Bocah lelaki berumur 11 tahun itu tampak gembira dengan bola sepak kulit baru yang  didapatnya. Senyuman teraut di wajahnya, ketika sang Ayah memberikan bola tersebut yang masih terbungkus rapih dengan jaring putih khas.

Itulah bola sepak kulit pertama yang dimilikinya. Bola plastik bolong dan pecah yang sering dimainkannya sudah usang dan tidak layak untuk dimainkan.

Sepulang sekolah, ia selalu memainkan si kulit bundar idolanya. Walaupun tak ada rekan maupun lawan, tidak menghalangi keinginannya untuk bercengkrama dengan benda kesayangannya tersebut.

Sejak berumur 8 tahun, ia tinggal dalam lingkungan salah satu pabrik besar di Utara Ibukota. Sesekali bocah berbadan gemuk itu bermain bersama penjaga-penjaga pabrik.

Hampir setiap petang tiba, keringat mengucur di tubuh anak itu dari aktivitasnya. Barisan tembok bangunan rumah adalah teman yang selalu setia menemaninya. Pantulan bola dari tembok, ia anggap sebagai sebuah umpan, atau hanya sekedar mengetes kemampuan tendangan saja.

Hampir 2 tahun bola sepak tersebut menjadi teman yang selalu menemani sore bocah itu. Sampai akhirnya suatu malam, ketika hendak menutup aktivitas. Sang Ayah mengatakan sesuatu yang membuat bocah itu kembali bersemangat seolah melupakan rasa lelah yang ia alami hari itu bersama bola sepak kesayangannya.

“Nanti Ayah masukin kamu ke sekolah sepak bola ya.” ucap sang Ayah.

Entah apa yang ada di pikiran sang Ayah. Namun, bocah itu kembali tersenyum riang. Seakan-akan ia mendapatkan apa yang selama ini ia impikan. Yaitu, menjadi pebola terkenal seperti bintang idolanya asal Inggris, David Beckham.

Senin, Rabu dan Jumat sore berubah menjadi waktu yang amat dinanti-nantikan oleh bocah itu. Sang Ibu dengan setia menemaninya menaiki bis kota mengarungi jalanan sore Ibukota yang padat untuk menuju ke salah satu stadion di Menteng.

Kurang lebih 3 bulan ia habiskan waktu untuk bermain, berlatih, dan bercanda dengan teman-teman barunya di Sekolah Sepak bola (SSB). Peluh keringat lelah karena menempuh jarak yang cukup jauh dari rumah dan sekolah sepak bola, tidak menghapuskan keasikannya di kala petang.

Pada Jumat sore yang seharusnya menjadi penutup minggu yang menyenangkan bagi bocah itu, berubah menjadi hari yang takkan pernah ia lupakan.

18 Februari 1999, sekitar pukul 19.30,  sepulangnya dari SSB bersama sang Ibu. Ia melihat kejanggalan. Dari kejauhan seperti terlihat bola sepak kesayangannya berada di tengah halaman luas, menyaru dengan gelap malam.

Dengan rasa penasaran, ia pun berlari menuju benda bulat itu. Alangkah terkejutnya ia, melihat bola sepaknya tidaklah kekar lagi. Kempes.

Bocah itu memungutnya dari tanah. Setelah itu ia terdiam, seperti mati sesaat. Air mata jatuh dari kelopak matanya yang merah karena debu jalanan.

Ia menunduk, sambil meraba irisan panjang yang hampir membelah bola sepaknya. Tak ada lagi senyum pada wajahnya.

****

(Cerita ini adalah pengalaman penulis ketika mempunyai bola sepak kulit pertama kali sewaktu kecil)

Advertisements