Pemain tim nasional U-23 Indonesia menggotong gawang sebelum berlatih ringan di lapangan PSSI, Senayan, Jakarta, Kamis (10/11/2011). Ilustrasi – KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

SEKITAR abad ke-6, Sun Tzu, seorang filsuf dan ahli militer di Cina telah mengerti pentingnya taktik dan strategi perang untuk mencapai kemenangan. Sejarah mencatat keberhasilan Sun Tzu di masa lalu sukses mengantarkan kerajaan Wu yang dulu kecil menjadi kerajaan yang paling disegani diantara kerajaan Shu, dan Wei yang saling berebut kekuasaan pascaruntuhnya Dinasti Han. Karena kecemerlangan taktik yang dipakainya itulah strategi Sun Tzu banyak dipakai dalam penyusunan strategi dan taktik perang modern belakangan ini. Strategi itu dituangkannya dalam sebuah karya bernama Art of War (Seni Perang Sunzi).

Karya Sun Tzu yang luar biasa itu, saat ini tidak hanya dipakai para prajurit dalam perperangan, namun juga digunakan dalam persaingan di ranah politik, ekonomi, sosial, hingga ke satu-satunya hiburan rakyat Indonesia, yakni sepak bola. Lihat saja, persaingan pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) yang bertikai tak kalah sengitnya dengan perang militer. Saling bunuh, saling sikut dan serang, membuat lapangan hijau bak medan pertempuran.

Karena persaingan demi kursi organisasi yang sifatnya sama dengan perperangan, maka segala kampanye psikologis, amunisi maupun momentum mesti diperhitungkan untuk memperdaya lawan. Tengoklah bagaimana KPSI ngotot menolak ajakan damai dan lebih memilih solusi mengkudeta kursi pimpinan PSSI. Solusi yang lebih menyerupai penyelesaian sengketa politik ketimbang olahraga.

Teranyar, dengan keyakinan besar, KPSI kemudian membuat PSSI versi sendiri usai menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) beberapa waktu lalu di Jakarta. PSSI mereka pun memilih sejumlah anggota Exco dengan La Nyalla Mattalitti sebagai ketua. Bahkan lebih jauh, La Nyalla kemudian mempunyai ide yang justru semakin membuat kondisi makin runyam, yakni berencana untuk membuat timnas sendiri. Sejumlah perang psikologis pun dilancarkan demi menjatuhkan mental lawan dalam “medan pertempuran”.

“Riedl (Alfred Riedl) nanti akan menangani timnas senior dan Rahmad Darmawan tangani timnas U-23. Yang jelas rencana ini telah dibahas di Komite Eksekutif. Kami saat masih berusaha untuk menghubungi mereka (Riedl dan RD),” ujar La Nyalla di Jakarta, Rabu (21/3/2012).

Sementara, PSSI juga tidak kalah cerdik memainkan situasi. Jelas, merujuk sejumlah kegagalan timnas di sejumlah kejuaraan Asia dan Dunia, menunjukan bahwa reformasi dan rekonsiliasi yang selalu diumbar hingga saat ini tak terbukti. Meski mereka “melunak” di batas akhir tenggat waktu FIFA untuk menyelesaikan dualisme kompetisi, hal itu tidak bisa serta merta dijadikan pembelaan semata di federasi tingkat dunia tersebut.

“Kita sudah berupaya semaksimal mungkin. Kasihan kami, kasihani PSSI ini. Kapan kita bisa bekerja atau menyelesaikan masalah. Ini kita yang legal, malah kita yang disalahkan,” kata anggota Komisi Strategi PSSI, Habil Maratti, menanggapi berbagai konflik yang terjadi di sepak bola Indonesia di Jakarta, Selasa (20/3/2012).

Sikap itu justru menimbulkan pertanyaan besar di masyarakat. Jika Djohar Arifin cs mempunyai niat luhur memperbaiki persoalan itu, kenapa tidak dari awal sejak FIFA memberikan ultimatum pada 2011 silam. Semenjak itu, publik sepak bola lebih disuguhkan drama politik ketimbang olahraga. Sepak bola tidak lagi ditentukan permainan 22 manusia untuk memperbutkan kemenangan dalam waktu 90 menit. Sebaliknya, sepak bola menjadi permainan dua kelompok untuk memperbutkan kursi kekuasaan.

Konflik dan prestasi

Melihat sejumlah fakta itu, jelas berbagai manuver yang dilakukan PSSI dan KPSI seperti berpegang teguh pada prinsip Sun Tzu, yaitu, “Jika Anda mengenal diri dan musuh Anda, Anda tidak akan kalah dalam 100 pertempuran”. Kedua pengurus itu telah mengenal baik kelemahan dan kekurangan satu sama lainnya, karena sebagian besar berisikan sejumlah mayoritas pendukung lama sepak bola Indonesia. Dendam lama antara kubu pendukung IPL dan ISL terus menjadi dan mengerucut pada perseteruan internal yang abadi.

Harusnya kedua pengurus itu sadar, bahwa Sun Tzu pun lebih memilih mengundurkan diri ketika mendapati persaingan internal. Menurut Sun Tzu, bagian terpadu dari kehidupan manusia yang antara satu manusia dengan manusia lainnya mempunyai kelebihan dan kekurangan yang berbeda, maka konflik akan datang silih berganti terus menerus dalam kehidupan. Karena itu jika konflik diteruskan, kelanjutnya pengaruh dari masalah tersebut dapat berakibat seperti efek domino atau terus membesar dan lama bahkan sanggup menimbulkan malapetaka.

Lihat saja bagaimana, kedua pengurus itu saat ini justru sama-sama melancarkan strategi “perang” mereka dengan gigih. Tidak ada upaya bersama untuk membangun sepak bola dengan hati. Malapetaka dari efek domino sikap tersebut itu sudah dapat ditebak, yakni keterpurukan prestasi. Kalau sudah begini, jelas pemain dan masyarakat lah yang menjadi korban, karena hanya sedikit cerita kesuksesan yang terjadi di lapangan. Bukannya disajikan pertarungan berkelas di lapangan, rakyat justru dibuat muak oleh pengurus sepak bola yang beradu sakti.

Jika saja kedua kubu bertikai itu sadar diri bahwa pekerjaannya adalah pengurus olahraga bukan politisi, sekelumit perseteruan dan konflik itu bisa menghasilkan hal positif. Misalnya, dengan menyalurkan gengsi Indonesian Premier League (IPL) dan Indonesia Super League (ISL) dalam satu format kompetisi resmi. Tim-timnya bisa diadu secara sehat.

Kedua kubu akan terpacu untuk meningkatkan kualitas kompetisi di lapangan demi gengsi dua kelompok besar sepak bola nasional. Para pecinta sepak bola juga akan terpuaskan dengan sajian perseteruan panas di lapangan dan bukan perang opini yang ditampilkan oleh para pemegang kursi kekuasaan sekarang.

Masyarakat juga nantinya tak perlu dirundung kekesalan lagi karena melihat tokoh KPSI dan PSSI berseteru di sejumlah media. Pada dasarnya, publik sepak bola hanya membutuhkan persaingan sehat di lapangan sepak bola selama 2×45 menit, bukan sejumlah intrik, dan manuver pertarungan politik.

Sanksi FIFA

Kalimat “memahami diri sendiri dan orang lain” dari Sun Tzu sepantasnya dicermati oleh sejumlah pengurus sepak bola nasional. Harusnya sejumlah pengurus itu paham dan sadar, bahwa dirinya adalah pamong olahraga bukan seorang politisi yang membuat hancur mimpi ratusan juta penduduk Indonesia.

Jika mereka tetep “kekeuh” dengan pendirian itu, tidak salah jika kini publik sepak bola tinggal menunggu reaksi FIFA, yang bukan tidak mungkin akan mengenakan sanksi bagi Indonesia. Bahkan, jika dicermati, kemungkinan terburuk sanksi itu bisa jadi ada berkah yang terbunyi bagi dunia sepak bola. Karena, inilah saatnya bagi pemerintah untuk membersihkan sepak bola nasional dari tangan orang yang tidak bertanggungjawab. Singkirkan para loyalis politik sepak bola yang sudah terjerat dalam pusaran kepentingan pengusaha A atau si B.

Satu hal yang perlu digarisbawahi saat ini adalah sepak bola bukan hanya milik pengurus, pengusaha, dan politisi sepak bola semata, tetapi milik seluruh pemain dan masyarakat Indonesia. Maka dari itu, pemerintah harusnya juga bisa mengambil ancang-ancang jika kemungkinan terburuk itu terjadi. Hal itu bisa dijadikan kesempatan untuk membumihanguskan parasit sepak bola Indonesia. Karena meskipun berjuta-juta kali Kongres Tahunan ataupun KLB dilaksanakan, akan tetap sia-sia jika dendam kedua pengurus itu tetap tercipta.

“Pemerintah jangan segan-segan intervensi karena kalau diserahkan kepada kedua pihak, tidak akan selesai-selesai. Toh sama saja, sama-sama dapat sanksi tetapi kalau pemerintah turun tangan, mudah-mudahan masalah dapat diselesaikan,” ujar mantan anggota Komite Normalisasi, FX Hadi Rudyatmo di Solo, Selasa (20/3/2012).

Meski demikian, sejatinya masyarakat memang tidak berharap tidak ada sanksi bagi Indonesia. Akan tetapi, tentunya ratusan juta pecinta sepak bola itu juga tidak rela jika ulah pengurus-pengurus itu pada akhirnya terus mengorbankan seluruh bangsa Indonesia. Masyarakat mulai jarang pula mendengar dengan kosa kata meraih prestasi, bangga mengangkat piala, serta harumnya nama Timnas Indonesia, dalam pemberitaan sepak bola nasional, yang ada hanya ratapan tangis pemain timnas karena kegagalan di sejumlah kejuaraan tingkat Asia maupun Dunia.

Karena itu, masyarakat akan lebih senang  jika sejumlah pengurus itu menjadi seorang Jenderal yang dapat membawa keindahan dalam berperang di lapangan hijau. Sangat picik dan berbahaya jika permainan indah itu dijadikan ajang perang politik yang selalu memakan korban. Keindahan berperang bukan untuk merusak, melainkan membangun untuk meraih kemenangan dan menjadi juara. Inilah sepak bola!

Seorang jenderal yang marah akan kalah. Kemarahan menciptakan kekacauan dan bahkan penderitaan yang lebih besar ketimbang semestinya, sementara pengendalian diri adalah aksi yang berbeda tetapi berkuasa. Jenderal sukses harus memiliki keterampilan yang luar biasa dalam mengatasi konflik itu dan memastikan yang terbaik bagi semua...” – Sun Tzu.

#Dimuat juga di Kompas.com

Advertisements