Eksotisme Ukiran Kayu Jati

Bongkahan kayu jati yang belum selesai pengerjaanya, di Jalan Raya Ngawi-Solo, km 16 Banjar Rejo, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Rabu (20/7/2011). Sebelum dibentuk,bongkahan kayu jati terlebih dahulu dipisahkan dari akar dan rantingnya. Kemudian diolah dengan cara diukir atau dipahat sesuai dengan bentuk yang diharapkan. -Kompas.com/Nurul Hidayat

Jika diolah, bongkahan kayu jati mempunyai nilai estetika yang tinggi. Jati (Tectona grandis) dapat dikreasi menjadi buah tangan yang sangat berharga di kota Ngawi, Jawa Timur.

Ketika Tim Gowes Jurnalistik: Pantau Mudik Jakarta-Surabaya 2011 melintas di Jalan Raya Ngawi-Solo, tepatnya di Kilometer 16 Banjar Rejo, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, terdapat sebuah galeri yang bernama Boga Jati. Di tempat itu, Anda akan tergoda dengan beraneka pahatan serta ukiran kayu jati yang ditawarkan.

Tim Gowes sempat mengunjungi galeri tersebut untuk memandangi satu persatu hasil kerajinan tangan dengan beraneka bentuk itu. Suvenir berupa gelas, asbak, guci, miniatur kapal, kuda, sepeda motor, hingga asbak rokok dapat ditemui di tempat tersebut.

“Ada juga beberapa perlengkapan perabot rumah tangga, seperti meja, lemari, dan kursi. Bisa juga model lain, tapi biasanya harus pesan dulu ke kita,” ujar Ibu Narko (47), pemilik galeri tersebut, Rabu (20/7/2011).

Beragam hasil olahan kayu jati tersebut dibuat para perajin setempat yang rata-rata diambil dari sekitar Desa Ngawi dan hutan Randu Blatung. Sebelum dibentuk, kata Ibu Narko, bongkahan kayu itu terlebih dulu dipisahkan dari akar dan rantingnya, kemudian diolah dengan cara diukir atau dipahat sesuai bentuk yang diharapkan.

“Biasanya kalau pesanan dengan ukiran yang rumit kita minta pemahat dari Jepara karena mereka lebih paham, dan ukirannya juga bagus-bagus,” ujarnya.

Ibu Narko menuturkan, untuk pemasaran ukiran-ukiran tersebut, dirinya masih bertumpu dari pengunjung yang kebetulan melintas di jalan raya yang penuh tikungan tersebut. “Dari situ biasanya mulut ke mulut, jadi tahu-tahu nanti ada yang nelpon untuk mesan dari daerah lain. Untuk daerah Ngawi juga banyak sih pesanannya,” kata ibu yang sudah memulai usahanya sejak 2005 ini.

Sementara itu, keuntungan usaha kayu jati ini pun bisa dibilang lumayan. Ibu tiga anak itu mengaku, dalam tiga bulan, ia bisa mengumpulkan keuntungan Rp 5 juta-Rp 7 juta. Menurutnya, walaupun hasil kayu jati di Ngawi sudah berkurang, hal tersebut tidak memengaruhinya untuk tetap berjualan.

“Biasanya satu pohon jati butuh waktu 12-13 tahun untuk tumbuh. Selain itu pengolahannya juga cukup rumit, jadi wajarlah kalau harga jualnya agak mahal karena kualitasnya juga sudah teruji,” tuturnya.

Suyatno (53), salah satu perajin asal Jepara di galeri tersebut, mengungkapkan, nilai lebih dari pohon jati adalah seluruh bagian dari pohonnya sangat kuat. Bahkan, dari gembol (akar) pun dapat diolah menjadi kerajinan yang juga mempunyai nilai jual sangat tinggi.

Gembol-nya itu justru paling kuat daripada batangnya. Apalagi, di bagian itu cukup dibiarkan natural saja jadi tidak perlu memahat susah-susah. Cukup dipelitur supaya lebih mengilap agar lebih bagus warnanya,” ujar Suyatno.

Bapak dua anak itu juga menuturkan, struktur kayu jati juga mempunyai daya tahan yang tinggi. “Kayu jati ini paling kuat, sampai tujuh turunan juga pasti masih awet dan mau direndam berapa tahun di laut juga tidak bakal busuk,” katanya.

-Dimuat di Kompas.com (Kamis-21/7/2011)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: