Suyatno duduk di pinggir jalan, diantara kebisingan kendaraan yang lalu lalang dan terik matahari Jalan Palmerah, Jakarta Barat. Kadang tatapannya kosong ke arah jalan raya yang ramai. Kemudian sesekali menghisap rokok kreteknya.

Kerutan di wajah laiknya gambaran keras kehidupan pria berumur 56 tahun itu.

Pria yang berprofesi sebagai tukang gorengan tersebut mengaku bahwa, dagangannya sering tidak habis terjual dalam satu hari.

“Ya, tergantung juga Mas, kalo lagi ramai saya bisa pulang ke rumah dengan uang yang cukup untuk makan anak dan istri. Kalau tidak, ya terpaksa cuma makan sisa gorengan ini saja,” ujar pria yang tinggal di pemukiman belakang Pasar Palmerah itu.

Kadang ia berjualan dari pagi sampai malam hari. Mencari rezeki di jalanan penuh debu, dan terik matahari.  Namun, ia tetap semangat membanting tulang demi menghidupi istri dan anak-anaknya

Suyatno dalam sehari hanya memperoleh keuntungan bersih kurang lebih 50 ribu. Uang jerih payahnya itu acap kali disisihkan untuk biaya sekolah empat anaknya.

“Alhamdulillah lah Mas, biar kerja kaya gini, masih bisa nyekolahin anak-anak sampai ada yang bisa lulus sekolah,” lanjutnya.

Tak jarang di tengah aktifitas pria asal Sumedang itu, berbagai ‘cobaan’ pernah menghampirinya. Ia pernah mengalami musibah saat melakukan pekerjaannya. Saat bersandar untuk beristirahat, gerobak gorengan miliknya ditabrak oleh motor yang sedang melintas.

Alhasil, wajan penggorengannya pun mental, dan minyak goreng panas di dalamnya mengenai sebagian tangan kiri pria itu. “Saya sempat bingung waktu itu untuk ngobati lukanya. Sekarang kan berobat ke dokter mahal. Dengan kondisi pas-pasan gini, mau makan apa anak-istri.” lanjut Suyatno.

Namun, pria renta ini tak putus asa. Luka pada tangan kirinya hanya dibalut dengan perban dan obat yang dibeli di warung pinggir jalan.

Tak peduli rasa sakit yang ia dapat dari musibah minyak goreng panas itu.

Ia tetap berjuang mengarungi terik matahari jalanan Ibukota hari demi hari yang penuh debu. Demi bertahan hidup dengan keluarga yang dicintainya.

Advertisements