Semoga Saya Masih Kuat…

Perjuangan Sumarsih (59) dalam mencari keadilan perlu diacungi jempol. Wanita kelahiran Semarang tersebut dengan gigih memperjuangkan kematian anaknya, Bernardinus Realino Norma Irmawan atau Wawan, pada Tragedi Semanggi I, November 1998 silam.

Terhitung 12 tahun, semenjak kematian Wawan, dia terus memperjuangkan keadilan bersama suaminya, Arief Priadi, dan beberapa orangtua korban lainnya. Kamisan, acara rutin setiap hari Kamis sore, adalah salah satu cara yang dibuatnya untuk memperjuangkan keadilan bagi anaknya dan seluruh korban pelanggaran HAM di Indonesia.

Awalnya, ia menceritakan, akhir 2002-2003, hatinya tergugah atas tindakan pemerintah yang sama sekali tak menindak kasus kematian anaknya. Karena itu, ia mengajak dua orangtua korban lainnya, yakni Sumartini (Ibu Sigit Prasetyo, korban Semanggi I) dan Hu Kim Ngo (Ibu Yun Hap, korban Semanggi II) melakukan aksi diam dengan menyebarkan selembaran yang dituliskan protes-protes terhadap pemerintahan di Bundaran Hotel Indonesia (HI).

“Waktu itu, akhir tahun 2002, saya mengajak Ibu Sumartini dan Ibu Hu Kim Ngo untuk melakukan protes karena kasus kematian anak-anak tidak ada respons yang jelas dari pemerintah. Namun, karena mereka sakit, hal tersebut tidak jadi terealisasikan,” ceritanya kepada Kompas.com, di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (10/3/2011).

Setelah itu, hari demi hari dia jalani. Namun, yang dia rasakan hanyalah stagnasi dari pemerintah dalam penyelesaian kasus kematian anaknya.

Karena itu, pada periode 2005-2007, ia sering mengikuti rapat bersama Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK). Pada beberapa kesempatan dalam rapat tersebut, ia menyarankan membuat aksi seminggu sekali untuk mengenang seluruh korban pelanggaran HAM di Indonesia.

“Saat itu, saya mengusulkan agar melakukan aksi rutin seminggu sekali untuk mengenang korban pelanggaran HAM di Indonesia. Saya juga meminta saat itu, tiga orang saja yang bisa konsisten melakukan hal tersebut. Nah, saat itu Ibu Suciwati (istri alm Munir) dan Yati (aktivis Kontras) menyetujuinya, dan rencana tersebut terealisasikan,” kata Sumarsih. Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu datang.

Kamis (18/1/2007) silam, aksi Kamisan perdana dilaksanakan. Menurut Sumarsih, dia hanya enam kali melewatkan acara yang sudah berlangsung sebanyak 200 kali tersebut.

“Dari 200 kali aksi ini, saya hanya enam kali tidak hadir. Itu pun karena saya sedang di Timor Leste, Bali, Surabaya, dan dua kali saat saya menghadiri peringatan Wawan,” ucapnya.

Ketika ditanya, apakah sanggup untuk terus melaksanakan aksi tersebut karena sampai sekarang belum ada kejelasan dari pemerintah. Sumarsih berharap, dirinya masih diberi kekuatan untuk itu. Dia sangat berharap semoga tidak menunggu pemerintahan yang baru lagi. Artinya tidak menunggu pergantian presiden, tidak menunggu pergantian jaksa agung, dan tidak menunggu periode DPR yang baru agar kasus-kasus pelanggaran HAM, lalu korban semanggi I dan II ini, segera dapat dibawa ke pengadilan.

– Tulisan ini dimuat juga di Kompas.com (11/3/2011)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: