Ekspresi pelatih Barcelona, Pep Guardiola bersama sejumlah pemainnya usai menjuarai Piala Super Spanyol pada 2009. AFP/JOSEP LAGO

SORE itu, ruangan konferensi pers di Stadion Camp Nou, Barcelona, penuh sesak oleh sejumlah pemain, manajemen klub, dan wartawan. Puluhan kamera foto dan video sudah berdiri tegap di barisan belakang kursi di ujung ruangan. Ratusan juta pasang pecinta sepak bola dunia pun tertegun menjaga asa, menunggu keputusan seorang pelatih fenomenal bernama Josep Guardiola i Sala.

“Pep Guardiola tidak akan melanjutkan perannya sebagai pelatih musim depan. Terima kasih untuk pekerjaan dan cintamu,” demikian yang diucapkan Presiden Barcelona, Sandro Rosell, saat membuka jumpa pers tersebut.

Ucapan itu kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, melalui jaringan televisi yang disaksikan ratusan pecinta sepak bola. Sejumlah media internasional pun memuat pemberitaan tersebut di halaman depan medianya masing-masing. Konferensi pers itulah yang kemudian menjadi akhir perjalanan emas pelatih tersukses dalam sejarah Barcelona.

Sebutan perjalanan emas ini memang bukan tanpa alasan. Kurang lebih, sepanjang empat tahun terakhir, pecinta sepak bola telah dihibur sebuah klub dari planet lain, bernama Barcelona. Tak bisa dipungkiri, kisah sukses itu tidak bisa dilepaskan dari peran Guardiola, yang sejak musim 2008/2009, telah menciptakan standar tinggi untuk dilawan klub mana pun di dunia.

Real Madrid, Manchester United, Chelsea, Arsenal, Inter Milan, AC Milan, hingga Bayern Muenchen pernah bertekuk lutut merasakan kehebatan racikan tiki-taka Guardiola. Misinya hanya satu, meraih prestasi dan kesuksesan bersama Barcelona dengan permainan indah lewat olahraga bernama, sepak bola.

Darah Catalan
Lahir di sebuah desa dekat kota Barcelona, bernama Santpedor, Catalonia, pada 18 Januari 1971, darah Catalan lekat mengalir dalam diri Guardiola. Ayahnya, Valenti seorang tukang batu. Sedangkan Ibunya, Dolors Sala pekerja rumahan. Seperti remaja pecinta sepak bola lainnya di Catalunya, Guardiola pun bermimpi untuk menjadi pesepakbola terkenal di dunia.

Saat usianya menginjak 13 tahun, Guardiola memutuskan  meninggalkan kehangatan rumah orangtuanya, untuk berlatih di La Masia, tempat pembinaan usia muda milik Barcelona, pada 1984.  Enam tahun berselang, mimpinya pun menjadi kenyataan. Johan Cruyff, yang saat itu menjadi pelatih Barcelona melihat bakat luar biasa dalam diri Guardiola, ketika bermain di sayap kanan tim Barca B.

Cruyff pun lantas menginstruksikan pelatih tim muda, Charly Rexach untuk mengubah posisi Guardiola ke sentral lapangan, sebagai gelandang bertahan. Karier Pep terus berkembang. Pada 1992, ia kemudian masuk tim senior dan menjadi bagian dari Dream Team racikan Cruyff yang banyak memenangkan banyak gelar, termasuk Liga Champions pertama bagi Barcelona pada 1992.

11 tahun, Guardiola menghabiskan kariernya sebagai punggawa lapangan tengah Barcelona. Bersama sejumlah pemain hebat lainnya, seperti Ronaldo, Luis Figo, Hristo Stoichkov dan Michael Laudrup, ia sukses memenangi enam gelar Liga BBVA, dua Piala Raja, dan Piala Super Eropa. Meski Cruyff mundur dari jabatannya pada 1996, Guardiola tetap bertahan dan bisa membawa Barcelona berada di level atas Eropa.

Pada 24 Juni 2001, Guardiola akhirnya memutuskan kariernya bersama Barcelona. Laga melawan Celta Vigo adalah pertandingan terakhirnya sebagai pemain di Liga BBVA. Selama 12 musim di tim utama, 263 laga dan enam gol serta total 16 gelar telah ia persembahkan bagi Barcelona. Setelah itu, ia kemudian berkelana ke sejumlah klub lain, seperti Brescia (2001), AS Roma (2003), Al Ahli (2004), dan Dorados de Sinaloa (2006).

Tinta emas
Kecintaanya terhadap Barcelona, yang kemudian membuat Guardiola kembali ke kampung halamannya. Pada 21 Juni 2007, ia kemudian ditunjuk sebagai pelatih Barcelona B. Bersama asistennya Francecs Vilanova, ia sukses mengangkat timnya tersebut dari Tercera Division ke Segunda B. Pencapaian itu dinilai cukup luar biasa, karena itu merupakan karier pertamanya sebagai pelatih.

Akhirnya, kesuksesan itu menjadi awal torehan emas Guardiola di tim utama Barcelona. Ketika, Frank Rijkaard gagal membawa Barcelona menuju kesuksesan pada 2007, kursi pelatih pun dipercayakan kepada Guardiola. Meski sempat dirudung anggapan pesimis dari sejumlah pendukung Blaugrana, Guardila tidak gentar. Dengan kerja keras, ia pun bertekad membuktikan kepada dunia.

Sebelum musim 2008/2009 bergulir, Guardiola langsung memanggil Daniel Alves, Seydou Keita, Martin Caceres, Gerard Pique, Alexander Helb. Selain itu, tak lupa ia juga memanggil pemain muda jebolan La Masia, seperti Sergio Busquets, Pedro Rodriguez, dan Jeffren Suarez. Ia juga dinilai sejumlah pihak berani mengambil keputusan, karena membuang pemain kelas dunia, seperti Ronaldinho, Deco, dan Samuel Eto’o.

Walhasil, perjudian itu berbuah manis. Di musim pertamanya, kesuksesan mengampiri Guardiola. Tak tanggung-tanggung, enam gelar sekaligus disabet di awal karier profesional Guardiola di Barcelona pada 2009. Berkat raihan gelar Liga BBVA, Copa del Rey, Liga Champions, Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia antar Klub itulah ia meraih delapan gelar individual tingkat dunia.

Semenjak tahun itu, torehan catatan emas Guardiola pun berlanjut. Gelar demi gelar dan rekor menghampiri Barcelona. Pada musim berikutnya, ia kembali sukses mengantar Barcelona menjuarai Liga BBVA dengan rekor baru, yakni meraih 99 poin, yang merupakan poin tertinggi di Liga Spanyol. Sepanjang musim, Lionel Messi dan kawan-kawan pun hanya satu kali menelan kekalahan.

Hanya Real Madrid, yang mampu menahan laju Barcelona di final Copa del Rey, dalam enam turnamen yang diikuti pada tahun tersebut.  Ketika itu, Barcelona takluk 0-1 berkat gol Cristiano Ronaldo. Namun, di musim itu prestasi Guardiola pun masih fantastis, karena mampu menyabet lima gelar, diantaranya Liga BBVA, Liga Champions, Piala Super Eropa, Piala Super Spanyol, dan Piala Dunia antar Klub.

Tak hanya sampai disitu, sejak mengarsiteki Barcelona, Guardiola juga mencatat rekor dalam hal raihan kemenangan. Dengan rata-rata kemenangan 76,8 persen, ia sukses memberikan 112 kemenangan dari total 146 laganya di Liga BBVA. Meski kalah dari milik Cruyff yakni 183 kemenangan dari 306 laga, rekor tersebut cukup luar biasa bagi seorang pelatih yang hanya menjalani kariernya selama empat tahun dalam satu klub.

“Usai merebut kemenangan atas Getafe, Guardiola menjadi pelatih kedua dengan kemenangan terbanyak di Liga BBVA dalam sejarah FC Barcelona. Untuk rata-rata kemenangan, poin itu jauh di atas Rijkaard dengan presentase 56,9 persen. Jadi, ini raihan terbaik bila dibandingkan pelatih Barcelona mana pun sepanjang sejarah klub,” demikian keterangan klub mengenai prestasi Guardiola seperti dilansir situs resmi Barcelona.

Tinggalkan prestasi
Selama empat tahun bermandikan puluhan gelar, akhirnya Guardiola resmi mengundurkan diri dari Barcelona, Jumat (27/4/2012).  Tak ayal, rasa kecewa dan sedih menghampiri seluruh pecinta sepak bola dunia terhadap keputusan pelatih berkepala plontos itu. Sang bintang, Messi pun enggan menghadiri konferensi pers tersebut karena tak sanggup menahan emosi terkait keputusan pelatih yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri.

“Aku ingin berterima kasih kepada Pep dengan sepenuh hati atas segala hal yang ia berikan dalam karier profesional dan pribadiku. Karena emosi yang kurasakan, aku memilih tidak hadir dalam konferensi Pep dan menjauh dari pers karena aku tahu mereka akan mencari wajah-wajah terluka para pemain. Itu hal yang tidak ingin kuperlihatkan,” ungkap Messi.

“Ini kejutan bagi saya, karena ketika anda mengambil keputusan setelah kekecewaan besar seperti yang dia alami sepekan terakhir, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membuat keputusan ini. Filosofi Barcelona harus lebih besar daripada menang atau kalah dalam turnamen,” tutur pelatih Arsenal, Arsene Wenger.

“Saya sangat sedih. Sekarang adalah hari yang menyedihkan, karena sebuah mitos dari Barca telah hilang. Terakhir, hal itu datang di era Johan Cruyff,” ujar salah satu legenda Barcelona, Hristo Stoitchkov.

“Kami harus berterima kasih kepada Guardiola untuk tahun yang hebat dalam sepak bola yang dia berikan kepada Barcelona. Saya mengangkat topi untuknya,” kata legenda hidup sepak bola Belanda, Ruud Gullit.

Keputusan tersebut memang dinilai cukup mengecewakan, karena diambil ketika prestasi Barcelona sedang berada diambang keterpurukan. Kegagalan di Liga Champions, dan tekanan Madrid di Liga BBVA dinilai hanya menjadi alasan yang dilontarkan klub. Karena itu, rasanya kurang pantas, jika kekecewaan tersebut dapat menutup torehan emas prestasi Guardiola. Justru, langkah itu seharusnya patut diancungi jempol, karena ia sadar dengan kepemimpinannya yang terus mengendur karena beratnya tekanan sebagai pelatih Barcelona, akan malah merugikan klub tersebut jika dibiarkan terus.

Sikap itulah yang kemudian menjadi nilai plus keputusan Guardiola. Ia lebih mementingkan kepentingan klub dan pemainnya ketimbang kepentingan dirinya sendiri. Oleh karena itu, siapa pun penggemar sepak bola di seluruh dunia rasanya layak mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan kesuksesan sang pelatih fenomenal, yang sulit ditiru pelatih lainnya.

Terima kasih Pep….

Data Pep Guardiola:
Nama Lengkap: Josep Guardiola i Sala
Tempat Tanggal Lahir: Santpedor, 18 Januari 1971.
Tinggi: 1.82 meter.
Posisi: Gelandang bertahan.
Karier: Barcelona B (1990-1992), Barcelona (1990-2001), Brescia (2001-2002), AS Roma (2002-2003), Al-Ahli (2003-2005), Dorados (2005-2006).
Karier pelatih: Barcelona B (2007-2008), Barcelona (2008-2012).

Penghargaan Sebagai Pemain:
Barcelona:
La Liga: 1991, 1992, 1993, 1994, 1998, 1999.
Copa del Rey: 1997, 1998.
Super Spanyol: 1991, 1992, 1994, 1996.
Liga Champions: 1992.
Piala Winners: 1996-1997.
Piala Super Eropa: 1992, 1997.
Individu:
Bravo Award: 1992.
UEFA All-Star Team: 1992, 2000.
Pemain Terbaik Spanyol di Olimpiade: 1992.

Penghargaan sebagai pelatih:
Barcelona:
La Liga: 2009, 2010, 2011
Copa del Rey: 2009.
Piala Super Spanyol: 2009, 2010, 2011.
Liga Champions: 2009, 2011.
Piala Super Eropa: 2009, 2011
Piala Dunia antar Klub: 2009, 2011.
Individu:
IFFHS World Best Club Coach of The Year: 2009, 2011.
Don Balon Award for Best Coach of the Year: 2009, 2010, 2011.
Onze d’Or Coach of the Year: 2009, 2011.
Miguel Munoz Trophy: 2009, 2010.
UEFA Team of the Year Best Coach: 2009, 2011.
World Soccer Magazine World Manager of the Year: 2009, 2011.
UEFA Team of the Year Best Coach: 2009, 2011.
La Liga Coach of the Year: 2009, 2010, 2011.
Catalan of the Year Award: 2009.
FIFA Ballon d’Or Best Coach: 2011.
Gold Medal of the Royal Order of Sporting Merit: 2010.

Advertisements