar 60.000 pendukung Jerman yang memadati Stadion Volksparks, Hamburg.

“Tahun 1988 tidak bisa menghapus kenangan kami tentang 1974. Sakit hati kami masih membekas. Aku mengerti apa yang kulakukan setelah pertandingan itu hanya tindakan impulsif yang akan Anda sesali. Tapi bagi saya, hal itu sudah saya lupakan,” ujar Koemand.

Tensi kembali memburuk pada putaran kedua Piala Dunia 1990. Merasa dirinya tak pantas mendapat kartu kuning setelah menjatuhkan Rudi Voeller, gelandang Belanda, Frank Rijkaard, kemudian meludahi dan menarik rambut Voller. Nyaris baku pukul, wasit Juan Loustau akhirnya mengusir kedua bintang papan atas itu. Selesai? Tidak. Saat menuju kamar ganti, perselisihan kembali terjadi. Bahkan, sejumlah media mengabarkan sempat terjadi adu jotos di antara kedua pemain tersebut.

“Itu sepenuhnya kesalahan saya dan tak bisa dibenarkan. Saya selalu menghormati Rudi Voller. Tapi saya menjadi emosi ketika mendapat kartu merah,” aku Rijkaard terkait insiden tersebut.

Ini sepak bola
Di Piala Eropa 2012 kali ini, kedua kubu kembali bertemu pada laga kedua penyisihan Grup B, Rabu (13/6/2012). Jika merunut sejarah panjang rivalitas itu, maka Jerman memang masih layak untuk menyebut dirinya sebagai sang “Uber Alles” karena mampu tiga kali merengkuh trofi itu (1972, 1980, dan 1996). Namun, meski kerap disebut sebagai tim terbaik Eropa yang tak pernah merebut juara Dunia, Belanda bukanlah tim yang dapat dipandang sebelah mata.

Terlebih lagi dalam laga kali ini, motivasi tinggi tentu telah merasuki benak pemain Belanda karena kalah di laga perdana melawan Denmark. Dengan demikian, tiga poin adalah harga mati bagi tim asuhan Bert van Marwijk tersebut. Bahkan, oleh sejumlah pihak, Belanda dinilai sedikit sial karena delapan peluang emas dari total 23 usaha bukanlah statistik yang biasa saat melawan “Tim Dinamit”.

“Kami harus mengalahkan Jerman. Saya merasa kami tak pantas kalah dari Denmark. Kami memperlihatkan permainan yang lebih baik dan menciptakan banyak peluang. Sekarang, tidak ada ampun lagi, kami akan buktikan dengan mengalahkan Jerman,” ucap van Marwijk.

Jerman pun tak kalah percaya diri. Karena, jika mengacu rekor pertemuan kedua tim dalam tujuh laga terakhir di turnamen resmi, Jerman unggul tipis atas Belanda. “Der Panzer” tiga kali sukses menundukkan Belanda (Piala Dunia 1974, 1990 dan Piala Eropa 1980), sedangkan “De Oranje” mengoleksi dua kemenangan (Piala Eropa 1988, 1992). Sisanya, kedua tim harus berbagi poin.

“Tak peduli apa pun yang terjadi, ini akan menjadi laga yang sangat berat. Para pemain benar-benar menantikan duel klasik seperti ini dan kami bersemangat tentang laga besok. Ini akan menjadi laga sulit buat kami, tetapi saya yakin kami bisa meraih hasil baik,” kata gelandang Jerman, Bastian Schweinsteiger.

Memang, dewasa ini sudah jarang ditemui pertarungan, baik di dalam maupun luar lapangan, seperti puluhan tahun lalu itu. Sepeda dan helm baja mungkin tidak lagi menjadi sebuah provokasi pendukung Belanda, baik untuk pemain maupun suporter Jerman. Akan tetapi, bagi mereka, setiap laga bukan sekadar soal olahraga semata, melainkan akan selalu diingat sebagai tonggak sejarah rivalitas sejati martabat bangsa. Itulah sepak bola bagi Jerman dan Belanda.

Mengapa kami harus merasa berbeda dengan orang Jerman? Keduanya bagaikan Inggris vs Skotlandia, dengan kami sebagai Inggrisnya,” – Bert Vogts  (1967-1978)

 

Advertisements